Konten dari Pengguna
Makna Psikologis Al-Fatihah dan Konsep “Legawa” dalam Psikologi Jawa
24 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Makna Psikologis Al-Fatihah dan Konsep “Legawa” dalam Psikologi Jawa
Artikel ini mengulas tema psikologis dalam Q.S. Al-Fatihah dan menghubungkannya dengan makna “legawa” sebagai konsep psikologi indigenous Jawa.Samantha Cahyadi
Tulisan dari Samantha Cahyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai umat muslim, kita tentu sangat familiar dengan surah Al-Fatihah. Surah pembuka Al-Qur’an ini kita baca setiap hari ketika melaksanakan shalat, dan sering pula dilantunkan dalam doa untuk menghadirkan rasa tenang serta kedekatan dengan Allah SWT. Apabila kita menelaah setiap ayatnya, tampak bahwa Al-Fatihah tidak hanya memuat ajaran teologis, tetapi juga mengandung banyak makna yang berkaitan dengan proses psikologis manusia.
Surah Al-Fatihah menegaskan bahwa segala puji dan kendali atas kehidupan berada di tangan Allah (ayat 1–3), bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya (ayat 4), serta bahwa bentuk penghambaan yang sehat adalah menggabungkan ibadah dengan memohon pertolongan kepada Allah (ayat 5). Selain itu, manusia diajak untuk senantiasa memohon bimbingan menuju jalan yang lurus (ayat 6–7).
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, ayat-ayat tersebut mengarahkan manusia untuk:
1. Menyadari keterbatasan diri,
2. Menenangkan diri melalui rasa syukur,
3. Berserah tanpa kehilangan usaha, dan
4. Mencari makna serta arah hidup.
Semua proses ini berkaitan erat dengan regulasi emosi, penerimaan diri, dan pembentukan makna hidup.
Makna psikologis Al-Fatihah tersebut memiliki hubungan yang menarik dengan konsep “legawa” dalam budaya Jawa. Dalam KBBI, legawa diartikan sebagai kemampuan menerima keadaan dengan tulus, ikhlas, dan rela. Namun, bagi masyarakat Jawa, legawa bukan sekadar “tenang” karena tidak ada yang dikhawatirkan. Legawa menyentuh dimensi kejiwaan, filsafat, serta keyakinan: seseorang dianggap legawa ketika ia menerima kenyataan dengan hati lapang, setelah berusaha dan berdoa, lalu mempasrahkan hasil akhirnya kepada ketentuan Allah SWT.
Dengan demikian, legawa bukan pasif atau menyerah, melainkan sikap batin yang menggabungkan:
1. Usaha yang maksimal,
2. Kesadaran akan keterbatasan manusia,
3. Penerimaan yang ikhlas, dan
4. Kepercayaan bahwa hidup berada dalam bimbingan Tuhan.
Sikap ini sejalan dengan pesan utama Q.S Al-Fatihah, yaitu mengandalkan Allah tanpa melepaskan tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, konsep legawa dalam psikologi indigenous Jawa dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan aktif (active acceptance) yang menolong individu mengelola kecemasan, menjaga ketenangan batin, dan tetap memiliki harapan dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep legawa sering muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang berada di luar kendalinya. Misalnya ketika mengalami kegagalan, kehilangan, atau perubahan besar yang tidak diharapkan. Membaca dan memaknai Al-Fatihah dalam kondisi tersebut membantu individu menenangkan diri, menyadari batas kemampuannya, serta mengalihkan fokus dari kecemasan berlebihan menuju kepercayaan bahwa segala sesuatu berada dalam pengaturan Allah. Dari sudut pandang psikologi, mekanisme ini berfungsi seperti proses coping religius positif, yaitu cara menghadapi masalah melalui makna, doa, dan penerimaan yang sehat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ajaran dalam Q.S Al-Fatihah memiliki hubungan yang kuat dengan konsep legawa dalam psikologi indigenous Jawa. Keduanya menekankan keseimbangan antara ikhtiar dan kepasrahan, antara tanggung jawab pribadi dan kepercayaan kepada Tuhan. Sikap batin seperti ini membantu individu menjaga ketenangan, mengurangi tekanan psikologis, serta tetap memiliki arah dalam hidup. Kajian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan keagamaan lokal sesungguhnya menyimpan kerangka berpikir psikologis yang kaya dan relevan untuk dipahami dalam konteks ilmiah.

