Konten dari Pengguna

Cerpen: Pagi yang Damai di Kerajaan

Yuvi Shandy Amisadai
Seorang gamer dan penikmat musik metal, yang kebetulan adalah Diplomat Muda di Kementerian Luar Negeri
2 Desember 2025 14:30 WIB
Β·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerpen: Pagi yang Damai di Kerajaan
Sebuah cerpen tentang kerjaan yang tenang, rutinitas yang indah… dan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di dalamnya.
Yuvi Shandy Amisadai
Tulisan dari Yuvi Shandy Amisadai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi cover. Dibuat menggunakan ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cover. Dibuat menggunakan ChatGPT.
Pagi hari tiba diiringi kicauan burung menemani matahari dari Timur. Sudah waktunya aku memulai hari untuk menjalankan keseharian rutinku sebagai petani di kota ini. Kota ini memang cukup kecil, namun terletak di depan kastil sehingga cukup aman dari serangan bandit karena banyaknya penjaga. Selain itu, kota ini dialiri oleh sungai yang jernih namun tidak deras, sehingga lahan pertanian di luar tembok kota yang biasa aku olah, sangat subur dan mudah untuk ditanami hampir semua tanaman yang dibutuhkan penduduk.
Keseharianku dimulai dengan berjalan menuju lahan di luar tembok kota, menyusuri deretan rumah penduduk, menyeberangi jembatan dari pinggir kota menuju tengah kota, hingga berjalan di antara toko-toko yang mulai bersiap untuk buka. Lucunya, hari ini banyak hal menarik di antara deretan toko. Penjual roti terdengar berteriak memarahi asistennya karena satu loyang roti terpanggang hingga gosong. Lalu, pandai besi kota terdengar menjerit cukup keras karena palunya meleset dari besi yang sedang ditempa, mengenai jempolnya. Aku tertawa keras melihat kejadian yang menunjukkan hidupnya kota ini, seraya berjalan menuju gerbang kota, lalu berbelok ke arah lahan tani di mana beberapa petani lain sudah mulai beraktivitas.
Hari berlangsung cepat. Tidak terasa matahari berada tepat di atas kepala, menunjukkan waktunya istirahat. Banyak petani memilih beristirahat di pepohonan terdekat, memakan bekal makanan yang disiapkan dari rumahnya. Namun, aku dan beberapa petani lainnya memutuskan kembali ke kota untuk makan di sebuah kedai. Setibanya di tengah kota, terlihat kerumunan penduduk kota yang ingin bertemu para anggota kerajaan.
Ya, Raja dan Ratu kerajaan ini, rutin berkunjung untuk makan siang dan menyapa para penduduknya. Sang Raja dan Ratu baru naik takhta dalam beberapa tahun ini, namun mereka sudah sangat disayangi oleh rakyatnya. Terlihat Raja dan Ratu diikuti oleh perangkat istana dan penjaga berjalan pelan sambil melemparkan senyum pada orang-orang. Tatapannya lembut dan penuh harapan. Tanpa disangka, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berlari dan tersandung di tengah jalan. Seketika Sang Ratu menghampiri bocah tersebut, membersihkan luka di kakinya dan mengecup kepalanya seraya meminta dia berlari dengan lebih hati-hati. Setelah kejadian hangat itu, keluarga kerajaan melanjutkan perjalanan ke arah restoran favorit semua orang di tengah kota. Sementara, aku dan para petani melanjutkan ke arah kedai yang pastinya jauh lebih kecil.
Waktu istirahat usai tanpa terasa, aku pun kembali bekerja di ladang pertanian, mengolah tanah dan merawat gandum yang mulai menguning. Ketika matahari mulai tenggelam, pekerjaan di ladang pun usai dan aku kembali menuju kota. Akan tetapi, tampak ada yang salah di gerbang kota. Tidak ada satu pun penjaga di depan gerbang dan banyak suara terdengar dari dalam kota. Aku pun berlari dan dari kejauhan terlihat pasukan kerajaan lain yang menebaskan pedangnya ke arah para penjaga dan penduduk kota. Memang kota ini aman dari serangan bandit berkat adanya penjaga kota, namun kota ini tidak dapat bertahan menghadapi serangan dalam skala besar, terutama dari pasukan kerajaan lain.
Sekitar 20 prajurit musuh berlari ke arah restoran tempat Raja dan Ratu berada. Kesatria kerajaan yang menjaga di luar tidak akan mampu menahan musuh sebanyak itu. Benar saja, seketika musuh masuk ke dalam restoran. Hatiku hampa memikirkan kematian Raja dan Ratu, dan tidak lama lagi semua penduduk. Akan tetapi, suara nyaring seperti teriakan tiba-tiba terdengar dari dalam dan prajurit musuh berhamburan keluar. Serempak prajurit lain di berbagai tempat ikut lari meninggalkan kota kecil ini.
Malam pun tiba. Seisi kota berkabung. Banyak mayat tergeletak yang diiringi tangisan keluarganya. Sebagian lain membereskan rumah, toko dan jalanan dari sisa serangan. Setelah membantu sebisaku, aku pun kembali ke rumah. Berharap dengan tidur, kejadian ini hanya akan menjadi mimpi dan aku pun terlelap...

