Konten dari Pengguna
Anak Pertama dan Beban yang Tak Pernah Diminta
23 Oktober 2025 6:00 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Anak Pertama dan Beban yang Tak Pernah Diminta
Anak pertama memikul tanggung jawab sejak kecil hingga dewasa. Pengorbanan mereka perlu dihargai, dan tetap beri mereka ruang untuk bahagia dan bermimpi. #userstoryZasqia Dwi Apriliani
Tulisan dari Zasqia Dwi Apriliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, anak pertama sering diajarkan menjadi panutan bagi adiknya untuk sabar, mengalah, dan melakukan hal yang ābenarā agar adik mencontoh perilaku yang baik dari sang kakak. Setiap langkah dan sikapnya seolah menjadi cermin bagi sang adik, sehingga tanggung jawab itu tertanam sejak usia dini. Namun, seiring bertambahnya usia, tanggung jawab itu tidak berhenti. Banyak anak pertama tetap merasa harus menjadi penopang keluarga, membantu kebutuhan adik, membiayai pendidikan, atau menambah penghasilan keluarga, meski itu berarti menunda impian dan kebahagiaan si sulung. Beban yang dimulai dari peran sebagai panutan kecil ini sering berlanjut menjadi tanggung jawab yang besar dan tidak diminta.
Seiring beranjaknya dewasa, peran anak pertama sering berubah dari āpanutan moralā menjadi penopang ekonomi. Banyak anak pertama harus menyeimbangkan pekerjaan, tabungan, dan tanggung jawab keluarga agar adik bisa hidup layak. Terkadang, mereka rela menunda rencana pribadi seperti kuliah, pindah kota, atau memulai usaha sendiri demi memastikan adik mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Beban yang tampak ringan saat kecil kini menjadi tantangan nyata yang memengaruhi hampir semua aspek hidup mereka. Tidak jarang, rasa lelah dan tekanan ini terasa sepi karena jarang ada yang benar-benar memahami perjuangan mereka.
Tekanan ini semakin diperkuat oleh ekspektasi keluarga dan lingkungan. Orang tua sering menganggap itu hal wajar, adik-adik menganggapnya hak, dan masyarakat menormalisasi bahwa anak pertama harus ākuat dan mandiriā. Anak pertama pun kerap merasa bersalah jika menolak permintaan keluarga atau memilih jalan hidup sendiri. Dalam banyak kasus, keinginan untuk mengekspresikan diri atau mengambil keputusan pribadi sering tertahan karena takut mengecewakan orang lain. Fenomena ini menimbulkan dilema tersendiri: membantu keluarga atau menjalani hidup sendiri?
Dampak dari tanggung jawab yang terus menumpuk ini tidak hanya bersifat finansial. Banyak anak pertama mengalami kelelahan mental, stres, dan kehilangan motivasi untuk berkembang. Mereka belajar bahwa hidup berarti memikul tanggung jawab orang lain, bahkan ketika kadang itu bukan hal yang seharusnya mereka tanggung. Rasa lelah ini sering tak terlihat, karena budaya keluarga jarang mendorong anak pertama untuk menyuarakan batasan. Akibatnya, mereka belajar menahan diri, tetapi juga kehilangan sedikit kebebasan yang seharusnya menjadi hak mereka.
Meski berat, anak pertama tetap bisa menemukan keseimbangan. Komunikasi yang jujur dengan orang tua dan adikāserta pembagian tanggung jawab yang jelasādapat membuat peran mereka lebih ringan. Anak pertama bisa tetap membantu keluarga, tapi juga tetap punya ruang untuk hidup dan mengejar impian sendiri. Belajar berkata ācukupā bukan egois, melainkan langkah penting agar pengorbanan tidak berubah menjadi beban yang menghancurkan. Perjuangan mereka perlu dihargai, bukan dianggap wajar atau sepele; karena setiap pengorbanan pasti ada batasnya.
Anak pertama memang sering memikul tanggung jawab sejak kecil hingga dewasa: dari menjadi panutan hingga menanggung kebutuhan adik. Beban ini lebih banyak muncul dari ekspektasi sosial dan budaya keluarga daripada kebutuhan nyata. Anak pertama berhak untuk hidup, bermimpi, dan bahagia tanpa rasa bersalah. Pengorbanan yang sehat dapat membentuk karakter dan kedewasaan, sementara pengorbanan yang dipaksakan hanya meninggalkan rasa lelah dan kesempatan hidup yang terbuang. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa menghargai perjuangan anak pertama sama pentingnya dengan memberi mereka ruang untuk menjadi diri sendiri.

