Konten dari Pengguna

Phuket: Surga Wisata yang Tertekan Overtourism

Yennielda Linovi Kobba
Mahasiswa Universitas Bosowa, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional.
4 Januari 2026 14:22 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Phuket: Surga Wisata yang Tertekan Overtourism
Artikel ini mengkaji overtourism di Phuket yang memicu krisis daya dukung lingkungan dan sosial meski menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi.
Yennielda Linovi Kobba
Tulisan dari Yennielda Linovi Kobba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pariwisata telah berkembang menjadi salah satu sektor ekonomi global yang paling dinamis dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta pembangunan wilayah. Namun, ekspansi pariwisata yang tidak diimbangi dengan perencanaan dan pengelolaan yang berkelanjutan justru dapat memunculkan berbagai permasalahan struktural. Salah satu isu paling menonjol dalam diskursus pariwisata global kontemporer adalah fenomena overtourism.
Sumber foto : Penulis. Ilustrasi Overtourism
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto : Penulis. Ilustrasi Overtourism
Overtourism merujuk pada kondisi ketika jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi melampaui daya dukung lingkungan, sosial, dan infrastruktur, sehingga menurunkan kualitas hidup masyarakat lokal serta kualitas pengalaman wisata itu sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga semakin sering ditemukan di negara berkembang yang menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan ekonomi. Phuket merupakan contoh nyata destinasi wisata yang menghadapi dilema antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan. Sebagai pulau wisata utama Thailand, Phuket sangat bergantung pada sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan daerah dan lapangan kerja. Pascapandemi COVID-19, kebangkitan pariwisata global membawa lonjakan kunjungan wisatawan ke Phuket dalam skala yang sangat besar.
Data menunjukkan bahwa dalam periode Januari–Mei 2025, Phuket menerima sekitar 5,8 juta wisatawan dengan pendapatan pariwisata mencapai 220 miliar baht. Hingga Agustus 2025, jumlah wisatawan meningkat menjadi 9,25 juta orang, dengan pendapatan lebih dari 355,53 miliar baht. Meskipun angka tersebut mencerminkan keberhasilan ekonomi, lonjakan wisatawan juga membawa dampak negatif yang semakin terasa. Tekanan terhadap lingkungan pesisir, krisis pengelolaan sampah, kemacetan lalu lintas, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat lokal menunjukkan bahwa Phuket menghadapi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan pariwisata. Oleh karena itu, artikel ini berfokus pada dua pertanyaan utama: Sejauh mana kebijakan parawisata berkelanjutan tersebut efektif dalam menekan dampak overtourism di Phuket, dan bagaimana pendekatan sustainability dapat digunakan sebagai kerangka untuk mengatasi permasalahan tersebut ?
Pembahasan dan Analisis
Fenomena overtourism di Phuket tercermin dari tingginya intensitas kunjungan wisatawan yang tidak sebanding dengan kapasitas fisik dan sosial pulau tersebut. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk menilai tingkat overtourism adalah rasio wisatawan terhadap penduduk lokal. Phuket pernah dikategorikan sebagai salah satu destinasi paling over-touristed di dunia dengan estimasi rasio sekitar 118 wisatawan per satu penduduk, meskipun angka ini masih diperdebatkan karena persoalan metodologi pencatatan penduduk. Namun demikian, perdebatan tersebut tidak meniadakan fakta bahwa tekanan wisata terhadap ruang hidup masyarakat lokal sangat tinggi.
Dari perspektif lingkungan, dampak overtourism paling nyata terlihat pada persoalan pengelolaan limbah. Reuters melaporkan bahwa Phuket menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari, sebagian besar berasal dari aktivitas pariwisata, hotel, restoran, dan pembangunan infrastruktur pendukung. Volume sampah yang besar ini telah melampaui kapasitas pengelolaan limbah setempat, sehingga meningkatkan risiko pencemaran tanah, air, dan laut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur lingkungan. Selain itu, tekanan terhadap sumber daya air bersih dan kawasan pesisir juga semakin meningkat. Aktivitas pariwisata massal, terutama pada musim puncak, menyebabkan konsumsi air yang tinggi oleh hotel dan resort, sementara masyarakat lokal harus bersaing untuk mendapatkan akses air bersih. Hal ini menciptakan ketegangan sosial dan memperkuat kesenjangan antara kepentingan industri pariwisata dan kebutuhan masyarakat lokal.