----

Matahari mulai menyinari dari ufuk Timur, diikuti kicauan burung-burung. Seperti pemilik toko yang lain, aku sudah mulai bekerja sejak matahari masih tertidur. Aku sudah mulai mengolah adonan roti menggunakan resep keluarga yang sudah diturunkan dari tiga generasi lalu. Aku sendiri mulai menjalankan bisnis ini sekitar dua puluh tahun lalu, setelah ayahku tidak bisa kuat bekerja lagi. Adonan telah diolah sejak subuh, sehingga ada waktu untuk didiamkan dan siap dipanggang setelah matahari terbit. Asistenku mulai membantu menyusun potongan adonan siap panggang yang telah aku ukur sesuai pesanan dan kesukaan orang-orang kota kecil ini. Ketika penduduk sudah mulai bangun dan bersiap untuk melakukan aktivitasnya, adonan mulai dimasukkan ke dalam masing-masing oven. Tujuannya, agar roti tersaji hangat saat waktu makan siang dan aroma panggangan tercium ketika melewati deretan toko.
Ketika aku sibuk menyiapkan kue khusus pesanan kastil, aroma pahit tercium dari arah dapur. Asistenku yang masih muda terlihat panik karena ternyata satu loyang roti terpanggang hingga gosong. Tanpa berpikir panjang aku langsung berteriak memarahi anak bodoh itu. Harus diakui bahwa reaksiku agak berlebihan, namun aku panik karena khawatir roti yang terpanggang adalah roti favorit Raja dan Ratu. Terlebih keduanya selalu berupaya dekat dengan penduduk dan suka berkunjung ke kota pada tengah hari. Untungnya bukan. Aku yakin teriakanku terdengar hingga seberang jalanan, namun apa daya, ini kulakukan agar asistenku belajar.
Siang hari tiba. Aku dan asistenku mulai menghadapi banyak pelanggan yang menyiapkan diri untuk makan siang. Dari arah tengah kota, mulai muncul suara riuh penduduk dan dapat kuduga bahwa itu adalah kerumunan orang-orang yang ingin menyambut keluarga kerajaan. Bagaimana tidak, Raja dan Ratu sangat populer karena kehangatan dan kecintaannya pada rakyat. Aku pun melangkahkan diri ke arah kerumunan untuk ikut melihat keluarga kerajaan.
Tak lama Sang Raja dan Ratu melintas ditemani oleh perangkat istana dan penjaga. Saat mereka melintas aku mengamati baik Raja maupun Ratu berekspresi cukup datar dengan mata yang agak kosong. Mungkin hari ini mereka sedang kelelahan. Tak disangka, dari arah jalan di depannya seorang bocah laki-laki berlari kencang dan jatuh di hadapan rombongan kerajaan. Dasar anak bodoh. Melihat anak kecil itu, sang Ratu hanya melirik dari ujung matanya, lalu melanjutkan perjalanan. Akhirnya, anak itu dibantu oleh penjaga dan diangkat ke pinggir jalan. Aku kembali ke toko rotiku dan lanjut bekerja.
Hari yang biasa dan membosankan itu pun akhirnya selesai, ditutup dengan matahari yang terbenam di Barat seakan ingin cepat kembali tertidur. Aku menyuruh asistenku pulang terlebih dahulu dan tidak lama aku pun kembali ke rumah untuk segera beristirahat. Pekerjaan seorang tukang roti dimulai lebih pagi dan istirahat yang cukup sangat diperlukan. Aku pejamkan mataku dan langsung terlelap...

