Konten dari Pengguna

Investasi Anak: Ketika Sekolah Tinggi Menjadi Tuntutan Balas Budi

Zasqia Dwi Apriliani
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
21 Oktober 2025 12:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Investasi Anak: Ketika Sekolah Tinggi Menjadi Tuntutan Balas Budi
Pendidikan tinggi kini sering jadi alat tuntutan balas budi, seolah keberhasilan anak adalah cara membayar cinta orang tua yang seharusnya tak pernah berutang.
Zasqia Dwi Apriliani
Tulisan dari Zasqia Dwi Apriliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gambar hanya sebagai pemanis (sumber: dihasilkan oleh Model AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar hanya sebagai pemanis (sumber: dihasilkan oleh Model AI)
Pendidikan tinggi selalu dianggap sebagai jalan menuju kesuksesan. Banyak orang tua rela berkorban waktu, tenaga, dan finansial agar anak mereka bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin. Namun di balik niat baik itu muncul pertanyaan, apakah pendidikan untuk masa depan anak atau justru dijadikan investasi untuk balas budi?
Di zaman sekarang tekanan ekonomi dan biaya hidup yang terus meningkat membuat orang tua melihat pendidikan anak sebagai bentuk investasi jangka panjang. Mereka berharap setiap pengorbanan yang diberikan akan terbayar ketika anak sukses, mandiri, dan mampu menghargai usaha orang tua. Anak pun sering kali merasa belajar bukan hanya untuk masa depannya sendiri tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk membalas pengorbanan yang telah diberikan
Fenomena ini sangat terlihat di kota-kota besar. Banyak anak muda harus memilih jurusan atau karier bukan berdasarkan minat atau passion, tetapi berdasarkan prospek pekerjaan dan gaji yang dianggap bisa mengembalikan investasi orang tua. Tekanan ini menimbulkan stres akademik dan emosional, sekaligus menimbulkan pertanyaan etis apakah anak benar-benar punya ruang untuk menentukan masa depannya sendiri.
Kritik terhadap praktik ini bukan berarti menolak pendidikan tinggi atau menghargai pengorbanan orang tua. Pendidikan seharusnya menjadi sarana pemberdayaan anak, bukan mekanisme pengembalian modal. Orang tua bisa mendukung anak dengan kasih sayang tanpa menuntut balas jasa, sementara anak diberikan kebebasan mengeksplorasi kemampuan dan minat mereka sehingga sukses yang diraih benar-benar bermakna dan membanggakan.
Di tengah tekanan hidup modern fenomena ini menjadi refleksi masyarakat yang kerap menilai keberhasilan melalui angka dan status. Pendidikan tinggi tidak boleh lagi menjadi alat menuntut balas jasa. Sebaliknya pendidikan harus menjadi fondasi bagi generasi muda untuk berkembang, berinovasi, dan menemukan jalannya sendiri. Dengan begitu keberhasilan anak bukan sekadar keuntungan finansial bagi orang tua tetapi pencapaian yang membanggakan secara pribadi dan sosial.
Pada akhirnya anak bukanlah proyek investasi yang harus memberikan hasil balik. Anak adalah individu yang tumbuh dengan mimpi, arah, dan jalan hidupnya sendiri. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi bekal untuk mewujudkan potensi bukan alat ukur seberapa besar pengorbanan orang tua harus dibayar kembali. Jika kasih sayang digantikan dengan tuntutan maka makna pendidikan itu sendiri menjadi hilang. Saat orang tua belajar untuk memberi tanpa berharap imbalan dan anak belajar untuk berhasil tanpa merasa berutang di situlah lahir hubungan yang sejati antara cinta dan kebebasan.
Trending Now