Konten dari Pengguna
Tugas Terberat Seorang Diplomat Adalah
19 Oktober 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Tugas Terberat Seorang Diplomat Adalah
Pengalaman penulis saat bertugas sebagai Diplomat Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Tokyo, JepangYuvi Shandy Amisadai
Tulisan dari Yuvi Shandy Amisadai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi seorang Diplomat, bertugas di luar negeri adalah keniscayaan. Setiap penugasan di negara lain, pasti memiliki kekhasan dan pengalaman yang berbeda. Sebagian diplomat mungkin akan mengatakan tugas terberatnya adalah ketika ikut dalam sidang multilateral dan memastikan disepakatinya suatu resolusi. Diplomat lain mungkin berpendapat tugas yang paling berat adalah memulai dan mengawal kerja sama ekonomi konkret, yang menghasilkan kesepakatan jutaan hingga milyar dolar AS.
Tetapi, untuk sekarang saya ingin sedikit egois. Saya ingin menceritakan tugas yang paling berat yang saya rasakan, ketika saya bertugas sebagai Fungsi Protokol dan Konsuler di KBRI Tokyo.
Saat mendengar Tokyo, tentu yang langsung melintas di benak kita adalah indahnya kota tersebut jalan-jalan penuh toko dan restoran favorit wisatawan, bunga sakura yang berguguran di musim semi, dan keteraturan hidup yang memesona. Semua itu benar adanya. Tokyo adalah kota yang indah, sehingga tidak heran banyak WNI kita yang memutuskan untuk bekerja di Tokyo atau kota lainnya di Jepang.
Lantas pertanyaannya, tugas berat apa yang mungkin dihadapi di kota seindah itu?
Pada tahun 2020, pandemi COVID-19 mulai merebak hingga Jepang dan terdapat satu kapal pesiar mewah, Diamond Princess, yang terdampar karena adanya kasus COVID-19 di dalam kapal. KBRI Tokyo harus segera mengupayakan evakuasi dan repatriasi WNI yang bekerja sebagai awak di kapal tersebut. Apakah tugas tersebut berat? Tentu saja. Tetapi apakah ini yang terberat? Sayangnya bukan.
Di tahun yang sama, KBRI Tokyo menangani kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang di bidang pertanian. Kasus ini berlangsung cukup lama, baik di Jepang maupun di Indonesia. Bahkan, hingga saya menyelesaikan tugas di KBRI Tokyo dan kembali ke Jakarta, masih ada sebagian dari kasus yang diselesaikan pada proses hukum Indonesia. Apakah berat? Ya, pasti berat, namun sekali lagi bukan yang terberat yang saya hadapi.
Suatu hari di tahun 2021, saya mendapatkan laporan masyarakat bahwa ada seorang WNI yang telah hilang kontak dan dicari oleh keluarga di Indonesia. Tidak lama berselang, juga terdapat laporan bahwa terdapat seseorang yang diduga WNI meninggal dunia. Benar saja, ternyata kedua orang tersebut merupakan orang yang sama.
Atas temuan itu, saya harus menghubungi seorang Ibu di Indonesia untuk memberitahukan bahwa anak yang pasti sangat disayangi dan dibanggakan telah meninggal dunia. Dalam sekejap, yang terlintas di pikiran saya hanyalah wajah ibu saya sendiri. Saya membayangkan bagaimana rasanya jika beliau menerima kabar seperti itu.
Akan tetapi, tugas adalah tugas. Untuk beberapa waktu saya mencoba menguatkan diri dan menyusun perkataan untuk disampaikan kepada keluarga WNI di Indonesia. Skenario demi skenario saya bangun untuk sebisa mungkin memperlembut dampak yang mungkin muncul dan menenangkan keluarga. Akhirnya, dengan tangan penuh keringat dan tenggorokan kering, saya memberanikan diri menelepon.
Sudah tentu, keluarga terkejut. Rasa ketidakpercayaan dan kesedihan tidak mungkin terbendung. Dan itu sangat manusiawi. Akan tetapi, pada saat itu saya cukup kaget karena respons dan emosi yang timbul tidak sebesar yang saya duga. Saya hanya bersyukur ternyata komunikasi dengan keluarga berjalan baik.
Karena kondisi pandemi COVID-19, keluarga tidak dapat langsung hadir ke Jepang, sehingga seluruh proses akan diselesaikan terlebih dahulu di Jepang oleh perusahaan tempat WNI tersebut bekerja, dibantu oleh KBRI. Selama proses itu, hampir setiap hari saya berkomunikasi dengan keluarga.
Dalam waktu itu lah, hantaman luapan emosi dari keluarga baru terasa. Dari hari ke hari, kesedihan kedua orang tua semakin terbuka dan semakin terasa. Keheranan yang saya alami saat pertama kali melakukan komunikasi baru terjawab. Keluarga tengah melewati berbagai tahapan kehilangan dan semakin hari semakin intensif.
Hal yang dapat saya lakukan hanyalah mendengarkan dan sebisa mungkin membantu menenangkan keluarga WNI dan membantu memastikan seluruh proses di Jepang berjalan baik, hingga jenazah dapat diterima oleh keluarga di Indonesia. Namun, hal yang tidak banyak diketahui adalah setiap komunikasi dengan keluarga, hati terasa berat dan mata selalu berkaca-kaca.
Kini, setiap kali saya mengingat peristiwa itu, saya masih merasakan beratnya perasaan saat menelepon keluarga yang berduka dari jarak ribuan kilometer.
Dan mungkin, inilah sisi lain dari profesi diplomat yang jarang terlihat. Di balik jas, upacara, dan rapat resmi, ada hari-hari ketika tugas kami adalah menenangkan hati yang hancur, termasuk hati kami sendiri.

