Konten dari Pengguna

Polusi Jakarta dan Dampaknya terhadap Paru-Paru Warga

Yulius Evan Christian
Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
26 November 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Polusi Jakarta dan Dampaknya terhadap Paru-Paru Warga
Artikel ini membahas bagaimana polusi udara di Jakarta memengaruhi paru-paru warganya, dari gejala ringan hingga risiko jangka panjang, serta solusi praktis yang bisa dilakukan sehari-hari.
Yulius Evan Christian
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik siluet gedung tinggi dan hiruk-pikuk Ibu Kota, ada sesuatu yang lebih senyap namun mengancam: polusi udara. Ia tidak berwujud nyata, tidak terlihat langsung, tapi perlahan-lahan menggerogoti kualitas hidup dan kesehatan paru-paru jutaan warga.
Bekasi City with long highway, tall buildings and smog due to air pollution. Poor air quality in the Jabodetabek area. Concept for climate change, global warming.Sumber:Shutterstock/Rizky Ade Jonathan
zoom-in-whitePerbesar
Bekasi City with long highway, tall buildings and smog due to air pollution. Poor air quality in the Jabodetabek area. Concept for climate change, global warming.Sumber:Shutterstock/Rizky Ade Jonathan
Jakarta, seperti banyak kota besar lainnya, menghadapi tantangan besar dalam mengelola kualitas udaranya. Berawal dari pagi hingga malam, langit seringkali tampak kelabu. Bau asap kendaraan bermotor dan debu jalanan menjadi bagian dari keseharian. Meskipun sudah menjadi pemandangan biasa, kualitas udara ini bukan tanpa risiko.
Banyak warga mengeluhkan batuk yang tidak kunjung sembuh, hidung tersumbat, hingga rasa sesak di dada. Semua ini bukan hanya akibat kelelahan atau cuaca, tapi bisa jadi tanda tubuh sedang berjuang menyaring udara kotor yang masuk ke dalam sistem pernapasan setiap hari.
Setiap kali kita menghirup udara, paru-paru menyaring oksigen dari udara bebas. Namun, ketika udara dipenuhi partikel halus seperti debu, jelaga, atau bahan kimia, organ ini harus bekerja dua kali lebih keras.
Partikel mikroskopis seperti PM 2.5 bisa masuk hingga ke kantung udara terdalam di paru-paru, menyebabkan iritasi bahkan kerusakan jangka panjang. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi asma, bronkitis, hingga penurunan kapasitas paru secara permanen.
Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, anak-anak yang masih dalam masa tumbuh-kembang, hingga lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak ini.
Polusi udara tidak hanya berdampak pada rumah sakit yang penuh pasien pernapasan. Ia juga mempengaruhi produktivitas harian. Banyak orang mengaku lebih cepat lelah saat berjalan kaki, merasa lesu saat pulang kerja, atau sulit berkonsentrasi setelah beraktivitas di luar.
Bagi anak-anak, polusi bisa membuat mereka lebih mudah sakit, batuk berkepanjangan, atau mengalami alergi. Mereka yang bersekolah di dekat jalan raya atau tempat padat kendaraan sangat mungkin menghirup lebih banyak udara tercemar setiap hari.
Ibu hamil juga perlu lebih waspada. Paparan polusi udara selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan pertumbuhan janin, berat badan lahir rendah, dan gangguan pernapasan pada bayi setelah lahir.
Bermacam-macam, Gedung/Bangunan Terkenal, Sumber : Shutterstock/regia
Beberapa faktor utama yang membuat Jakarta mengalami polusi tinggi antara lain:
Setiap hari jutaan kendaraan beroperasi di jalan-jalan kota dengan emisi gas buang yang tidak terkendali.
Lahan hijau yang bisa menyerap polutan semakin sempit, digantikan aspal dan beton.
Jakarta yang rendah dan datar membuat pergerakan angin lambat. Tanpa hujan, polutan mudah menumpuk dan menggantung di udara.
Pembakaran sampah terbuka, penggunaan bahan bakar padat, hingga cerobong pabrik turut menyumbang polusi.
Polusi udara menciptakan siklus yang sulit dihentikan. Ketika udara kotor, orang-orang lebih memilih naik kendaraan pribadi karena merasa lebih aman, padahal itu justru menambah emisi. Saat ruang terbuka hijau semakin sedikit, tidak ada penyaring alami untuk mengurangi polutan.
Pada akhirnya, semua kembali ke masyarakat. Jika tidak ada perubahan kebiasaan, maka kualitas udara akan terus memburuk, dan dampaknya akan terus menghantui generasi yang akan datang.
Perubahan besar dimulai dari skala kecil: rumah tangga. Edukasi tentang pentingnya menjaga udara bersih bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Anak-anak bisa diajak memahami pentingnya tidak membakar sampah, atau menanam tanaman di sekitar rumah.
Komunitas juga bisa berperan dalam mengadakan kegiatan penghijauan, kampanye penggunaan masker, hingga gerakan car-free day kecil-kecilan di lingkungannya.
Jika setiap keluarga ikut berkontribusi, maka akan tercipta efek domino yang mendorong kesadaran kolektif lebih luas.
Jakarta tidak harus menjadi kota yang selalu sesak dan penuh kabut asap. Dengan perencanaan yang bijak, penataan transportasi yang ramah lingkungan, serta kesadaran masyarakat yang meningkat, perubahan ke arah yang lebih baik sangat mungkin terjadi.
Udara bersih seharusnya menjadi hak semua warga, bukan hanya segelintir orang yang mampu membeli pembersih udara atau tinggal di kawasan elit.
Polusi udara mungkin tak terlihat, tak terasa langsung seperti luka, tapi dampaknya nyata dan bertumpuk dari hari ke hari. Setiap tarikan napas di Jakarta hari ini bisa menentukan kondisi paru-paru esok hari. Bukan hanya kesehatan, tapi juga kualitas hidup.
Kini saatnya menyadari bahwa menjaga udara bersih bukan semata tanggung jawab pemerintah atau lembaga lingkungan, melainkan tanggung jawab semua pihak — termasuk kita sebagai warga kota.
Trending Now