Konten dari Pengguna

Saat Kata Kata Menjadi Ruang Aman

Yeona Arsilenda
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
16 Januari 2026 22:26 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Kata Kata Menjadi Ruang Aman
Menulis dapat menjadi ruang aman untuk memproses emosi dan pengalaman traumatis yang sulit diucapkan.
Yeona Arsilenda
Tulisan dari Yeona Arsilenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://www.pexels.com/id
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.pexels.com/id
Mengapa Menulis Sering Disarankan bagi Mereka yang Menyimpan Trauma
Trauma tidak selalu hadir sebagai cerita yang jelas. Ia sering muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan, emosi yang datang tanpa sebab yang pasti, atau ingatan yang terasa kabur namun menekan. Banyak orang yang menyimpan trauma merasa ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Dalam kondisi seperti ini, menulis kerap disarankan. Bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai cara paling dasar untuk memberi ruang pada pengalaman batin yang selama ini tertahan.
Ketika bicara terasa mustahil
Secara psikologis, orang dengan trauma yang belum terselesaikan kerap mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pengalaman mereka secara verbal. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena sistem emosi dan ingatan bekerja secara terfragmentasi. Saat diminta bicara, pikiran bisa mendadak kosong, atau justru terasa terlalu penuh.
Sejumlah kajian psikoterapi menunjukkan bahwa menulis memberikan jalur alternatif bagi ekspresi emosi. Berbeda dengan bicara, menulis tidak menuntut respons langsung, tidak memerlukan kontak sosial, dan tidak memicu kecemasan akan penilaian orang lain. Inilah yang membuatnya terasa lebih aman bagi banyak penyintas trauma.
Menulis sebagai proses mengurai emosi
Dalam literatur psikologi, praktik ini dikenal sebagai expressive writing atau therapeutic writing. Menulis dipahami bukan sekadar aktivitas kreatif, tetapi sebagai proses emosional dan kognitif.
Saat seseorang menuliskan pengalamannya, ia secara perlahan:
• Memberi bentuk pada emosi yang sebelumnya abstrak
• Menghubungkan potongan ingatan menjadi narasi
• Mengurangi tekanan mental yang muncul akibat emosi yang ditekan
Jurnal psikoterapi kontemporer menjelaskan bahwa menulis membantu proses emotional processing dan cognitive processing, dua mekanisme penting dalam pemulihan trauma. Dengan kata lain, menulis membantu otak melakukan pekerjaan yang selama ini tertunda.
Dari pengalaman kacau menjadi cerita yang bisa dihadapi
Trauma sering membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas kisah hidupnya sendiri. Peristiwa traumatis terasa seperti sesuatu yang terus terjadi di luar kendali, bahkan setelah peristiwa itu berlalu.
Menulis membantu membalik posisi tersebut. Ketika pengalaman dituangkan ke dalam tulisan, individu tidak lagi hanya menjadi korban kejadian, tetapi juga menjadi pencerita. Ia memilih kata, menentukan sudut pandang, dan memberi makna. Proses ini penting karena makna adalah salah satu kunci pemulihan psikologis.
Dalam kajian psikologi naratif, kemampuan membangun cerita tentang diri sendiri dipandang sebagai bagian dari rekonstruksi identitas setelah trauma.
Aman bagi mereka yang belum siap menjalani terapi
Tidak semua orang siap atau mampu langsung mengakses bantuan profesional. Ada yang masih takut, ada yang belum punya ruang aman, ada pula yang belum bisa mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia rasakan.
Menulis sering direkomendasikan sebagai langkah awal karena dapat dilakukan secara mandiri dan fleksibel. Jurnal psikoterapi mencatat bahwa menulis bisa berdiri sendiri atau berfungsi sebagai pelengkap terapi. Bagi sebagian orang, tulisan justru menjadi jembatan untuk akhirnya berani mencari bantuan lebih lanjut.
Menulis tidak harus indah
Salah satu hambatan terbesar dalam menulis sebagai terapi adalah anggapan bahwa tulisan harus rapi, puitis, atau bermakna. Padahal, dalam konteks psikologis, yang terpenting bukan keindahan, melainkan kejujuran.
Tulisan boleh berantakan. Kalimat boleh terputus. Emosi boleh tumpah tanpa struktur. Menulis untuk pemulihan tidak ditujukan untuk dibaca orang lain, melainkan untuk memberi tempat bagi diri sendiri.
Ketika makna mulai tumbuh perlahan
Penelitian juga menekankan bahwa manfaat menulis tidak selalu muncul seketika. Ada kalanya menulis terasa berat, bahkan memicu emosi yang intens. Namun, dalam jangka waktu tertentu, proses ini membantu individu membangun pemahaman baru tentang pengalamannya.
Bukan berarti trauma menghilang, tetapi hubungan seseorang dengan traumanya berubah. Dari sesuatu yang terus menghantui, menjadi bagian dari perjalanan hidup yang diakui keberadaannya.
Luka yang diakui tidak lagi sendirian
Menulis tidak menjanjikan kesembuhan total. Ia tidak menggantikan dukungan profesional. Namun, menulis menawarkan sesuatu yang sangat mendasar: pengakuan.
Ketika seseorang berani menuliskan lukanya, ia sedang mengatakan pada dirinya sendiri bahwa pengalamannya valid. Bahwa rasa sakitnya layak mendapat ruang. Dan bahwa ia tidak perlu terus menyimpannya dalam diam.
Referensi
Ruini, C., & Mortara, C. C. (2022). Writing technique across psychotherapies: From traditional expressive writing to new positive psychology interventions: A narrative review. Journal of Contemporary Psychotherapy, 52, 23-34. https://doi.org/10.1007/s10879-021-09520-9
Trending Now