Konten dari Pengguna
Cerita Pak Budi Menekuni Ojek Online dan UMKM di Pangandaran
19 Desember 2025 13:16 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Pak Budi Menekuni Ojek Online dan UMKM di Pangandaran
Di tengah susahnya kondisi ekonomi, tak sedikit orang melakukan pekerjaan ganda. Pak Budi contohnya. Pahit dan manis perjalanannya sebagai ojek daring dan pedagang UMKM menjadi inspirasi bagi kamiZahra Nurul Annisha
Tulisan dari Zahra Nurul Annisha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ditulis oleh Zahra Nurul Annisha dan Cut Zahwa Alya Fitriani
Di kawasan pesisir Pangandaran, aktivitas ekonomi masyarakat tak hanya bergantung pada sektor wisata. Di balik ramainya wisatawan dan deretan usaha kecil yang tumbuh di sepanjang pantai, terdapat pula pekerja informal yang menggantungkan hidupnya pada profesi berbasis teknologi seperti ojek online.
Salah satu potret tersebut terlihat dari keseharian Pak Budi Rustandi, yang menjalani dua profesi seklaigus sebagai pengemudi ojek online dan pedagang di kawasan pesisir pantai Pangandaran. Kedua pekerjaan yang masih ia tekuni hingga saat ini demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarganya.
Padatnya area wisata pesisir pantai tak menghalangi Pak Budi Rustandi, seorang pengemudi ojek online, untuk mengadu nasibnya. Langkah kakinya tetap tegak bahkan setelah menerjang ratusan kilometer.
Di bawah matahari yang terus menemaninya kala siang, kulitnya menggelap, menjadi saksi bisu perjuangan Pak Budi mengais uang. Hanya memakai jaket lusuh yang dipadukan celana pendek, ia pergi bekerja dengan mengandalkan dua aplikasi layanan ojek online sambil menjaga lapak sewa papan selancar dan kelapa muda.
Pengalaman Bekerja sebagai Ojek Online di Kota dan Daerah Wisata
Dahulu Pak Budi adalah seorang buruh pabrik onderdil motor di daerah Cikarang, Bekasi. Melihat ada kesempatan untuk mengisi waktu luang setelah pulang kerja, ia memutuskan untuk mendaftar sebagai pengemudi ojek online sekitar tahun 2019.
“Dulu awal mula kerja di kota, di pabrik. Terus nyari waktu luang, daripada di kos-kosan diem. Makanya inisiatif daftar di 2019. Pokoknya daftar buat nyambi setelah kerja,” jelas Pak Budi ketika ditanyai perjalanannya saat merantau di kota dulu.
“Kalau di kota mah ya neng, mereka pake ojol udah jadi kebutuhan. Di sini mah rata-rata warganya punya motor. Jadi kemana-mana gak pake ojol."
Pak Budi juga menambahkan bahwa sebenarnya jumlah pengemudi di Pangandaran cukup banyak. Namun, dari segi jumlah pengguna tidak sebanyak masyarakat kota. Hal itulah yang membuat pendapatan ojek online di Pangandaran sepi penumpang.
“Bukan kekurangan driver, orderannya gak seimbang. Driver banyak, penumpangnya dikit. Gimana tuh?” ujarnya disertai gelak tawa.
Jam kerja jika menjadi pengemudi ojek online pun sangat tak menentu, tergantung dari masing-masing orangnya (pengemudi). Biasanya Pak Budi menyalakan aplikasi dari pagi hingga malam sambil ia berjualan di pesisir pantai.
Namun, di Pangandaran sendiri tak selalu mendapatkan pesanan. Biasanya ia akan mematikan aplikasi saat banyak wisatawan yang datang ke pantai. Seperti saat musim liburan dan akhir pekan maka ia akan memprioritas menjaga lapak dagang karena pendapatan yang jauh lebih besar.
