Konten dari Pengguna

Tunawisma di Sudan: Marginalisasi di Tengah Konflik dan Krisis

Zaid Asidik Pua Jiwa
Mahasiswa Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
23 November 2025 2:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tunawisma di Sudan: Marginalisasi di Tengah Konflik dan Krisis
Menampilkan kehidupan tunawisma di Sudan melalui sosiologi sastra, menggugah kepedulian publik pada realitas sosial dan kebijakan negara.
Zaid Asidik Pua Jiwa
Tulisan dari Zaid Asidik Pua Jiwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar ini dihasilkan oleh AI, bukan gambar asli.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini dihasilkan oleh AI, bukan gambar asli.

Kehidupan Tunawisma dalam Masyarakat: Potret Marginalisasi dan Realitas Sosial

Novel karya ʻAbd al-ʻAzīz Barakah Sākin, Mukhayyalah al-Khandarīs (2012), menggambarkan potret kehidupan tunawisma di Sudan secara gamblang dan menyentuh. Melalui narasi tokoh Salwā, seorang pekerja sosial, penulis mengajak pembaca untuk mengeksplorasi kehidupan sehari-hari anak-anak serta keluarga tunawisma, di kota Khartoum dan Umm-Durman di Sudan. Kehidupan mereka digambarkan sangat menyedihkan: kemiskinan yang parah, tinggal di terowongan penampungan air hujan (khors), makan sisa makanan dari tempat sampah, risiko penyakit yang terus-menerus, serta sering kali menjadi target ejekan, kekerasan, bahkan kejahatan terkait perdagangan anak dan organ. Mereka mencari cara untuk melarikan diri melalui alkohol dan narkoba untuk lepas dari rasa lapar dan penderitaan tiada akhir.
Fenomena ini tidak lepas dari konteks sosio-historis Sudan, di mana konflik yang berkepanjangan, krisis ekonomi, dan kemerosotan struktur keluarga telah memicu migrasi massal dan peningkatan jumlah tunawisma. Novel ini mengeksplorasi situasi genting bagi kelompok terpinggirkan yang terabaikan ini: dikucilkan, dianggap sebagai “epidemi sosial”, dan terjebak dalam siklus stigmatisasi. Melalui kisah nyata dan sentuhan fiksi, penulis menunjukkan bahwa tunawisma bukan hanya dipicu oleh kemiskinan, tetapi juga disebabkan oleh kebijakan negara yang tidak efektif, ketidakamanan sosial, dan eksploitasi.

Hubungan antara Tunawisma, Pekerja Sosial, dan Negara: Dimensi Kemanusiaan dan Ambivalensi Bantuan

Menurut perspektif sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Damono (2020) dan Ratna (2008), sastra memiliki peran sebagai cermin masyarakat, memperlihatkan realitas sosial dan dinamika kekuasaan yang ada. Dalam novel ini, hubungan antara tunawisma dan pekerja sosial digambarkan sangat kompleks. Salwā dan rekan-rekannya berusaha memberikan perlindungan, kebutuhan dasar, dan kasih sayang, meskipun mereka menghadapi keterbatasan dana serta kurangnya dukungan dari pemerintah. Mereka bekerja dalam ketakutan terhadap pihak keamanan maupun kelompok ekstremis, dan terjebak antara idealisme perlindungan kemanusiaan dan realitas adanya ancaman kekerasan.
Para tunawisma sering kali mengalami ambivalensi: di satu sisi mereka menerima bantuan, di sisi lain merasa sulit untuk menerima pola hidup yang lebih menetap dan mengikuti aturan baru. Intervensi yang dilakukan sering kali tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah, baik karena keterbatasan kapasitas organisasi, stigma sosial, maupun ketidakpedulian pihak pemerintah. Upaya gigih para pekerja sosial untuk mewujudkan perubahan sering kali membawa mereka pada kesadaran bahwa mereka bukanlah satu-satunya agen perubahan, yang membuat mereka menyimpulkan bahwa transformasi yang mendalam tidak dapat tercapai dalam waktu singkat.
Dalam teori sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Swingewood (1972) dan Ratna (2008), terdapat pula interaksi antara struktur sosial (institusi, negara) dan pengalaman personal (subjektivitas individu tunawisma). Di konteks ini, sastra berhasil “menembus permukaan kehidupan” dan mengungkap relasi-relasi sosial yang sering kali sulit diakses melalui analisis sosial yang murni objektif, terutama mengenai perasaan, penderitaan, dan resistensi yang dialami para kelompok marginal.

