Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Haus Validasi?

Zasqia Dwi Apriliani
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
5 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa Kita Haus Validasi?
Kita sering mengejar pengakuan dari orang lain demi merasa berharga. Padahal, kebahagiaan sejati bukan datang dari validasi luar, melainkan dari penerimaan dan kedamaian diri sendiri. #userstory
Zasqia Dwi Apriliani
Tulisan dari Zasqia Dwi Apriliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi orang akan memposting dirinya di media sosial untuk mendapatkan atensi dari orang lain karena ingin dianggap keren (Foto: Pexels).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang akan memposting dirinya di media sosial untuk mendapatkan atensi dari orang lain karena ingin dianggap keren (Foto: Pexels).
Pernah nggak sih, kamu upload sesuatu ke media sosial, lalu tiap lima menit cek siapa aja yang udah like? Atau, kamu pernah merasa sedikit kecewa waktu story kamu nggak banyak yang nonton? Padahal, kalau dipikir, hal-hal kecil itu nggak seharusnya sepenting itu. Namun entah mengapa, tetap aja rasa ingin dilihat, diakui, dan dianggap “wah” muncul di dalam diri.
Itulah yang namanya haus validasi, sebuah rasa ingin diakui yang begitu halus, tapi diam-diam mengendalikan banyak aspek dalam hidup kita. Kita jadi sibuk memastikan diri terlihat baik di mata orang lain, meskipun belum tentu kita baik-baik saja.
Di era sekarang, validasi sudah seperti kebutuhan baru. Bukan cuma makan dan minum, tapi juga pengakuan. Kita mau dianggap produktif, kelihatan bahagia, dan dibilang keren. Semua seolah berlomba menunjukkan versi terbaik diri sendiri, bahkan kalau itu berarti harus pura-pura sebentar.
Padahal, rasa ingin diakui itu wajar. Semua orang mau diterima. Sejak kecil, kita tumbuh dengan apresiasi: dapat nilai bagus atau dipuji; berprestasi sedikit, disoraki. Dari situ, kita belajar kalau pengakuan orang lain itu menyenangkan. Namun sayangnya, semakin kita dewasa, semakin kita sering lupa bahwa pengakuan itu nggak selalu harus datang dari luar.
Masalahnya muncul ketika kita mulai mengaitkan nilai diri dengan pendapat orang lain. Saat nggak ada yang muji, kita merasa gagal; saat nggak ada yang komentar, kita ngerasa nggak menarik, seolah kebahagiaan harus disetujui terlebih dahulu oleh dunia luar.
Ilustrasi orang bermain media sosial untuk mendapatkan validasi (Foto: Pexels).
Media sosial makin memperkuat itu semua. Kita terbiasa hidup dalam angka jumlah like, view, comment, dan share. Semuanya jadi tolak ukur kebahagiaan yang semu. Padahal, nggak semua yang kelihatan bahagia benar-benar bahagia dan nggak semua yang terlihat biasa sedang gagal.
Haus validasi juga kadang muncul dari ketakutan sederhana, yaitu takut nggak dilihat. Manusia ingin eksis dan terasa berarti. Namun terkadang, kita lupa bahwa dilihat bukan berarti dimengerti, disukai bukan berarti diterima, dan diakui bukan berarti benar-benar dikenal.
Mungkin di titik ini, kita hanya butuh berhenti sejenak: berhenti membuktikan, berhenti membandingkan, dan mulai menikmati hidup tanpa penonton. Karena ternyata, nggak apa-apa kok kalau nggak semua hal harus terlihat, nggak apa-apa kalau nggak semua orang tahu kita lagi bahagia.
Kadang, hal paling berharga justru yang nggak perlu diumumkan kepada siapa pun. Karena di balik layar yang padam dan di luar notifikasi yang sepi, ada hal yang jauh lebih penting dari validasi, yaitu kedamaian dengan diri sendiri.
Trending Now