Konten dari Pengguna
Jejak Perantau: Menjadi Minoritas di Daerah Non-Muslim dan Mayoritas di Jawa
27 Mei 2025 16:36 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Jejak Perantau: Menjadi Minoritas di Daerah Non-Muslim dan Mayoritas di Jawa
Pengalaman merantau ke Jember membuat saya sadar pentingnya toleransi. Hidup sebagai minoritas di Bali dan mayoritas di Jawa memberi pelajaran berharga tentang harmoni dalam keberagaman.Yasmin Nashwa Humaira
Tulisan dari Yasmin Nashwa Humaira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada suatu malam yang sejuk di kota Jember ,saya dan teman saya berjalan jalan sekitar alun alun pada tanggal 25 Mei 2025. Saat saya dan teman saya memutuskan untuk istirahat dan duduk di salah satu kursi di sana seseorang menyapa kita dengan niatan untuk menjual produknya, ternyata ia adalah salah satu mahasiswa UNEJ yang sedang menjalankan kegiatan penggalangan dana untuk kegiatan UKM yang ia ikuti. Basa basi pun dimulai saat kakak tersebut menanyakan tentang asal kami dan dari fakultas apa. Saat giliran saya menjawab dengan mengatakan asal saya dari bali kakak itu pun terkejut dan berkata βkenapa tidak mencari UNIV yang berada di bali saja ? kenapa memilih untuk merantau keluar dari pulau asalβ. Saya pun menjawab β alasan saya memilih untuk menempuh Pendidikan di jember adalah agar saya lebih dekat dengan keluarga serta saya ingin menjadi lebih mandiri dan mendapatkan pengalaman baru untuk tinggal dalam lingkungan yang berbedaβ.
Saat itupun sesuatu terlintas dibenakku suatu peristiwa yang serupa Dimana seorang ibu ibu yang menjual nasi kuning memulai bas abasi yang sama dengan menanyakan asal saya dari mana dan alasan mengapa saya lebih milih menempuh Pendidikan di luar kampung halaman. Tentunya banyak mahsiswa lain yang menjalani peristiwa yang serupa dimana mahasiswa itu merantau keluar dari kampung halaman demi Pendidikan ataupun pekerjaan. Ibu itu pun memberikan pertanyaan lanjutan dengan bertanya βDi Bali agama islamnya banyak tidak ? kalau yang agama islam disana boleh sholat jumat waktu nyepi?β Pertanyaan itu cukup mengejutkan sekaligus menyadarkan saya akan adanya rasa ingin tahu masyarakat luar Bali terhadap budaya dan toleransi beragama di daerah saya. Serta mengenai bagaimana pandangan penduduk atau masyrakat di Jawa mengenai budaya , kebiasaan ataupun kalangan mayoritas dan minoritas di Bali.

β experience is the best teacherβ kalimat ini menjelaskann bahwa pengalaman adalah guru terbaik sseseorang akan mendapatkan ilmu lebih ataupun pandangan yang jauh lebih terperinci mengenai suatu hal tersebut karena orang tersebut merasakan dan mengalami secara langsung. Sedangkan yang tidak memiliki pengalaman dalam hal atau bidang yang spesifik itu akan mencari tahu ataupun menggali informasi baik melalui wawancara kepada narasumber atapun mencari informasi tersebut di internet ataupun di buku.
Harmoni dalam Keragaman: Pengalaman Muslim di Pulau Dewata
Sebagai seorang perantau, saya melihat sendiri bagaimana persepsi ataupun pandangan masyarakat terhadap suatu daerah sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi atau ketiadaan pengalaman itu sendiri. Seperti Kalangan agama yang termasuk dalam kalangan minoritas ataupun mayoritas dalam suatu daerah tentunya berdampak dalam kehidupan mereka baik dalam segi material maupun non material namun dengan adanya toleransi dan saling tolong menolog maka kehidupan akan menjadi lebih ringan. Pengalaman saya tinggal dan hidup di Bali, umat Islam adalah minoritas, namun tetap dapat menjalankan ibadah dan kehidupan sosial dengan baik karena budaya toleransi yang tinggi. Perilaku nyata tolerasi antar agama adalah Pada tahun 2012 hari Raya Nyepi bertepatan dengan hari jumat,di mana umat muslim melaksanakan sholat jumat. Pemkot Denpasar merespon hal ini dengan menghimbau agar umat Hindu melaksanakan hari Nyepi secara khidmat dan tidak diperkenankan keluar rumah.
Umat yang beragama Islam pun di himbau agar tidak mengendarai kendaraan dengan keras keras saat pergi ke masjid dan saat melaksanakan sholat jumat pada waktu khutbah jumat berlangsung di sarankan untuk menggunakan pengeras suara yang ke dalam. Tidak hanya pada hari raya yang besar saja, toleransi antar umat beragama di Bali pun dapat dilihat pada kegiatan sehari hari. Seperti tradisi berbagi makanan antar agama Islam dan agama Hindu ataupun dengan menyapa sesame tetangga dan menghargai bahwa umat muslim tidak boleh bersentuhan tangan dengan yang bukan mahramnya. contoh lain adalah pada saat agama Islam melaksanakan Sholat Idul Adha atau Idul Fitri dan menutup jalan raya,agama agama lain tidak berisik dan dengan tenang memilih jalan lain untuk di lewati di arahkan oleh polisi dan pecalang yang bertugas.
Kisah Umat Islam sebagai Mayoritas: Dinamika Kehidupan Agama di Jawa
Selama saya merantau ke pulau jawa saya dapat merasakan banyak perbedaan di sekitar saya baik budaya, adat, perilaku ataupun kebiasaan di bandingkan dengan rumah saya di Bali. Menjadi bagian dari agama islam yang menjadi penduduk mayoritas di pulau jawa memberi dampak pada pembiasaan setempat. Seperti salah satu contohnya adalah saat melaksanakan upacara bendera pada sesi pembacaan doa, petugas upacara membacakan doa dengan agama Islam dan agama lain menyesuaikan dengan membaca doa di dalam hati. Sedangkan saat saya tinggal di bali pada saat upacara bendera doa dibacakan menurut agama Hindu dan agama lainnya menyesuaikan.
Selama saya menempuh pendididkan di Universitas Jember saya mulai mencari informasi mengenai berbagai organisasi yang dapat saya ikuti untuk mengembangkan minat dan bakat saya. Saya mendapatkan informasi menarik bahwa Himpunan Mahasiswa English Student Association (HMP ESA) dalam divisi agama tersusun dari berbagai anggota yang beragama Islam. Apakah hal ini di pengaruhi oleh sedikitnya mahasiswa yang beragama non muslim ataukah hal ini di karenakan beberapa mahasiswa yang non muslim lebih memilih mencalonkan diri dalam divis divisi selain divisi agama.
Kesimpulannya adalah, pengalaman merantau saya ini bukan hanya memperkaya diri saya secara akademik, tetapi juga membentuk saya menjadi pribadi yang lebih terbuka, toleran, berpendidikan dan mampu menjembatani pemahaman lintas budaya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dirawat dan dihargai bersama.

