Karma

Ibu rumah tangga dan pemerhati pendidikan yang gemar menulis
Tulisan dari Wuryanti Sri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam sudah larut ketika bintang-bintang menampakkan pesona cantiknya di angkasa raya. Desir angin nan lembut berhembus tanpa suara menambah keheningan malam itu. Paduan suara jangkrik tidak terdengar lagi, mungkin sudah istirahat karena terlalu lelah menyanyi sejak sore hari. Dari kejauhan sesekali masih terdengar suara burung hantu yang membuat suasana agak mencekam menakutkan.
Jarum jam di dinding terlihat diam tak bergerak. Semalam serasa ribuan jam bagi Nurleni. Keinginan untuk lelap beberapa detik tak mampu ia lakukan. Sepanjang malam ia kehilangan kemampuan untuk menghentikan tangisnya usai membaca sebuah surat di gawainya. Seolah memiliki telaga air mata yang tak akan habis dikuras hanya dalam waktu semalam. Dadanya sakit, hatinya terluka oleh peristiwa yang ia yakini harus diterima. Karma.
*
Tumbuh sebagai gadis yang nyaris sempurna dengan kecantikan alami, Nurleni menjadi primadona di sebuah desa dekat pesisir pantai tempat ia tinggal. Ya, sebagai bunga desa yang ranum dan siapa pun ingin memetiknya. Bisa dibayangkan berapa ekor kumbang yang setiap saat menghampiri.
Bermodalkan wajah cantik, sexy, dan menarik dia pergi ke ibu kota bersama beberapa temannya untuk mencari pengalaman sekaligus mengadu nasib. Dia terobsesi dari teman-temannya yang telah lebih dulu pergi dan ternyata mereka menjadi orang yang berhasil.
Bagus, jejaka tampan gitaris sebuah grup musik dangdut yang menjadi kekasihnya selama ini ia tinggalkan begitu saja. Seolah di antara mereka sudah tidak ada tali cinta yang telah terajut hampir tiga tahun. Di saat cintanya tengah tumbuh subur, tiba-tiba harus berpisah hanya karena dia sebagai seorang seniman daerah yang penghasilannya tidak menentu. Bagus tidak bisa menerima diperlakukan seperti itu.
Tidak mudah hidup di ibu kota tanpa mempunyai ketrampilan dan ilmu yang cukup. Persaingan dalam mencari pekerjaan makin ketat. Memiliki ketrampilan tertentu akan lebih menolong dibandingkan hanya mengandalkan kecantikan fisik. Nurleni lupa bahwa ia ke ibu kota bermaksud mencari pekerjaan, harus berkompetisi di antara banyak orang dengan tingkat kecerdasan yang beragam.
Ternyata nasib baik masih berpihak pada Nurleni. Setelah beberapa kali jatuh bangun di kota Jakarta, ia dipersunting oleh seorang pengusaha kaya. Bergelimang harta membuat Nurleni benar-benar sudah lupa dengan si Bagus yang sengaja ia tinggalkan. Cita-citanya untuk menjadi nyonya kaya raya telah terkabul.
Namun ada hari yang tidak bisa dilupakan Bagus selama hidupnya. Hari ketika dia menyusul Nurleni ke ibu kota, bertemu dan ternyata Nurleni sudah bersuami. Heru, suami Nurleni yang notabene seorang pengusaha sukses tajir telah membuat Bagus tak punya nyali. Dengan langkah gontai dan lutut gemetaran ia pergi menjauh karena merasa kecil bagai debu di hadapan mereka berdua. Sakit? Yah, hati Bagus sakit tak terperi.
*
Dua puluh tahun tak ada komunikasi tiba-tiba hubungan Bagus dan Nurleni terjalin kembali setelah semuanya berubah drastis. Bagus hidup bahagia dengan istri dan putri semata wayangnya yang sudah menjadi wanita karier sukses dan disegani. Ironisnya Nurleni justru pulang kampung bersama keenam anaknya dan Heru yang dalam keadaan menderita stroke, sehari-hari di atas kursi roda tak berdaya.