---

Suara kicauan burung membangunkanku dari tidur yang lelap. Sebagian besar orang mungkin menganggap kicauan tersebut indah, bagiku hanya suara berisik yang mengganggu. Aku angkat jendela untuk menandakan toko perlengkapan besi ini buka. Ya, aku adalah seorang pandai besi yang menjadikan toko sebagai rumahnya. Segera setelah membasuh muka dan menghabiskan sisa roti tadi malam, aku mulai bekerja. Aku memulai pekerjaan dengan memanaskan tungku dan menyiapkan besi dan baja. Hari ini kantuk terasa lebih kuat, mungkin karena tadi malam aku minum terlalu banyak. Setelah semua siap, aku duduk di tempat menempa dan aku angkat palu kesayanganku untuk aku pukulkan pada batangan besi guna membuat pisau pesanan.
Gema pukulan palu menggaung di ruang kerjaku. Suara palu mengenai besi adalah suara yang paling merdu. Saking merdunya aku terbuai untuk memejamkan mata dan mungkin, buaian itu menang. Aku terenyak oleh suara lantang dari toko roti seberang, entah apa yang terjadi pada pria tua itu. Mungkin asistennya berbuat salah? Atau mungkin karena dia mulai menua? Tetapi bodohnya diriku, karena rasa kantuk dan suara mengagetkan dari toko roti, konsentrasiku pecah. Jempolku terkena hantaman palu dengan kekuatan penuh. Seketika jeritan lantang terdengar, yang ternyata adalah suaraku sendiri. Memalukan, selama dua puluh tahun aku bekerja, tidak pernah ada kejadian ini. Setelah selesai mengumpat dan rasa sakit mereda, aku lanjutkan kembali rutinitas untuk menyediakan segala perlengkapan hingga persenjataan kota Mugen ini.
Matahari semakin terik dan terdengar suara gaduh di tengah kota. Pasti Raja dan Ratu sedang berkunjung untuk makan siang. Meski masih muda, aku melihat Raja dan Ratu sebagai sosok yang sangat bijaksana. Kecintaannya kepada rakyat luar biasa. Seperti biasanya, aku ikut di belakang kerumunan untuk melihat keluarga kerajaan. Namun apa yang kulihat cukup mengejutkan. Raut Sang Raja terlihat tajam dan tatapannya tampak liar. Sang Ratu tampak memiliki sedikit kerutan di matanya dan rambutnya berantakan. Mungkin mereka kelelahan? Atau sedang ada masalah keluarga?
Sambil aku memikirkan hal itu, seorang anak tidak lebih dari 4 tahun berlari dan terjatuh di hadapan mereka. Hal kedua yang mengagetkanku adalah Raja menendang anak tersebut hingga ke pinggir jalan. Seketika semua orang terdiam. Suasana menjadi mencekam. Seorang penjaga langsung mengangkat anak tersebut ke toko terdekat dan penjaga lainnya meminta semua orang kembali bekerja. Aku pun kembali ke tokoku, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seharusnya tidak seperti ini.
Matahari mulai tergelincir. Keramaian deretan toko terpecahkan dengan keributan dari arah gerbang. Seketika aku menuju sumber suara dan melihat tiga orang dengan pakaian yang tidak biasa berteriak dengan bahasa asing. Ketiga orang tersebut mengacungkan sesuatu yang panjang, mirip busur silang. Tidak lama beberapa penjaga menghampiri untuk menjaga keamanan kota. Akan tetapi salah satu orang asing tersebut terlihat panik dan mengacungkan peralatannya kepada penjaga. Seketika suara kencang terdengar layaknya halilintar di siang bolong dan seorang penjaga ambruk. Luka berbentuk lingkaran kecil muncul di dadanya.
Ilustrasi sesuatu yang panjang, mirip busur silang. Dibuat menggunakan ChatGPT.
Penjaga lainnya yang sempat diam membeku, mulai sadar dan langsung menyerang ketiga orang asing yang sedang panik. Ketiganya tewas dalam baku hantam. Dari restoran terlihat Sang Ratu menghampiri dan seorang penjaga menceritakan kejadian yang baru terjadi. Ratu mengambil benda asing yang digunakan tamu tak diundang tersebut, melemparkannya padaku dan memintaku menghancurkan benda itu. Aku membawa benda panjang itu ke tokoku. Meskipun Ratu memerintahkan untuk menghancurkan benda ini, tetapi aku sangat penasaran. Bagaimana benda unik ini bisa membunuh penjaga seketika? Akhirnya karena kantuk yang luar biasa, aku terlelap sambil menatap benda panjang pembunuh itu...

