Konten dari Pengguna
Signifikansi Ekonomi Sirkular dalam Isu Ketimpangan Pangan
14 Oktober 2021 17:15 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Signifikansi Ekonomi Sirkular dalam Isu Ketimpangan Pangan
Pemanfaatan limbah makanan melalui prinsip reduce, recycle, dan recovering merupakan manifestasi model ekonomi sirkuler dalam memberantas ketimpangan pangan. #userstoryWendi Wiliyanto
Tulisan dari Wendi Wiliyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanpa disadari, setiap di antara kita merupakan subjek yang berkontribusi dalam praktik unsustainable economy. Membuang makanan, tanpa berpikir kritis terhadap dampak yang akan ditimbulkan merupakan salah satu manifestasi sederhana dari praktik unsustainable economy. Berdasarkan Food Waste Index Report (2021), setidaknya terdapat 20.983.252 ton limbah makanan rumah tangga yang dihasilkan oleh Indonesia.
Ironisnya, di saat yang bersamaan, Indonesia masih mengalami isu krisis pangan. Setidaknya sebanyak 19.4 juta jiwa tidak dapat memenuhi asupan dasar mereka dengan baik (World Food Programme, 2021). Hal ini secara eksplisit menunjukkan adanya ketimpangan terhadap aksesibilitas pangan di Indonesia.
Lebih lanjut, jumlah makanan yang terbuang seharusnya dapat membantu sebagian besar masyarakat kelas bawah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Relasi timpang yang terjadi ini akan tetap langgeng, apabila tidak ada kebijakan yang dapat mengakomodasi isu tersebut.
Implikasi limbah makanan terhadap berbagai aspek kehidupan
Lebih lanjut, upaya untuk mengakomodasi isu limbah makanan merupakan hal yang krusial, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan. Tanpa disadari, limbah makanan merupakan salah satu elemen yang turut menyebabkan isu perubahan iklim. Hal ini diakibatkan tingginya intensitas produksi karbon dioksida oleh limbah makanan tersebut. Setidaknya, 3.3 Gton jejak karbon dihasilkan dari proses produksi makanan dan limbah makanan. Hal ini secara eksplisit menempatkan limbah makanan sebagai penghasil karbon terbesar ketiga, setelah Cina dan Amerika Serikat (FAO, 2013).
Lebih lanjut, eksistensi isu perubahan iklim akibat karbon yang dihasilkan oleh limbah makanan berimplikasi pada penurunan kualitas dan kuantitas komoditas pangan, terutama komoditas agrikultur. Salah satu contoh konkret dapat dilihat melalui peningkatan temperatur dunia yang merusak pertumbuhan komoditas sayur dan buah-buahan (IPCC, n.d.). Hal ini akan mengurangi ketersediaan pangan, yang berimplikasi pada kelangkaan terhadap komoditas pangan.
Kelangkaan tersebut tentunya akan merusak produksi rantai makanan sehingga terjadi peningkatan harga pangan. Di sinilah ketimpangan hadir, di mana masyarakat kelas bawah tidak memiliki kapabilitas untuk mengakomodasi kebutuhan dasarnya. Oleh karenanya, limbah makanan merupakan salah satu masalah sosial yang perlu ditangani oleh Indonesia.
Ekonomi Sirkular: Implementasi sistem ekonomi yang berkelanjutan
Transformasi model ekonomi linear menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu langkah strategis dalam mengakomodasi isu ketimpangan pangan. Secara general, ekonomi sirkular dapat dipahami sebagai model ekonomi yang menekankan pada prinsip keberlanjutan dengan tujuan untuk meminimalisasi limbah dari proses produksi dan konsumsi. Ekonomi Sirkular dapat dilihat sebagai respons atas model ekonomi linear yang berbasis pada prinsip βtake, do, and disposeβ (Haman et al, 2021). Dalam konteks yang spesifik, ekonomi sirkular memastikan terjadinya transformasi food waste menjadi zero waste, yang berbasis pada prinsip reduce, recycle, dan recovering. Alih-alih apatis terhadap keberadaan limbah makanan, model ekonomi sirkular berusaha menciptakan sebuah siklus berkelanjutan untuk meminimalisasi dampak negatif yang disebabkan oleh limbah makanan.
Setidaknya terdapat dua strategi yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi isu limbah makanan. Pertama, pemanfaatan teknologi Anaerobic Digestion (AD) sebagai instrumen produksi energi berbasis pada limbah makanan. Anaerobic Digestion akan membantu terjadinya proses konversi limbah makanan menjadi biogas, yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif (Xu et al, 2018). Lebih lanjut, limbah makanan tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik sebagai instrumen peningkatan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian. Hal ini secara eksplisit akan menciptakan peluang terjadinya peningkatan ketersediaan pangan sehingga berimplikasi pada terbukanya aksesibilitas pangan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita menyadari urgensi implementasi ekonomi sirkular dalam menangani isu ketimpangan pangan.
Daftar Referensi
FAO. (2013). Food wastage footprint: Impacts on natural resources. https://www.fao.org/3/I3347e/I3347e.pdf.
Food Waste Index Report. (2021). https://www.unep.org/resources/report/unep-food-waste-index-report-2021.
Haman et al. (2021). Circular Economy Models in Agro-Food Systems: A Review. Sustainability,1-18. https://doi.org/10.3390/su13063453.
IPCC. (n.d.). Special Report on Climate Change and Land. https://www.ipcc.ch/srccl/chapter/chapter-5/.
Xu et al. (2018). Anaerobic digestion of food waste β Challenges and opportunities. Bioresource Technology, 1047-1058. https://doi.org/10.1016/j.biortech.2017.09.020.