Dampak Sosial-Ekonomi Overtourism
Dari sisi sosial, overtourism di Phuket mendorong perubahan fungsi ruang publik dan komersialisasi kawasan hunian. Banyak wilayah yang sebelumnya digunakan sebagai ruang hidup masyarakat lokal kini beralih menjadi kawasan wisata, hotel, dan fasilitas hiburan. Proses ini meningkatkan harga tanah dan biaya hidup, sehingga sebagian masyarakat lokal terpaksa berpindah ke wilayah pinggiran. Secara ekonomi, pariwisata memang menjadi sumber pendapatan utama Phuket. Namun, manfaat ekonomi tersebut tidak selalu terdistribusi secara adil. Sebagian besar keuntungan pariwisata dinikmati oleh investor besar dan perusahaan multinasional, sementara masyarakat lokal sering kali hanya memperoleh manfaat tidak langsung atau pekerjaan berupah rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak otomatis menjamin kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.
Pendekatan Sustainability sebagai Kerangka Teoretis
Untuk menganalisis fenomena overtourism, artikel ini menggunakan pendekatan sustainable tourism sebagaimana dirumuskan oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO), yang memaknai pariwisata berkelanjutan sebagai pengelolaan pariwisata yang menyeimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan demi memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Pendekatan ini relevan dengan kondisi Phuket yang pada periode 2024–2025 tercatat sebagai salah satu destinasi wisata paling padat di dunia. Dari sekitar 35 juta wisatawan internasional yang datang ke Thailand, lebih dari sepertiganya memilih Phuket sebagai tujuan utama.
Selain itu, pada lima bulan pertama tahun 2025 jumlah kunjungan wisatawan ke Phuket telah mencapai sekitar 2,4 juta orang, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sehingga tekanan terhadap daya dukung wilayah semakin besar. Dari sisi keberlanjutan lingkungan, overtourism di Phuket tercermin dari krisis pengelolaan sampah dan tekanan terhadap ekosistem pesisir. Produksi sampah harian dilaporkan mencapai 1.000–1.400 ton per hari, jauh melampaui kapasitas fasilitas pengolahan limbah yang tersedia. Sebelum lonjakan pariwisata pascapandemi, produksi sampah harian masih berada di bawah 800 ton, namun meningkat tajam seiring pemulihan dan ekspansi sektor pariwisata. Keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir dan insinerator menyebabkan penumpukan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan, menandakan belum terpenuhinya pilar keberlanjutan lingkungan.
Secara sosial, lonjakan wisatawan menimbulkan tekanan serius terhadap infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan transportasi yang awalnya dirancang untuk populasi lokal. Dampaknya berupa kekurangan air, kemacetan, dan penurunan kualitas layanan publik, terutama pada musim puncak wisata. Kondisi ini juga memperlihatkan ketimpangan relasi kuasa antara industri pariwisata skala besar dan masyarakat lokal, di mana kebijakan pariwisata cenderung lebih menguntungkan pelaku industri dibandingkan komunitas setempat. Fenomena ini sejalan dengan temuan UNWTO yang menyebutkan bahwa overtourism kerap ditandai oleh rendahnya partisipasi masyarakat lokal serta distribusi manfaat ekonomi yang tidak merata.
Dari perspektif ekonomi, pariwisata merupakan tulang punggung perekonomian Phuket dengan pendapatan yang diperkirakan mencapai sekitar 500 miliar baht pada tahun 2025. Namun, ketergantungan pada pariwisata massal berbasis volume juga menciptakan kerentanan jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan sustainable tourism mendorong pergeseran menuju quality tourism, yakni model pariwisata yang menekankan peningkatan nilai ekonomi per wisatawan melalui pengalaman yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal.
Sumber foto : Penulis, Tabel. Indikator Overtourism di Phuket dan Interpretasinya (2025)
Penutup
Fenomena overtourism di Phuket menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi pariwisata Thailand belum diiringi oleh tata kelola yang berkelanjutan. Pemerintah Thailand masih menempatkan pertumbuhan pariwisata berbasis volume sebagai prioritas utama, sementara pengendalian daya dukung lingkungan, kesiapan infrastruktur, dan perlindungan kesejahteraan masyarakat lokal cenderung terabaikan. Kondisi ini tercermin dari krisis pengelolaan sampah, tekanan terhadap sumber daya air, serta meningkatnya ketimpangan antara kepentingan industri pariwisata dan komunitas lokal. Oleh karena itu, sustainable tourism harus dijalankan secara substantif, bukan sekadar normatif.
Pemerintah Thailand perlu menerapkan pembatasan jumlah wisatawan berbasis daya dukung, memperkuat investasi pada infrastruktur lingkungan, menggeser orientasi kebijakan dari pariwisata massal menuju quality tourism, serta memastikan keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam tata kelola pariwisata. Tanpa perubahan kebijakan yang tegas, pariwisata Phuket berisiko mengalami degradasi lingkungan dan krisis sosial yang mengancam keberlanjutan jangka panjang.
Trending Now