--

Matahari akhirnya terbit diikuti kicauan burung yang seakan tertawa. Artinya tugas jaga malamku selesai. Sambil menahan kantuk aku kembali menuju barak untuk sedikit beristirahat sebelum aku memulai jaga malam lagi. Untuk menuju barak aku harus melewati deretan toko yang baru memulai aktivitasnya. Entah mengapa hari ini lebih hidup dari biasanya. Mungkin karena tukang roti dan pandai besi berteriak-teriak entah karena apa. Semoga bukan hal yang gawat dan tidak menjadi urusanku sebagai seorang penjaga di kota kerajaan Mugen. Setelah melewati jembatan aku berbelok ke kiri dan tiba di barak, yang berada persis di seberang daerah pemukiman. Sesampainya di kasurku, aku langsung berbaring dan memejamkan mata.
Langit sudah menuju sore hari ketika aku terbangun. Jika aku tertidur lebih lama, bisa saja aku terlambat bertugas dan ditegur kapten. Setelah membersihkan diri, aku menghabiskan roti di ruang makan, sisa makan siang para penjaga lain yang berjaga di kastil. Setelah selesai makan dan minum aku langsung bergegas kembali menuju gerbang kota untuk tugas jaga malam. Saat aku melewati pusat kota, udara terasa berat. Para penduduk berwajah masam dan sebagian seperti kebingungan. Karena tidak ingin terlambat, aku tidak terlalu mengacuhkan suasana tersebut dan langsung menuju gerbang.
Aku tiba tepat saat pergantian penjaga. Rekan yang kugantikan bermuka serius dan menceritakan kejadian mengejutkan di kota. Aku tidak percaya bahwa Ratu memerintahkan penjaga memenggal seorang anak kecil, hanya karena dia jatuh saat Raja dan Ratu melintas. Penjaga lain pun tidak ada yang percaya. Bagaimana tidak, Raja dan Ratu terkenal penyayang sehingga meskipun baru memerintah dalam beberapa tahun terakhir, rakyat dan penjaga sangat menghormati mereka. Mungkin ini hanya satu kejadian aneh akibat berbagai tekanan yang mereka hadapi. Tetapi tetap saja terasa aneh dan berlebihan. Namun demikian, aku tetap harus berjaga, memastikan kota ini aman dari serangan bandit.
Ketika malam terasa gelap, tiba-tiba aku melihat cahaya yang sangat terang, lebih terang dari cahaya bulan. Dari kejauhan terlihat seorang pria dengan pakaian aneh berjalan seperti tersesat. Cahaya itu datang dari tangan pria asing tersebut. Apakah itu sihir? Dari atas menara gerbang aku berteriak meminta dia berhenti. Pria itu melihat ke arah menara dan mengeluarkan kata-kata asing. Tubuhku menegang. Apakah orang ini penyihir suruhan kerajaan musuh? Aku kembali berteriak sambil mengarahkan busurku. Namun pria itu tetap seakan tidak mengerti dan mengangkat tangannya, mengarahkan benda kecil di genggamannya ke arahku. Mataku dibutakan oleh cahaya yang tiba-tiba muncul. Tanpa berpikir panjang aku lepaskan anak panah yang mengenai kepalanya. Seketika pria itu roboh.
Aku langsung bergegas menuju ke bawah untuk melihat pria itu dari dekat. Pakaiannya aneh. Bentuk rambutnya pun tidak biasa. Tetapi yang menarik perhatianku adalah benda di tangannya yang bisa mengeluarkan cahaya. Benda tersebut berbentuk persegi panjang seukuran genggaman tangan. Bagaimana bisa benda itu mengeluarkan cahaya tanpa sumber api? Jelas ini adalah sihir. Dari benda tersebut muncul tulisan asing seperti rune, yang berbentuk seperti angka: [02/12/2025]. Entah apa arti gambar tersebut. Aku takut kejadian ini akan membawa petaka. Aku langsung menguburkan jasad pria dan benda sihirnya, lalu meminta kepada kapten untuk mengambil istirahat pertama. Aku coba pejamkan mataku, berharap yang terjadi hanya mimpi dan aku pun terlelap...
Ilustrasi benda sihir berbentuk persegi panjang. Dibuat menggunakan ChatGPT.

-

Pagi hari tiba diiringi kicauan burung menemani matahari dari Timur...
Trending Now