Konten dari Pengguna
Mengapa Cinta Terasa Seperti Obat
20 Oktober 2025 14:23 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Cinta Terasa Seperti Obat
Jatuh cinta menyalakan otak, patah hati meredupkannya. Sebuah perjalanan ilmiah dan emosional memahami cinta sebagai simfoni otak. Samantha Cahyadi
Tulisan dari Samantha Cahyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah Tinjauan Biopsikologi Tentang Hasrat dan Rasa Sakit

Saat kita sedang jatuh cinta, tubuh kita menjadi seperti ladang badai listrik. Perut terasa berputar, telapak tangan berkeringat, dan detak jantung berdegup kencang seolah kita sedang berlomba lari dengan sesuatu yang tak kasat mata. Kita biasa menyebutnya butterflies, kupu-kupu di perut, tapi dibalik kehangatan itu, ada sesuatu yang jauh lebih rumit sedang terjadi pada kita. Saya selalu bertanya-tanya, mengapa saya merasakan sensasi hangat di dada ketika saya melihat orang yang saya sukai. Ternyata, itu adalah kerja dari dopamin dan oksitosin.
Di dalam otak, ada serangkaian proses biokimia mulai terjadi. Saat kita melihat seseorang yang menarik, otak kita melepaskan dopamin, zat kimia sama yang aktif pada saat kita sedang makan coklat atau mencapai sesuatu yang memuaskan. Dopamin menyalakan “reward system” atau sistem penghargaan kita, terutama di area Ventral Tegmental Area dan Nucleus Accumbens yang terletak pada otak bagian tengah kita, yang kemudian membanjiri kita dengan energi, motivasi, dan keinginan. Jika dopamin memberi sensasi gairah dan dorongan, maka oksitosin membawa ketenangan dan keterikatan. Oksitosin biasa disebut dengan “hormon cinta” atau “zat kimia pengikat”. Zat kimia ini dilepaskan pada saat kita bersentuhan, saat melakukan kontak mata, dan pada saat kita berbagi momen penuh kepercayaan dengan orang yang kita cintai. Di dalam otak, oksitosin bekerja di area seperti amigdala dan hipotalamus untuk membantu menurunkan stress dan memperkuat ikatan emosional. Oksitosin adalah zat kimia yang memberi tahu tubuh kita, “kamu aman di sini”.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Helen Fisher di Stony Brook University menemukan bahwa ketika para partisipan melihat foto pasangan mereka, bagian otak yang kaya akan dopamin (sistem limbik) menjadi sangat aktif. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada orang yang baru jatuh cinta (Harvard Medical School, 2016). Pada saat yang sama, oksitosin juga mulai beredar, menghubungkan kasih sayang dengan perasaan nyaman dan aman. Sementara itu, korteks prefrontal (PFC), bagian otak yang bertanggung jawab atas logika dan penilaian resiko, aktivitasnya menjadi sedikit menurun. Itulah sebabnya orang yang sedang jatuh cinta sering bertindak impulsif dan terlalu idealis.
Secara biologis, jatuh cinta terasa seperti sedang mengonsumsi obat karena memang begitulah adanya. Campuran alami dopamin, oksitosin, dan adrenalin di tubuh kita mengambil kendali. Zat-zat itu adalah zat paling adiktif yang diketahui manusia. Sebuah meta-analisis dari studi pencintraan otak juga mendukung hal ini. Studi ini menunjukkan bahwa cinta yang penuh gairah secara konsisten dapat mengaktifkan area otak dopaminergik seperti VTA, yang menekankan bahwa akar cinta secara biologi terletak pada sistem penghargaan dan motivasi otak.
