Konten dari Pengguna

Ketika Semua Orang Jadi "Kreator", Siapa yang Masih Mau Jadi Penonton?

Yunita Amelia
Mahasiswa fakultas ilmu komputer, Program Studi Teknik Informatika
18 November 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Semua Orang Jadi "Kreator", Siapa yang Masih Mau Jadi Penonton?
Jika semua jadi kreator, siapa yang menonton? Krisis ini menciptakan "inflasi perhatian". Penonton sejati punah, diganti kreator yang sedang riset. Waktunya hargai peran pendengar bijak. #Kreator #Med
Yunita Amelia
Tulisan dari Yunita Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber : AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber : AI
Saya sering merenung, di zaman di mana setiap orang memegang gawai yang sekaligus berfungsi sebagai studio produksi, apakah kita masih memahami apa arti sebenarnya dari menjadi penonton? Dahulu, peran Kreator (seniman, penulis, sutradara) dan Penonton (konsumen) sangatlah jelas. Kreativitas adalah hasil dari keahlian, waktu, dan modal, yang menghasilkan karya bernilai langka. Penonton dengan senang hati memberikan perhatian penuh sebagai imbalan.
Namun, creator economy telah mengubah lanskap ini menjadi sebuah arena kompetisi. Kita semua didorong, bahkan ditekan, untuk menjadi produsen konten. Sebuah vlog dadakan, thread kritik, atau analisis tiga detik di TikTok; produksi adalah kunci dominasi.
Di tengah hiruk-pikuk ini, pertanyaan getir itu muncul: Jika setiap orang sibuk berbicara dan membuat, adakah yang tersisa untuk benar-benar mendengarkan dan menonton?

Kehilangan Nilai dan Fokus

Hambatan untuk memproduksi konten telah runtuh sepenuhnya. Sebuah video yang direkam secara iseng bisa viral dan menyalip konten yang digarap serius selama berbulan-bulan. Tentu, ini terdengar demokratis. Siapa pun bisa bersuara.
Masalahnya, demokrasi konten ini memicu inflasi perhatian. Lini massa kita dipenuhi oleh tumpukan konten yang masif. Kebanyakan hanyalah pengulangan tren, keluhan pribadi yang dibungkus motivasi, atau tiruan dari apa yang viral kemarin. Kuantitas secara perlahan membunuh kualitas.
Akibatnya, perhatian kita, sebagai "penonton," pecah berkeping-keping. Kita tidak lagi mencari kedalaman, kita mencari kecepatan. Kita hanya mencari konten yang menuntut perhatian selama tiga hingga sepuluh detik pertama sebelum kita geser lagi. Kita menjadi konsumen yang rewel, tetapi ironisnya, kita sendirilah yang membanjiri pasar dengan konten yang sama-sama melelahkan.

Penonton Hari Ini Adalah Kreator yang Sedang Riset

Saya mencurigai, "penonton" yang tersisa hari ini bukanlah orang yang benar-benar ingin mengapresiasi sebuah karya. Mereka adalah para konsumen cepat yang sedang melakukan riset.
Kita menonton bukan untuk menikmati alunan musik atau mendalami sebuah argumen, melainkan untuk:
Kita menyimak sambil merancang balasan. Kita menonton sambil berpikir, "Bagaimana saya bisa mengubah ini menjadi konten saya?"
Dengan demikian, aktivitas menonton telah kehilangan kemurniannya. Penonton sejati telah digantikan oleh kreator yang sedang beristirahat sejenak sebelum kembali memproduksi. Sebuah lingkungan yang didominasi oleh produsen yang enggan menjadi konsumen sejati adalah lingkungan yang dangkal dan hiper-aktif. Kita menciptakan masyarakat yang sibuk berbicara tentang dirinya sendiri.

Keajaiban Kelangkaan Akan Selalu Menang

Lalu, bagaimana nasib creator economy ini? Pada akhirnya, ia akan kembali pada hukum pasar yang paling kuno: Kelangkaan akan selalu mengungguli kelimpahan.
Mereka yang masih mampu bertahan di tengah badai konten cepat ini adalah mereka yang telah berhasil menciptakan kelangkaan. Mereka adalah kreator yang mampu melewati batas-batas konten sekilas-lewat dengan:

Waktunya Menghargai Menjadi Pendengar

Jika kita terus-menerus didorong menjadi produser tanpa pernah diberi ruang untuk menjadi penyerap, kita akan menciptakan generasi yang miskin refleksi. Kita akan menjadi masyarakat yang pintar berbicara, tetapi tuli terhadap substansi. Kita akan kehabisan waktu untuk merenung, menganalisis, dan, yang paling penting, menjadi pendengar yang baik.
Inilah tugas kolektif kita: untuk berani menolak dorongan konstan untuk memproduksi.
Mari kita berdisiplin untuk mematikan notifikasi, duduk diam, dan memberikan perhatian penuh pada satu karya yang memang layak. Mari kita akui, bahwa kreativitas sejati tidak hanya lahir dari keterampilan membuat, tetapi juga dari kemampuan menyerap, merenung, dan mengapresiasi apa yang telah dibuat orang lain.
Mari kita berani kembali menjadi penonton yang bijaksana.
Trending Now