Konten dari Pengguna

Emosi Makin Tidak Stabil? Otak Manusia Ternyata Mengalami Perubahan Besar

Viola Aurelia Meidianty
Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya.
6 Desember 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Emosi Makin Tidak Stabil? Otak Manusia Ternyata Mengalami Perubahan Besar
Emosi meledak itu wajar. Otak kita bekerja ekstra menghadapi stres dan media cepat. Dengan memahami cara kerja emosi, kita bisa lebih tenang dan mengenali apa yang tubuh butuhkan. #userstory
Viola Aurelia Meidianty
Tulisan dari Viola Aurelia Meidianty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
IIlustrasi Emosi Tidak Stabil (Canva)
zoom-in-whitePerbesar
IIlustrasi Emosi Tidak Stabil (Canva)
Perasaan yang tiba-tiba meledak, suasana hati yang berubah cepat, atau rasa cemas yang datang tanpa alasan bukan sekadar drama sehari-hari. Banyak anak muda berada pada titik paling rentan secara emosional. Fenomena ini mendorong para peneliti untuk menelusuri apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak. Dunia neuroscience kini memberikan gambaran yang lebih jernih tentang mengapa emosi terasa semakin intens dan sulit ditebak.
Banyak orang tidak menyadari bahwa otak terus bekerja mengatur perasaan bahkan saat kita merasa baik-baik saja. Otak manusia berfungsi sebagai mesin emosional yang kemudian belajar berpikir. Emosi muncul dari reaksi biologis yang terjadi sebelum kita sempat menyadarinya. Afek hadir sebagai sensasi dalam tubuh yang memberi warna pada setiap pengalaman. Pikiran sering datang belakangan karena sistem emosional sudah lebih dulu menyalakan alarm bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Perubahan intensitas emosi yang banyak orang rasakan belakangan ini menunjukkan satu hal. Otak sedang bekerja lebih keras dalam menafsirkan sinyal dari lingkungan. Paparan informasi yang sangat cepat membuat sistem emosional bereaksi sebelum kita sempat mengendalikannya. Tubuh seolah memberi tahu bahwa ada sesuatu yang harus diwaspadai, sehingga emosi muncul sebagai respons alami untuk membantu kita menyesuaikan diri.
Hal yang jarang disadari adalah bagaimana otak membagi tugas antara bagian yang impulsif dan bagian yang rasional. Bagian dalam otak memiliki dua wilayah utama yang mengatur dinamika ini. Wilayah pertama berada di bagian yang lebih kuno dan responsif. Saat ada pemicu bahaya, tubuh dapat bereaksi spontan dengan jantung berdebar atau napas yang terengah.
Ilustrasi saraf otak. Foto: Andrii Vodolazhskyi/Shutterstock
Amigdala, hypothalamus, dan PAG memegang peran penting pada proses ini. Wilayah kedua berada di area otak yang lebih modern dan berfungsi melakukan penilaian. Prefrontal cortex dan cingulate cortex membantu menahan impuls agar tidak langsung berubah menjadi tindakan. Keseimbangan dua wilayah ini menentukan apakah seseorang tetap tenang atau dikuasai emosi.
Para peneliti juga mengenali adanya sistem emosi dasar yang menjadi fondasi cara manusia merasakan dunia. Ada dorongan untuk ingin tahu; ada rasa takut yang menjaga kewaspadaan; ada kemarahan yang muncul saat melihat ketidakadilan; ada kasih sayang yang mengikat hubungan; ada rasa kehilangan yang membuat seseorang mencari dukungan; ada gairah yang menghidupkan ketertarikan; ada kegembiraan yang mempererat relasi sosial. Setiap emosi memiliki jalur saraf dan zat kimia yang memicu pola reaksi tertentu sehingga setiap pengalaman terasa unik.
Keberagaman emosi dasar memperlihatkan betapa rumitnya cara otak membentuk pengalaman batin seseorang. Setiap sinyal emosional berfungsi seperti pesan khusus yang mengarahkan tubuh pada respons paling sesuai untuk situasi tertentu.
