Konten dari Pengguna

Topeng Manusia

Yuda Saputra
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
24 November 2025 10:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Topeng Manusia
Sebuah refleksi tentang bagaimana topeng sosial yang dipakai manusia dapat retak, membuka wajah asli yang sering tak kita duga.
Yuda Saputra
Tulisan dari Yuda Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi topeng manusia (pexels/vinur)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi topeng manusia (pexels/vinur)
Dalam pergaulan sehari-hari, manusia jarang tampil seutuh dirinya. Kita hidup dalam panggung sosial yang menuntut peran: menjadi baik agar diterima, lembut agar disukai, atau tampak kuat agar dihormati. Peran-peran itu, seperti kostum yang dijahit rapi, menutupi bagian diri yang tak ingin kita buka pada dunia.
Namun tak ada topeng yang bertahan selamanya. Suatu saat, retakan kecil muncul—entah karena lelah, jenuh, atau sekadar ketidaksengajaan. Dari celah itu, wajah asli yang selama ini tersembunyi mulai terintip, mengungkapkan sisi yang tidak pernah masuk dalam bayangan kita.
Kekecewaan sering lahir dari momen seperti ini. Bukan karena seseorang berubah menjadi buruk, melainkan karena kita akhirnya melihat bahwa kebaikan yang ia tampilkan hanyalah peran yang tepat untuk waktu tertentu. Ketulusan yang kita kira tulus, ternyata hanya strategi. Kepedulian yang kita rasa hangat, rupanya hanya formalitas yang diulang tanpa rasa. Kita terkejut bukan karena ia berubah, tetapi karena kita baru sadar bahwa kita sendiri terlalu terburu-buru menaruh percaya.
Meski pahit, kenyataan ini membawa pelajaran berharga. Ia mengingatkan bahwa mengenal manusia adalah perjalanan panjang, bukan kunjungan singkat. Bahwa karakter tidak diukur dari kata-kata manis, tetapi dari konsistensi di saat tidak ada siapa pun yang mengawasi. Bahwa kebaikan yang tumbuh dari hati memiliki aroma yang berbeda dari kebaikan yang lahir dari kepentingan.
Kita pun belajar untuk tidak memuja siapa pun secara berlebihan. Setiap orang adalah lapisan-lapisan yang tidak selalu selaras; ada sisi yang lembut, ada yang gelap, ada yang mereka perhalus demi kenyamanan sosial. Tugas kita bukan membongkar semuanya, tetapi menyadari bahwa setiap senyum mungkin menyimpan cerita yang tidak kita ketahui.
Pada akhirnya, topeng yang jatuh bukan hanya memperlihatkan wajah orang lain—tetapi membuka mata kita sendiri. Kita menjadi lebih peka membaca gerak, lebih sabar menilai karakter, dan lebih bijak dalam menaruh harapan. Sebab kepercayaan bukan untuk diberikan seketika; ia perlu tumbuh perlahan, seperti akar yang mencari tanah yang tepat.
Dalam retak kecil itu, kita bukan hanya menemukan siapa mereka sebenarnya, tetapi juga siapa diri kita: seseorang yang sedang belajar melihat manusia apa adanya—tanpa ilusi, tanpa berlebihan, tanpa buta oleh harapan sendiri.
Trending Now