Konten dari Pengguna

Rekayasa Genetik: Antara Berkat atau Ancaman

Vincentius Bayu
Mahasiswa Magister Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma
6 November 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Rekayasa Genetik: Antara Berkat atau Ancaman
refleksi kritis tentang rekayasa genetik: antara solusi pangan dan ancaman bagi kemanusiaan dan kelestarian alam. Teknologi perlu dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan demi kebaikan bersama.
Vincentius Bayu
Tulisan dari Vincentius Bayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dunia dan menipisnya lahan pertanian, rekayasa genetik sering dianggap sebagai “penyelamat masa depan pangan”. Melalui teknologi rekayasa genetik, manusia dapat menyisipan gen dari suatu organisme ke organisme yang lain. Tujuan dari tindakan ini adalah agar organisme yang disisipi gen memiliki hasil yang lebih kuat, lebih cepat tumbuh, dan lebih tahan terhadap hama.
Ada beberapa tanaman yang telah menjadi objek rekayasa genetik, seperti jagung, kedelai, padi, hingga pepaya. Melalui rekayasa genetik semua bisa diubah di tingkat DNA agar mencapai efisiensi pangan global. Petani dapat hasil panen lebih cepat dan lebih banyak berkat kemajuan dalam rekayasa genetik ini.
Hal ini tentu, dapat memberikan dampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan pangan yang ada. Akan tetapi, di balik kemajuan yang ada, terdapat pertanyaan besar, yaitu sampai sejauh mana manusia boleh bermain sebagai “penguasa”?

Antara Kebutuhan dan Keserakahan

Perkembangan rekayasa genetik memang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Tanaman transgenik dapat meningkatkan hasil panen hingga mengurangi penggunaan pestisida. Akan tetapi, rekayasa genetik juga menyisakan permasalahan lain, yaitu ancaman akan monopoli dari perusahaan besar. Hal ini membuat petani kecil kehilangan kedaulatannya. Realitas ini menjadi ironi di mana teknologi yang awalnya dirancang untuk melawan kelaparan justru menciptakan ketimpangan baru.
Ilustrasi Pengelolaan Tanaman Rekayasa Genetik. Foto: Freepik

Risiko yang tak selalu terlihat

Di tengah tawaran yang menggiurkan dari rekayasa genetik terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai. Dari sisi kesehatan, tanaman transgenik juga menimbulkan kekhawatiran.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya kemungkinan efek alergi, toksik, bahkan resistensi antibiotik pada manusia. Selain itu, rekayasa genetik juga memiliki dampak pada lingkungan. Serbuk sari tanaman transgenik dapat bercampur dengan varietas alami. Hal ini tentu dapat mengancam keanekaragaman hayati dan menganggu tanaman asli yang ada di alam.

Suara Hati Nurani dan Tanggung Jawab Moral

Dalam kacamata etika, setiap kemajuan teknologi menuntut adanya tanggung jawab moral. Prinsip dasar bioetika menegaskan bahwa segala bentuk inovasi harus menghormati martabat manusia dan kelestarian alam. Ilmu pengetahuan merupakan suatu anugerah yang digunakan untuk kebaikan bersama, bukan alat dominasi atas ciptaan.
Rekayasa genetik dapat dilakukan, tetapi harus berorientasi pada bonum commune (kebaikan bersama). Teknologi ini layak dikembangkan jika benar-benar membantu kehidupan manusia dan tidak merugikan manusia, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
Dalam menghadapi kemajuan bioteknologi ini, prinsip kehati-hatian perlu menjadi panduan utama. Manusia jangan sampai terjebak pada logika efisiensi yang meniadakan etika. Teknologi yang tidak diimbangi dengan tanggung jawab moral bisa berbalik arah menjadi ancaman bagi kehidupan.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, akademisi, maupun pihak terkait untuk membangun dialog etis yang serius. Kita boleh terpukau dengan hasil panen melimpah, tetapi juga harus menimbang harga moral dan ekologis yang harus dibayar.
Dengan demikian, rekayasa genetik merupakan salah satu bentuk kreativitas manusia yang mencerminkan kecerdasan dan daya cipta ilahi. Akan tetapi, berhadapan dengan kemajuan ini manusia harus mengolahnya dengan bertanggung jawab. Teknologi harus diarahkan demi kebaikan bersama dan menjadi berkat bersama.
Jika teknologi justru digunakan demi keserakahan, ia bisa menjadi kutuk bagi manusia. Teknologi tidak ditolak, tetapi kita diajak untuk bertanggung jawab dan melakukannya dengan prinsip kehati-hatian. Martabat manusia dan penghargaan terhadap alam perlu menjadi pertimbangan utama dalam perkembangan
Trending Now