Perspektif Masyarakat dan Dilema Sosial: Diskriminasi, Empati, dan Kapital Sosial

Hubungan antara tunawisma dan masyarakat Sudan secara umum menggambarkan kontradiksi antara sikap diskriminasi dan rasa empati. Sebagian orang memandang tunawisma sebagai makhluk sosial yang rendah, bahkan tidak layak dianggap manusia. Mereka diperlakukan buruk oleh masyarakat serta aparat keamanan, dihina, hingga dianggap bahwa kematian lebih baik bagi mereka daripada menjalani hidup dalam penderitaan. Di saat yang sama, empati juga muncul dari individu seperti ibu-nya Salwā, yang merawat anak-anak tunawisma, menunjukkan rasa empati kepada mereka, dan memperjuangkan hak-hak mereka.
Novel ini mengungkapkan disfungsi sosial dan retaknya kapital sosial yang seharusnya ideal di masyarakat Sudan. Relasi sosial yang dimiliki para tunawisma terbatas hanya pada sesama kelompok marginal lainnya, pekerja sosial, dan oknum pelaku kejahatan. Di sisi lain, pemerintah dan sebagian besar masyarakat bersikap pasif, acuh tak acuh, bahkan bersikap menindas.
Aspek penting lainnya adalah bagaimana organisasi sosial dan pekerja sosial memimpin perlawanan terhadap struktur sosial yang menindas, meskipun keterlibatan mereka sering terhambat oleh sumber daya dan dominasi dari kekuasaan negara serta kelompok berpengaruh lainnya.

Kesimpulan: Sastra sebagai Ruang Subversif, Kritis, dan Pemersatu Hati

Analisis mengenai teori-teori sosiologi sastra oleh Damono (2020), Swingewood (1972), dan Ratna (2008) menghasilkan kesimpulan bahwa sastra tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen refleksi dan kritik sosial yang mendalam. Sastra menyediakan ruang untuk diskusi tentang isu-isu sensitif seperti kemiskinan, marginalisasi, kebijakan korup, konflik sosial, dan dehumanisasi, yang sering kali tidak bisa, atau dianggap tabu untuk dibahas dalam tulisan akademik ataupun forum resmi.
Novel Mukhayyalah al-Khandarīs (2012) menunjukkan bahwa sastra mampu menyuarakan suara mereka yang terpinggirkan, menumbuhkan empati, dan berfungsi sebagai sarana advokasi sosial. Di tengah kondisi sosial yang makin kompleks, karya sastra seperti ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran publik dan politik akan kebenaran-kebenaran “tersembunyi” yang tidak dapat dijangkau oleh narasi akademis serta media mainstream. Melalui narasi, sastra mampu menyampaikan pengalaman, empati, dan analisis kritis, sekaligus menegaskan bahwa sastra tetap relevan dan penting sebagai ruang advokasi untuk mengangkat isu-isu sensitif di dunia yang semakin enggan memperhatikan penderitaan kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
Referensi:
Jiwa, Z. A. P. (2022). Kehidupan Tunawisma dalam Novel Mukhayyalah al-Khandarīs Karya ʻAbd al-ʻAzīz Barakah Sākin dan Hubungannya dengan Masyarakat Sudan: Analisis Sosiologi Sastra. Skripsi. Universitas Gadjah Mada.
Trending Now