Ilustrasi Perempuan Emosional. Foto: Shutterstock
Emosi yang sering muncul akan memperkuat jalur saraf yang terkait, sehingga reaksi menjadi terasa lebih otomatis. Proses ini perlahan membentuk pola khas yang membuat pengalaman emosional setiap orang terlihat unik meskipun menghadapi pemicu yang serupa.
Otak manusia memiliki kepekaan tinggi terhadap hubungan sosial. Rasa sakit akibat penolakan atau pengabaian diproses melalui bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Tidak heran jika patah hati atau merasa dikhianati benar-benar terasa menyakitkan.
Dukungan hangat, kata apresiasi, atau sekadar diterima dalam suatu kelompok mampu mengaktifkan pusat penghargaan yang menimbulkan rasa nyaman. Otak manusia memang dirancang untuk hidup berdampingan. Hubungan sosial menjadi kebutuhan dasar yang memengaruhi stabilitas emosi.
Cara otak membaca keadaan sosial sangat menentukan apakah seseorang merasa aman atau justru terancam. Lingkungan yang tidak stabil dapat menguatkan sinyal emosional, sehingga reaksi menjadi lebih sensitif.
Ilustrasi otak manusia. Foto: Shutterstock
Tubuh berusaha menyesuaikan diri, sementara otak mencoba mencari titik seimbang antara kebutuhan bertahan dan kebutuhan untuk tetap menjalin hubungan. Emosi yang muncul sering kali mencerminkan proses adaptasi ini.
Setiap emosi membawa arah respons yang berbeda. Ada emosi yang mendorong seseorang maju menghadapi masalah. Ada yang memberi sinyal agar tubuh mundur dan menjaga diri. Rasa takut mempersiapkan tubuh untuk melarikan diri. Kesedihan membuat seseorang mencari tempat yang aman. Reaksi ini bukan hal acak. Ada mekanisme biologis yang mengarahkan otak memilih strategi terbaik untuk bertahan dalam berbagai situasi.
Tekanan hidup yang meningkat membuat sistem emosi bekerja lebih intens daripada biasanya. Paparan media sosial, tuntutan pencapaian, dan perubahan sosial yang cepat memaksa otak terus memproses rangsangan emosional tanpa jeda.
Bagian otak yang mengatur pengendalian diri bekerja keras menjaga keseimbangan. Banyak orang akhirnya mengalami kelelahan emosional, mudah tersinggung, atau sulit menjaga suasana hati. Kondisi ini bukan kelemahan pribadi. Otak sedang berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan yang semakin cepat.
Ilustrasi otak panas. Foto: Shutterstock
Perubahan yang terus berlangsung juga membuat otak lebih sensitif dalam menilai sinyal dari lingkungan. Sistem saraf harus menimbang apakah suatu rangsangan aman atau justru mengancam. Emosi bisa muncul lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak orang merasakan tekanan batin meski tidak menghadapi bahaya nyata. Otak sebenarnya sedang berupaya melindungi tubuh sekaligus mengikuti tempo hidup yang tidak memberi banyak ruang untuk tenang.
Pemahaman yang lebih dalam tentang emosi dan afek membantu seseorang melihat dirinya dengan lebih jujur. Setiap reaksi tubuh dan perubahan suasana hati memiliki dasar biologis yang bekerja di baliknya. Pengetahuan ini mendorong kita untuk memaknai emosi sebagai sinyal penting, bukan beban yang harus ditekan. Emosi memberi tahu apa yang sedang dibutuhkan tubuh.
Rangkaian temuan neuroscience menunjukkan bahwa emosi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Emosi membentuk cara seseorang menilai situasi, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Pemahaman emosi memberi ruang bagi seseorang untuk bertumbuh secara mental. Hidup menjadi lebih ringan ketika kita memahami bagaimana otak mengatur dinamika batin. Emosi yang dipahami dengan baik berubah menjadi kekuatan yang membantu, bukan hambatan. Memahami otak berarti memahami diri sendiri.
Trending Now