Konten dari Pengguna

Bahagia Bukan Soal Punya Segalanya

Zakiatul Aini
Individu yang menaruh minat besar dalam mendalami titik temu antara spiritualitas Islam dan ilmu perilaku manusia. Penulis tengah menyelesaikan studi Magister Kajian Islam dan Psikologi di Universitas Indonesia
13 Desember 2025 7:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bahagia Bukan Soal Punya Segalanya
Di era kejar-kejaran bahagia instan, pendekatan psikologi dan nilai spiritual menunjukkan bahwa kebahagiaan justru lahir sebagai efek samping dari hidup yang penuh makna. #userstory
Zakiatul Aini
Tulisan dari Zakiatul Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Anak sehat dan bahagia. Foto: MOLPIX/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak sehat dan bahagia. Foto: MOLPIX/Shutterstock
Dalam beberapa tahun terakhir, pencarian kebahagiaan berubah menjadi industri yang tumbuh pesat. Mulai dari pelatihan self-healing, maraknya konten motivasi, hingga tren gaya hidup ā€œhigh-value personā€ yang menguasai media sosial, semua menawarkan jalan cepat menuju rasa bahagia. Namun di balik gegap gempita itu, angka gangguan kecemasan dan kelelahan justru meningkat.
Kementerian Kesehatan mencatat kenaikan signifikan kasus gangguan mental ringan hingga sedang pada kelompok usia 15–34 tahun dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks: semakin banyak orang mencari kebahagiaan, semakin sulit rasanya untuk merasa cukup.
Pertanyaannya: Apakah masalahnya terletak pada cara kita mendefinisikan kebahagiaan?

Budaya Bahagia Instan

Di jagat digital, kebahagiaan dipersempit menjadi dua hal: pencapaian material dan emosi positif. Banyak orang merasa bersalah ketika tidak bahagia, seakan-akan emosi manusia hanya valid jika bersifat positif. Padahal, psikologi telah lama memperingatkan bahwa mengejar kebahagiaan secara obsesif justru mengurangi tingkat kebahagiaan itu sendiri.
Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: Pond Saksit/Shutterstock
Penelitian Iris Mauss menunjukkan bahwa orang yang menetapkan ā€œharus bahagiaā€ sebagai target cenderung mengalami penurunan kesejahteraan. Sederhananya, semakin bahagia kita ingin terlihat, semakin kita jauh dari rasa itu.
Psikologi positif kemudian membedakan dua jenis kesejahteraan.
Pertama, hedonia, yang berfokus pada kesenangan dan kenyamanan. Kedua, eudaimonia, yakni kebahagiaan yang tumbuh dari makna, nilai, dan pertumbuhan diri. Temuan-temuan terbaru memperkuat bahwa eudaimonia justru memiliki efek lebih kuat terhadap daya tahan stres dan stabilitas emosi.
Di tengah tekanan hidup modern, pesan ini menjadi relevan: kebahagiaan bukan efek dari kesenangan yang terus ditambah, melainkan hasil dari hidup yang bernilai.

Perspektif Islam: Kebahagiaan sebagai Kondisi Jiwa, bukan Emosi

Tradisi Islam memandang kebahagiaan melalui lensa yang lebih dalam. Konsep sa’adah—kebahagiaan yang utuh—disebut sebagai kondisi jiwa yang stabil, bukan sensasi emosional. Ia lahir dari integritas moral, kedalaman ibadah, dan kematangan sikap dalam menghadapi realitas.
Ilustrasi ibadah. Foto: Ground Picture/Shutterstock
Al-Qur’an menggambarkan kondisi nafs al-muthmainnah—jiwa yang tenang—sebagai bentuk kebahagiaan tertinggi. Ketika seseorang memiliki hubungan spiritual yang kuat, peristiwa hidup tidak mudah mengguncangkan batinnya.
Selain itu, konsep ridha memperkaya pemahaman ini. Ridha bukan kepasrahan pasif, melainkan kemampuan melihat makna dalam hal-hal yang tidak kita pilih. Ini sangat kontras dengan budaya modern yang cenderung menolak segala bentuk ketidaknyamanan.
Jika psikologi positif mengajarkan makna, Islam menambahkan akhlak. Keduanya bertemu pada inti yang sama: kebahagiaan muncul akibat cara hidup yang benar.

Di Tengah Krisis Makna, Mengapa Relevan?

Kemunculan berbagai fenomena sosial—mulai dari burnout massal, kehilangan arah karier, hingga tekanan untuk selalu ā€œmeningkatkan diriā€ā€”menandai bahwa banyak orang hidup dalam krisis makna. Mereka terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir yang jelas. Kemudian, kebahagiaan digunakan sebagai ukuran keberhasilan, bukan sebagai dampak dari perjalanan hidup.
Ilustrasi anak lomba lari. Foto: Shutterstock
Padahal, baik psikologi positif maupun etika Islam menekankan hal yang sama: kebahagiaan yang stabil tidak muncul dari kejaran instan, tetapi dari orientasi hidup yang lebih dalam dan konsisten.
Eudaimonia dalam psikologi dan itmi’nan dalam Islam sama-sama menggambarkan kebahagiaan yang tidak meledak-ledak, tetapi tenang, kokoh, dan tidak mudah diambil oleh keadaan.

Jalan Keluar: Membangun Kehidupan yang Bernilai

Di tengah dorongan publik untuk tampil bahagia, pendekatan yang lebih realistis diperlukan. Orang tidak perlu memaksa dirinya untuk selalu positif. Justru, yang lebih penting adalah menata ulang arah hidup.
- apa nilai yang ingin dijaga,
- kontribusi apa yang ingin diberikan,
- relasi mana yang perlu dirawat,
- dan prinsip moral apa yang ingin dijadikan pegangan.
Ilustrasi anak muda yang bahagia karena bisa wujudkan mimpinya. Foto: Shutterstock
Kebahagiaan yang lebih tahan lama biasanya datang saat seseorang merasa hidupnya berarti, bukan hanya menyenangkan.

Bahagia yang Tidak Dikejar

Pada akhirnya, baik disiplin ilmiah maupun tradisi spiritual memberi pesan yang senada: kebahagiaan adalah dampak, bukan tujuan.
Ia datang bukan dari usaha untuk terlihat bahagia, melainkan dari hidup yang penuh makna, punya arah, dan berjalan dalam integritas. Di tengah budaya serba instan, mungkin kita justru perlu memperlambat langkah, menata niat, dan merawat nilai. Sebab kebahagiaan yang paling nyata bukanlah yang dicari, melainkan yang tumbuh ketika seseorang hidup dengan benar.
Trending Now