Konten dari Pengguna
Masa Depan Ekonomi Sirkular di Indonesia
21 Oktober 2021 12:48 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Masa Depan Ekonomi Sirkular di Indonesia
Di tengah isu penumpukkan limbah makanan di Indonesia, model ekonomi sirkular menjadi satu-satunya cara efektif untuk meminimalisasi limbah makanan tersebut. #userstoryWendi Wiliyanto
Tulisan dari Wendi Wiliyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Implementasi model ekonomi sirkular merupakan sebuah urgensi. Berdasarkan data yang diperoleh Bappenas melalui laporan singkat terkait Food Loss and Waste in Indonesia (2021), menyatakan bahwa terdapat 115-118 kg/kapita/tahun limbah makanan yang dihasilkan Indonesia. Dampak dari limbah makanan tersebut berimplikasi pada berbagai sektor kehidupan manusia. Pertama, tingginya produktivitas limbah makanan turut melanggengkan isu perubahan iklim. Dalam kurun waktu 20 tahun (2000-2019), Indonesia menghasilkan 1.702,9 mt COโ atau setara dengan 7.29% per tahun.
Kedua, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar 213-551 triliun dari tahun 2000-2019 akibat limbah makanan. Ketiga, limbah makanan yang dihasilkan oleh Indonesia berdampak pada isu ketimpangan pangan. Setidaknya, total limbah makanan dari tahun 2000-2019 dapat memberi makan kepada 61-126 juta penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa limbah makanan merupakan permasalahan krusial yang harus dihadapi secara kolaboratif, mengingat kompleksitas yang ditimbulkan.
Alih-alih terus berpusat pada model ekonomi linear yang menyebabkan penumpukan limbah makanan, ekonomi sirkular menjadi satu-satunya pilihan untuk mengurangi intensitas limbah makanan. Secara sederhana, ekonomi sirkular berupaya untuk memberantas limbah yang dihasilkan dari aktivitas produksi dan konsumsi. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan ulang limbah makanan menjadi produk yang bernilai guna. Berdasarkan laporan Bappenas yang berkolaborasi dengan Kedutaan Denmark di Jakarta (2021), setidaknya terdapat empat langkah strategis dalam mengurangi limbah makanan di Indonesia melalui model ekonomi sirkular.
Pertama, peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur penyimpanan hasil panen. Kedua, meningkatkan sarana transportasi, logistik, dan memperpendek rantai pemasok makanan. Ketiga, mengurangi limbah makanan akibat aktivitas konsumsi melalui penyediaan informasi dalam kemasan makanan. Terakhir, mendaur ulang limbah makanan menjadi energi alternatif maupun pupuk kompos. Pemanfaatan limbah makanan sebagai energi alternatif sudah dilakukan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya Bali dengan memanfaatkan minyak goreng sebagai energi alternatif untuk bus sekolah. Melalui keempat strategi tersebut, limbah makanan di Indonesia tentunya dapat diberantas.
Implementasi ekonomi sirkular di Indonesia merupakan kebijakan yang menjanjikan, mengingat nilai keberlanjutan yang dijunjung tinggi dalam model ekonomi ini. Ekonomi sirkular tidak hanya turut berkontribusi dalam meminimalisasi limbah makanan akibat aktivitas produksi dan konsumsi, tetapi juga berdampak positif pada pengurangan emisi karbon, peningkatan ekonomi Indonesia, serta mengurangi isu kelaparan. Hal ini akan berdampak pada pemenuhan poin pertama SDGs, yakni tanpa kelaparan. Peran pemerintah, stakeholders, dan masyarakat menjadi krusial untuk menjamin keberhasilan model ekonomi sirkular ini, mengingat relasi yang tercipta saling berhubungan.

