Konten dari Pengguna
Seniman Wayang yang Menjaga Tradisi melalui Rumah Kecil di Patehan, Yogyakarta
26 November 2025 8:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Seniman Wayang yang Menjaga Tradisi melalui Rumah Kecil di Patehan, Yogyakarta
Seniman Wayang yang Menjaga Tradisi melalui Rumah Kecil di Patehan, Yogyakarta.Zabrina Ratnaningsih
Tulisan dari Zabrina Ratnaningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta - Di sebuah rumah sederhana di kawasan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, tradisi panjang pewayangan terus dijaga dengan penuh kesabaran dan kecintaan. Rumah kecil yang dikelilingi aroma kulit dan bunyi alat pahat itu menjadi saksi dedikasi para seniman wayang kulit yang menolak tunduk pada derasnya arus modernisasi. Di sana, pekerjaan dilakukan secara turun-temurun sejak abad ke-10, bukan semata karena kebutuhan ekonomi, tetapi karena panggilan hati untuk melestarikan kebudayaan Jawa.
Di ruang itu, Pak Arta, seorang pembuat wayang berusia 48 tahun, bekerja bersama tiga rekannya: Pak Suparman (59) yang bertugas memberi warna, Pak Mujiono (50) ahli pemahat, dan Pak Sugi (79) yang mahir berbahasa Prancis dan kerap membantu berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara. Mereka menjalani proses pembuatan wayang kulit yang membutuhkan ketelitian luar biasa dan kesabaran tingkat tinggi.
Satu wayang kulit dapat memakan waktu sekitar satu minggu, dengan tiga hari khusus untuk memahat dan empat hari lainnya untuk proses pewarnaan. Wayang dibuat dari kulit kerbau yang dianggap paling kuat dan lentur. โKulit kerbau lebih tahan lama,โ jelas Pak Arta. โSelain itu, banyak warga di sini yang berlatar belakang Hindu, sehingga mereka tidak mengonsumsi daging sapi.โ
Tak hanya bahan kulit, proses pewarnaan pun dikerjakan dengan cermat menggunakan cat akrilik dan warna-warna alami, agar hasilnya tajam, indah, dan bertahan lama. Dalam proses pemahatan, mereka menggunakan sekitar 25 macam alat tatah dengan berbagai bentuk dan ukuran. Semua dilakukan manual, tanpa bantuan mesin.
Meski prosesnya panjang, tantangan terbesar bukanlah waktu, melainkan pemahaman makna filosofis di balik setiap tokoh wayang. โPembuat wayang harus mengerti cerita dan arti setiap tokoh, motifnya, dan bagaimana karakter itu harus digambarkan,โ tutur Pak Arta. โWayang bukan sekadar kerajinan, tetapi warisan nilai kehidupan.โ
Keahlian ini dirintis turun-temurun dari kakek moyang mereka, dan kini menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi seni rupa dan filosofi Jawa. Meski tidak menjanjikan materi berlimpah, Pak Arta mengaku tidak pernah berniat meninggalkan profesi ini.
โTidak mengejar uang, tapi mengejar ketenangan hati,โ ucapnya lembut.
Dalam memperkenalkan karya mereka, para perajin tidak banyak menggunakan media digital. Sebagian besar pemasaran dilakukan melalui jalur wisata Keraton Yogyakarta, di mana pengunjung diarahkan untuk melihat langsung proses pembuatan wayang kulit. Banyak turis lokal maupun mancanegara datang, belajar, bahkan mencoba memahat sendiri.
Bagi Pak Arta dan rekan-rekannya, fokus utama dari pembuatan wayang kulit bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi mengedukasi generasi agar tak kehilangan akar budaya. Rumah kecil mereka menjadi ruang belajar bagi siapa pun yang ingin memahami nilai luhur dalam tokoh-tokoh pewayangan.

