Konten dari Pengguna
Fenomena ‘Self-Check’ Kesehatan Lewat Smartwatch: Bisa Seakurat Apa Sih?
3 Desember 2025 15:55 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Fenomena ‘Self-Check’ Kesehatan Lewat Smartwatch: Bisa Seakurat Apa Sih?
Smartwatch makin populer sebagai alat pemantau kesehatan harian. Artikel ini membahas seberapa akurat data yang dihasilkan, manfaatnya, serta cara bijak menggunakannya tanpa bergantung berlebihan.Yulius Evan Christian
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan ini, semakin banyak orang yang mengandalkan smartwatch untuk memantau kondisi tubuh. Dari jumlah langkah, detak jantung, kualitas tidur, hingga kadar oksigen, semuanya bisa dipantau lewat pergelangan tangan. Tak sedikit yang menjadikan smartwatch sebagai “alarm kesehatan” pribadi dalam aktivitas sehari-hari.
Namun muncul pertanyaan yang wajar: sejauh apa kita bisa mengandalkan data dari smartwatch? Apakah hasilnya bisa setara dengan pemeriksaan medis?

Gaya hidup modern membuat banyak orang ingin memantau kesehatannya secara real-time dan praktis. Smartwatch menawarkan itu semua: data instan, notifikasi cepat, dan tampilan yang mudah dibaca.
Selain itu, konten di media sosial yang menampilkan penggunaan smartwatch saat olahraga atau bekerja turut mendorong tren ini. Fitur seperti pengingat gerak, deteksi stres, hingga pelacak tidur memberikan rasa aman bagi penggunanya.
Namun, kenyamanan tersebut tidak selalu berarti akurasi setara dengan alat medis profesional.
Sebagian besar smartwatch menggunakan sensor optik yang memancarkan cahaya untuk membaca perubahan aliran darah, mirip prinsip photoplethysmography (PPG). Sensor ini kemudian mengolah data menjadi angka seperti detak jantung atau kadar oksigen.
Meski teknologinya canggih, ada beberapa hal yang bisa memengaruhi hasil pengukuran:
Artinya, smartwatch memberikan estimasi, bukan diagnosis.
Secara umum, akurasi smartwatch cukup baik untuk pemantauan harian. Untuk aktivitas ringan sampai sedang, data detak jantung dan jumlah langkah cenderung mendekati hasil alat kesehatan standar.
Namun, ada keterbatasan yang perlu dipahami:
Dalam beberapa situasi, smartwatch bisa memberi manfaat besar, misalnya:
Bagi banyak orang, data ini membantu membangun kebiasaan hidup lebih sehat.
Kapan Perlu Tetap Mengandalkan Pemeriksaan Medis?
Meskipun smartwatch berguna, ada kondisi yang tetap membutuhkan verifikasi medis:
Smartwatch dapat memberikan peringatan awal, tetapi diagnosis, terapi, dan keputusan medis harus tetap berdasarkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Agar manfaatnya optimal, berikut beberapa tips sederhana:
Smartwatch membuka akses pemantauan kesehatan yang lebih mudah dan terjangkau. Meski belum seakurat alat medis, data yang diberikan dapat membantu kita lebih sadar terhadap kondisi tubuh.
Kuncinya adalah menggunakan smartwatch sebagai pendamping, bukan sebagai sumber kebenaran tunggal. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal angka, tetapi tentang memahami tubuh sendiri dan mengambil tindakan yang tepat.

