Konten dari Pengguna

Cukup Tahu Sifatnya, Berteman Secukupnya

Muhammad Zaidaan
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
21 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cukup Tahu Sifatnya, Berteman Secukupnya
Tidak semua teman harus dekat. Mengenal sifat, menetapkan batas, dan berteman secukupnya justru menjaga hubungan tetap aman dan diri tetap utuh. #userstory
Muhammad Zaidaan
Tulisan dari Muhammad Zaidaan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sebuah pertemanan sumber: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sebuah pertemanan sumber: Freepik
Banyak orang kecewa dalam pertemanan bukan karena disakiti secara terang-terangan, melainkan karena harapan yang terlalu tinggi. Ini terjadi karena kita sering menilai hubungan dari kedekatan, bukan dari pemahaman terhadap sifat seseorang.

Mengapa Pertemanan Sering Berujung Kecewa?

Pernah merasa sudah berbuat banyak untuk teman, tapi responsnya biasa saja? Atau merasa didekati hanya saat ia butuh bantuan? Kekecewaan dalam pertemanan bukan hal asing. Ada alasan kenapa hubungan yang awalnya hangat bisa terasa melelahkan.
Dalam interaksi langsung, kita bisa melihat sikap, kebiasaan, dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Dari situlah sebenarnya sifat mulai terbaca. Namun, kita sering mengabaikannya demi rasa nyaman atau keinginan untuk merasa diterima.
Ilustrasi kecewa. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
Itulah sebabnya ada teman yang terasa baik di awal, tapi menyulitkan di kemudian hari ketika batasan tidak pernah dibuat sejak awal.

Ketika Berteman, Otak Sering Mengisi Kekosongan

Saat menjalin pertemanan, otak kerap menambal kekurangan informasi dengan harapan. Kita membayangkan orang lain akan bersikap seperti yang kita lakukan. Padahal, setiap orang punya cara sendiri dalam memberi perhatian dan menjaga hubungan.
Jika sedang merasa sendiri atau butuh dukungan, sikap biasa dari teman bisa terasa sebagai penolakan. Bukan karena ia berubah, melainkan karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi.

Tidak Semua Orang Perlu Didekati Terlalu Dekat

Ilustrasi teman palsu alias fake friends. Foto: Shutter Stock
Mengenal sifat seseorang tidak selalu berarti harus masuk ke lingkaran terdekatnya. Ada orang yang cukup dijadikan teman ngobrol, ada yang cocok jadi rekan kerja, dan ada pula yang aman ditempatkan pada jarak tertentu.
Berteman secukupnya bukan berarti dingin atau antisosial. Itu adalah bentuk menjaga diri agar tidak terus-menerus lelah secara emosional.

Mengenali Batas: Menyelamatkan Hubungan Pertemanan

Banyak konflik pertemanan muncul karena batas yang kabur. Terlalu sering membantu, terlalu mudah memaafkan, atau terlalu berharap diperlakukan sama sering berujung pada kekecewaan.
Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock
Dua orang bisa berteman lama, tapi dengan tingkat kedekatan yang berbeda. Masalah muncul ketika salah satu menganggap hubungan itu lebih dalam dari yang dirasakan pihak lain.

Yang Bisa Diatur adalah Cara Menyikapinya

Alih-alih berharap seseorang berubah, lebih sehat jika kita menyesuaikan ekspektasi. Jika tahu seseorang cenderung cuek, jangan berharap ia selalu hadir. Jika tahu ia sulit menjaga rahasia, jangan memberinya beban cerita terlalu dalam.
Dengan mengenali sifat sejak awal, kita bisa menentukan seberapa jauh melangkah tanpa harus terluka.
Ilustrasi berkumpul bersama teman-teman. Foto: Shutterstock
Ada beberapa sikap sederhana agar pertemanan tetap sehat.
Pertemanan yang dewasa bukan tentang seberapa sering bertemu, melainkan tentang seberapa aman perasaan dijaga. Kadang, mengenal seseorang secukupnya justru membuat hubungan lebih awet.
Jadi, cukup tahu sifatnya, lalu berteman secukupnya. Bukan karena kita menjauh, melainkan karena kita ingin tetap utuh tanpa kehilangan diri sendiri.
Trending Now