"Terus juga, masyarakat di sini masih belum mau buat coba ikut perkembangan zaman sekarang. Jadi ya, itu malah jadi hambatan untuk masyarakat di sini. Padahal misal mereka pasang Qris di warung mereka, itu kan udah membantu jualan mereka. Tapi susah," ujar Pak Budi,
Menurut Pak Budi, sebagian warga di Pangandaran, khususnya dari kalangan usia lanjut, masih belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Berdasarkan pengalamannya, kondisi tersebut membuat pemanfaatan layanan daring di wilayah tersebut belum berjalan optimal.
Rutinitas Kerja Antara Profesi Ojek Daring dan Pedagang Kaki Lima.
Bergantung pada profesi ojek online yang penghasilannya tak menentu, membuat Pak Budi harus memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Melihat peluang sekitar memungkinkan Pak Budi untuk membuka usaha bersama istrinya, menjadi seorang penjual es kelapa dan penyewa alat papan selancar. Ide usaha tersebut dijalankan dengan harapan dapat menambah penghasilan keluarga.
Namun, alih-alih mendapat keuntungan lebih, nampaknya pekerjaan ini masih belum cukup untuk Pak Budi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pak Budi mengaku bahwa pekerjaan sampingan yang ia kerjakan bersama istrinya, memang belum sepenuhnya mengangkat ekonomi keluarga kecil mereka. Akan tetapi, memang lebih baik ketimbang menjadi seorang ojek online apalagi di daerah Pangandaran yang memang masih sulit untuk mendapatkan pelanggan meskipun sudah ‘menyalakan’ semua fitur aplikasi. Bukan tanpa sebab, susahnya mendapatkan pelanggan dikarenakan daerah Pangandaran yang lebih dominan di pariwisata.
Tak berkecil hati, Pak Budi lantas kembali memanfaatkan kondisi Pangandaran yang memang lebih ramai intensitasnya, khususnya di saat hari libur dan sore hari.
“Kalau sore sama weekend biasanya ramai (pelanggan ojek online) jadinya lebih fokusin ojol,” ucap Pak Budi. “Ya walau pas hari biasa sama-sama sepi, tapi jualan untungnya lebih gede.”
Menurut Pak Budi, penghasilan dari ojek online maupun berdagang belum bisa stabil alias sering kali berubah-ubah pendapatannya setiap hari.
Bagi masyarakat biasa seperti Pak Budi, harapannya tidak mewah. Sekadar mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk makan dan sekolah anak. Sayangnya usaha besar yang ia lakukan tak sebanding dengan hasil yang didapat.
Ketika ditanyakan mengenai apa yang menjadi prioritas sehingga Pak Budi mengambil dua profesi sekaligus, beliau menjelaskan menurut perhitungan beliau.
“Kalau dari segi dagang ya. Misalkan liburan. Liburan kita setahun 3 kali. Sisanya kan hari-hari biasa aja, ya? Ya, ya sudah. Ramainya pas itu aja. Sehari-harinya pendapatannya ga nentu. Sama, ojol juga gitu,” ungkap Pak Budi.
Harapan Pak Budi terhadap Profesi dan Kehidupannya
Semua orang ingin kehidupan ekonominya membaik, begitu pula dengan Pak Budi. Harapannya sederhana, tetapi sangat akan berdampak bagi masyarakat. Ia berharap ojek daring di Pangandaran dapat menjadi peluang kerja yang benar-benar dapat diandalkan.
Dalam menjalani pekerjaannya, Pak Budi memiliki sejumlah harapan baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya, terutama terkait pengoptimalan penggunaan teknologi di lingkungan tempat ia tinggal.
"Dari saya sendiri, semoga kedepannya masyarakat nggak gagap teknologi lagi. Banyak kok anak muda kayak neng yang pasti mau bantu orang tua di sini. Itu semua tergantung niat aja."
Kerja rangkap yang dilakukan Pak Budi tidak sepenuhnya membantu ia dalam menafkahi keluarga. Tetapi, beliau tetap berjuang dan bersyukur setiap harinya.
“Emang nggak bisa sepenuhnya ngangkat ekonomi keluarga. Tapi bisa kasih uang jajan buat anak istri pun saya udah bersyukur sekali.” tutur Pak Budi sebagai penutup diskusi antara tim penulis dengan Pak Budi.