Namun, setiap puncak memiliki gemanya. Sama seperti cinta yang bisa menyalakan otak, putus cinta juga bisa meredupkannya dengan cara yang sama. Zat-zat kimia yang dulu membuat kita merasa hidup, seperti dopamin, oksitosin, bahkan adrenalin mulai bergeser, meninggalkan keheningan kimiawi yang terasa nyata secara fisik. Itulah mengapa patah hati tidak hanya hidup di pikiran, patah hati juga bisa dirasakan di seluruh tubuh. Saat kita putus dengan pasangan kita, sistem neurokimia yang dulu membuat kita euforia kini menciptakan rasa sakit mendalam. Kehilangan dopamin dan oksitosin secara tiba-tiba menimbulkan gejala mirip “withdrawal symptoms” atau penarikan diri yang mirip dengan saat orang kecanduan narkoba. Para neurosaintis menemukan bahwa kerinduan terhadap koneksi emosional mengaktifkan jalur yang sama seperti pada kecanduan zat, maka dari itu orang-orang sering mengulang kenangan dengan membuka foto lama, atau membaca ulang pesan-pesan lama dari pasangan mereka. Hal ini terjadi karena otak sedang mencari “dosis” berikutnya.
Kortisol yaitu hormon stress juga meningkat, membuat dada terasa sesak, denyut jantung cepat, dan kadang menyebabkan mual atau pusing. Pola tidur ikut berubah karena amigdala yang terlalu aktif membuat kita sulit beristirahat, sementara turunnya serotonin menyebabkan mudah marah dan sulit tidur. Penelitian pencintraan otak (brain imaging) menunjukkan bahwa patah hati mengaktifkan anterior cingulate cortex, bagian otak yang memproses rasa sakit emosional maupun fisik, inilah sebabnya penolakan bisa terasa benar-benar menyakitkan. Amigdala dan hipokampus juga menyimpan memori emosional, membuat kita sulit berhenti memikirkan seseorang atau bahkan menghindari pemicunya. Terlebih, berbulan-bulan kemudian bagian otak ini bisa aktif kembali saat kita mendengar lagu tertentu atau mengunjungi tempat yang sama. Ini menjadi bukti bahwa kenangan emosional bersifat biologis dan tahan lama.
Dalam fase ini kadar serotonin menurun, menjelaskan pikiran obsesif dan perubahan suasana hati. Kekacauan biologis inilah yang membuat patah hati terasa seperti ditusuk pisau di dada. Bukan hanya seperti kiasan, tapi karna memang jalur rasa sakit dan emosi di otak saling bertumpuk. Patah hati bukanlah kelemahan, ia adalah bukti betapa dalamnya biologi kita dirancang untuk terhubung, dan untuk berduka ketika ikatan itu terputus.
Untungnya, otak kita itu tangguh. Melalui neuroplastisitas, ia menata ulang dirinya seiring berjalannya waktu. Korteks prefrontal perlahan kembali mengambil kendali, sistem penghargaan juga akan menyesuaikan diri, dan pengalaman baru mulai membentuk koneksi saraf yang segar. Lama-kelamaan, rasa sakit yang dulu begitu kuat akan menjadi lebih tenang. Jalur yang dulu menanggapi rasa kehilangan mulai merespons pertumbuhan, rasa ingin tahu, dan kasih sayang yang baru. Proses penyembuhan seperti ini juga merupakan salah satu proses biologis. Bukan hanya sekedar untuk melupakan, tapi juga untuk berubah. Hal-hal seperti interaksi sosial, ekspresi kreatif, olahraga, dan mindfulness akan membantu memulihkan keseimbangan kimia, meningkatkan kadar serotonin dan oksitosin secara alami.
Cinta dan patah hati, dari perspektif biopsikologi bukanlah dua hal yang berlawanan. Mereka adalah dua fase dari tarian saraf yang sama. Yang satu menyalakan otak dengan dopamin, yang satu lagi memaksanya membangun kembali dari rasa kehilangan. Cinta bukanlah hanya emosi dari hati, ia adalah simfoni dari otak. Saat jatuh cinta, neuron-neuron kita menyusun melodi gairah dan kebahagiaan. Saat cinta berakhir, neuron yang sama berduka atas keheningan dari euforia yang pernah mereka ciptakan sebelumnya. Namun dalam kedua keadaan itu, dalam ekstasi maupun perih, otak mengingatkan kita bahwa pada saat kita merasakan hal secara mendalam, pada saat itu juga kita benar-benar hidup.