Merawat enam anak di kampung setelah sekian lama hidup di kota dalam keadaan serba berkecukupan, sangatlah sulit bagi Nurleni. Anak-anak juga butuh waktu untuk beradaptasi menerima keadaan yang cukup membuat mereka terguncang. Sejak terserang stroke lima tahun lalu, Heru benar-benar tak mampu beraktivitas seperti dulu lagi. Melayani diri sendiri saja tidak mampu.
Sudah tak terhitung berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berobat Heru selama lima tahun terakhir. Dari sisa harta yang masih ada, Nurleni bersama putranya membuka usaha warung makan dan toko kelontong di kampung.
Aktivitas sehari-hari yang sangat meletihkan lahir batin, membuat Nurleni depresi. Berbagai perasaan negatif selalu menghantuinya setiap hari. Di puncak kepenatannya, hampir setiap saat dia menghubungi Bagus lewat WA. Berbagi cerita ringan dan kadang berkeluh kesah yang ia sampaikan pada Bagus, membuat hatinya lega, terhibur dan sejenak membuatnya bahagia.
Walaupun sesungguhnya hubungan mereka itu tidak bisa dibenarkan karena masing-masing sudah punya keluarga, tapi Nurleni tak mau ambil pusing, tak peduli. Setiap usai menelepon atau chatingan dengan Bagus selalu ada binar-binar ceria di matanya.
Merasa pernah dekat dan sadar bukan jodohnya, Bagus biasa-biasa saja dalam menanggapi Nurleni yang semakin sering menghubunginya. Apalagi ketika tahu kehidupan keluarga wanita itu sekarang dan yang lalu bagaikan langit dan bumi. Dari kata-kata yang disampaikan Nurleni padanya, tampak jelas bahwa wanita itu masih punya rasa seperti dua dekade silam.
Bagus hanya punya rasa iba, tidak lebih. Hampir setiap chat yang terkirim ia balas dengan menyelipkan nasehat-nasehat agar Nurleni fokus kepada suami dan anak-anak karena kondisi suami yang sedang sakit. Tiap dinasehati, bukannya berhenti tapi makin gencar menghubungi. Bagus sadar hubungan semacam ini harus segera diakhiri.
Setelah dipikir secara matang dan dewasa, berkomitmen pada kebenaran dan kesetiaan keluarga, diambillah sebuah keputusan. Bagus memblokir semua akses yang ada hubungannya dengan Nurleni. Ini harus dilakukan demi keselamatan keluarga masing-masing.
Nurleni hanyalah masa lalu. Jika saja Nurleni tahu, betapa ladang pahala terbentang luas di hadapannya. Ikhlas merawat suami yang lumpuh separuh tubuhnya adalah jihad sebagai isteri yang harus dijalani. Mendidik anak-anak dan memberi tauladan yang baik juga menjadi hal yang sangat penting agar kelak mereka menjadi insan-insan nan tangguh dan berkualitas.
*
"Setiap manusia yang lahir di dunia punya garis nasib yang masih misteri. Semua sudah tertulis jauh sebelum Allah menciptakan kita. Sudah menjadi suratan bahwa kita memang tidak berjodoh, terimalah. Rawatlah suamimu dengan segenap cinta dan kasihmu seperti dulu. Anak-anak sangat membutuhkanmu. Jadilah ibu yang bertanggung jawab dan istri yang selalu setya tuhupada suami apa pun keadaannya. Hubungan kita cukup sampai di sini."
Nurleni benar-benar lunglai usai membaca chat dari Bagus. Ia baru sadar, apa yang ia cari dari hubungan semacam itu? Tidak ada. Ia terlalu banyak berharap dengan dalih hatinya terhibur dan bahagia setiap kali mendengar suara Bagus di seberang. Bagus lebih memilih menyelamatkan anugerah yang telah Allah amanahkan kepadanya. Keluarga.
