Konten dari Pengguna
Remaja Nakal adalah Cerminan dari Masyarakat: Benarkah?
23 Mei 2025 15:52 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Remaja Nakal adalah Cerminan dari Masyarakat: Benarkah?
Perilaku remaja tidak muncul begitu saja di ruang hampa, melainkan hasil dari proses tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan sosial-kultural yang kompleks, yaitu masyarakat.Yoga Maulana
Tulisan dari Yoga Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena kenakalan remaja, seperti tawuran fisik hingga konten viral yang aneh-aneh, memang tak ada habisnya untuk jadi bahan pikiran. Setiap kali ada kasus mencuat, selalu muncul respon seragam: "Apa yang salah dengan anak-anak ini?". Kemudian di tengah kekhawatiran yang tidak ada habisnya, muncul lah wacana yang cukup nyentrik, bahkan telah mulai diterapkan di beberapa tempat, yaitu mengirim remaja "bermasalah" ke barak militer atau pesantren kilat ala militer.
Sekilas ide ini memang terasa unik dan menjanjikan. Bayangkan, disiplin ala militer, bangun pagi, baris-berbaris, mungkin sedikit hukuman fisik yang "mendidik" agar para abege kapok berbuat onar. Terasa bahwa solusi ini hadir bagaikan ābeli es krimā di siang bolong, tidak selalu terpikirkan tapi ternyata menggiurkan. Sebagian kaum remaja yang awalnya akrab dengan stigma "biang onar" dibayangkan bisa berubah menjadi anak-anak kebanggaan bangsa yang patuh dan berwibawa. Sebuah skenario yang sangat ajaibābegitu eksotis untuk disiarkan di mana-mana.
Namun, bagaimana bila sejenak kita menekan tombol āpauseā pada skenario tentang solusi instan ini?. Apakah "karantina militer" ini benar-benar menyentuh akar masalah kenakalan remaja, atau hanya seperti menambal genteng bocor dengan permen karet?
Coba bayangkan, jika ada air di sebuah sumur keruh, apakah kita hanya akan membersihkan embernya saja, lalu berharap air yang diambil tetap jernih?. Kekeruhan air itu adalah hasil dari kondisi sumur itu sendiri, begitu pula dengan remaja. Kenakalan yang mereka tunjukkan seringkali adalah gejala, bukan akar masalah. Gejala dari kondisi "sumur" masyarakat yang mungkin sedang tidak baik-baik saja (lingkungan yang kurang suportif, tekanan ekonomi, tren pergaulan yang salah, pola asuh yang kurang tepat, atau bahkan sistem yang cenderung abai).
Mengirim remaja ke barak militerātanpa mengurangi rasa cinta tanah air, kemungkinan hanya akan mendorong masalah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mungkin akan patuh selama di bawah pengawasan senapan dan peluit lapangan. Tapi begitu kembali ke "sumur" yang sama, dengan kondisi sosio-kultural yang belum berubah, apa jaminan bahwa perilaku "disiplin" itu akan bertahan? Prof. Sarlito mungkin akan menghela napas, sebab psikologi remaja lain rumitnya dibandingkan baris-berbarisāSiap grak! Sikap tobat!.
Tidak bisa dipungkiri hingga saat ini, ide mengirim remaja bermasalah ke barak militer punya daya tarik tersendiri. Ada kesan "tegas" dan "fresh" dari pihak pengambil kebijakan. Masyarakat pun mungkin merasa puas melihat akhirnya ada tindakan nyata, apalagi jika visualnya bisa diabadikan dalam bingkai yang menyenangkan bagi konsumsi publik. Sebuah prestasi yang akan selalu disebut-sebut.
Namun, pertanyaan sesaat nya adalah: apakah kita membutuhkan solusi instan yang "menarik", atau hidup seterusnya yang benar-benar mengubah? Jika kenakalan remaja adalah cerminan dari kondisi sosio-kultural masyarakat, maka seharusnya fokus utama kita adalah menguras "sumur" itu sendiri.
Terdapat upaya-upaya yang juga perlu digencarkan bersama ide skenario ini:
Mengirim remaja ke barak militer mungkin tampak seperti tawaran untuk "menyelesaikan" masalah kenakalan remaja yang selama ini meresahkan banyak warga. Ide ini bukanlah tawaran yang sepenuhnya salah dan tidak patut untuk dicobaābanyak kenakalan remaja yang membuat tidur warga selama ini tidak tenang. Tapi, jika kita tak mau melihat lebih dalam dan mengakui bahwa masalah ini juga dihasilkan dari diri kita sebagai masyarakat, maka kita mungkin hanya akan sibuk mengobok-obok sumur, tanpa pernah benar-benar membersihkan semua yang ada di dalamnya.
Referensi:
Sarwono, S. W. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

