Konten dari Pengguna

Maraknya Produk Kesehatan Ilegal di E-Commerce: Apakah Regulasi Kita Sudah Siap?

Yulius Evan Christian
Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
9 Desember 2025 17:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Maraknya Produk Kesehatan Ilegal di E-Commerce: Apakah Regulasi Kita Sudah Siap?
Tren belanja produk kesehatan online makin marak, tapi ancaman produk ilegal juga meningkat. Artikel ini mengulas celah regulasi dan tips agar konsumen tetap aman dan bijak.
Yulius Evan Christian
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kemudahan belanja online membuat produk kesehatan kini tersedia hanya dalam beberapa klik. Dari vitamin hingga suplemen, dari alat medis hingga obat herbal—semuanya bisa dibeli dengan cepat tanpa resep, tanpa tatap muka, dan tanpa antrian apotek. Namun, di balik kenyamanan ini, ada ancaman yang mulai mengintai: produk kesehatan ilegal yang lolos di e-commerce.
Masyarakat mungkin berpikir semua produk yang dijual secara online sudah diawasi ketat. Sayangnya, kenyataan tidak selalu demikian. Banyak ditemukan produk kesehatan dengan nomor izin fiktif, klaim penyembuhan berlebihan, hingga produk palsu yang dijual melalui toko daring. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah regulasi dan pengawasan digital kita cukup kuat menghadapi gelombang belanja kesehatan online?
Bahaya: Obat-obatan Palsu: Sebuah tanda "PALSU" merah yang dikelilingi oleh pil-pil berwarna-warni yang jelas menggambarkan risiko kesehatan yang serius dari obat-obatan palsu.Sumber;Shutterstock/Teacher Photo
Produk Ilegal Masih Bebas Berkeliaran?
Beberapa kasus mencuat di media: suplemen tanpa izin edar yang viral karena dipromosikan oleh influencer, produk pemutih kulit yang dijual dengan harga murah tapi mengandung bahan berbahaya, hingga obat keras yang seharusnya hanya boleh dibeli lewat resep, tapi bisa didapatkan dengan mudah di platform e-commerce.
Pihak berwenang seperti BPOM dan Kominfo telah bekerja sama dengan platform digital untuk menindak pelanggaran. Namun celah tetap terbuka, terutama pada penjual yang berpindah akun dan memakai nama baru. Inilah tantangan utama di era digital: kecepatan penindakan belum tentu bisa menyamai kecepatan distribusi online.
Kenapa Ini Berbahaya?
Produk ilegal atau palsu bisa menimbulkan dampak serius bagi kesehatan:
Dosis yang tidak sesuai bisa memperburuk penyakit atau menimbulkan efek samping berbahaya.
Kandungan yang tidak jelas berisiko memicu alergi atau komplikasi bagi orang dengan kondisi medis tertentu.
Klaim yang menyesatkan membuat orang berhenti mengonsumsi obat resmi dan malah beralih ke produk tak teruji.
Alih-alih sembuh, kondisi bisa bertambah buruk. Terlebih jika konsumen tidak memiliki akses ke informasi kesehatan yang benar.
Pharmacist doctor holding mix type medicine pack compare selection or choice medicine in pharmacy drugstore.Sumber;Shutterstock/Quality Stock Arts
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Dalam ekosistem digital, tanggung jawab harus dibagi rata:
Platform e-commerce perlu memperketat verifikasi penjual dan produk, serta merespons cepat jika ada laporan pelanggaran.
Produsen dan distributor resmi harus lebih proaktif mengedukasi pasar tentang produk asli dan legalitasnya.
Konsumen perlu dibekali kemampuan literasi digital dan kesehatan agar tidak mudah tergoda oleh promosi instan.
Yang tak kalah penting, regulator perlu memperbarui pendekatan pengawasan, dari yang tadinya berbasis fisik menjadi berbasis algoritma dan pemantauan real-time.
Peran Influencer: Edukasi atau Promosi?
Promosi produk kesehatan oleh influencer sering kali lebih dipercaya ketimbang iklan resmi. Padahal, tidak semua yang terlihat meyakinkan benar-benar memiliki dasar ilmiah. Di sinilah pentingnya etika digital: influencer seharusnya tidak mempromosikan produk yang belum terverifikasi atau menjanjikan hasil instan tanpa konsultasi profesional.
Konsumen pun harus sadar bahwa respons tubuh setiap orang berbeda. Apa yang berhasil untuk satu orang, belum tentu aman untuk orang lain.
Apa yang Bisa Dilakukan Konsumen?
Agar tidak menjadi korban, konsumen bisa menerapkan langkah sederhana berikut:
Cek nomor izin edar produk di situs resmi BPOM
Hindari produk yang terlalu murah atau mengklaim hasil instan
Pilih toko resmi atau yang telah terverifikasi
Perhatikan review yang masuk akal, bukan yang berlebihan
Konsultasikan dengan tenaga medis jika ragu
Belanja Sehat Butuh Literasi Digital
Belanja produk kesehatan secara online bisa sangat membantu, apalagi di tengah rutinitas yang sibuk. Namun, kemudahan jangan sampai membuat kita lengah. Di balik tampilan menarik dan harga menggoda, bisa saja tersembunyi bahaya yang merugikan kesehatan.
Saat ini bukan hanya soal memilih produk yang tepat, tetapi juga memahami bahwa kita hidup di era informasi cepat—yang kadang juga menyesatkan. Maka, literasi digital dan kesehatan menjadi bekal penting agar kita tidak sekadar menjadi konsumen, tapi juga pengambil keputusan yang bijak untuk diri sendiri dan keluarga.
Trending Now