Konten dari Pengguna

Budaya yang Kita Pamerkan, Tapi Tak Lagi Kita Pahami

Zeheskiel Nainggolan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer,Universitas Katolik Santo Thomas Medan
22 November 2025 1:55 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Budaya yang Kita Pamerkan, Tapi Tak Lagi Kita Pahami
Tulisan ini mengajak kita kembali merawat budaya sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar dekorasi yang hidup dari likes dan komentar
Zeheskiel Nainggolan
Tulisan dari Zeheskiel Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era media sosial yang serbacepat, budaya seolah menjadi komoditas baru. Kita bangga memamerkan kain tradisional, tarian daerah, atau tradisi adat demi memperindah feed Instagram dan menaikkan citra diri. Namun, ironisnya, semakin sering budaya dipamerkan, semakin jauh pula kita dari makna yang sesungguhnya.
sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar dari AI
Banyak di antara kita yang mengenakan batik hanya saat hari tertentu, sekadar mengikuti peraturan kantor atau momentum Hari Batik Nasional. Namun, apakah kita masih memahami filosofi motif-motif yang dikenakan? Apakah kita tahu batik pernah menjadi simbol perlawanan dan identitas sebuah bangsa? Tidak sedikit pula yang menampilkan tarian daerah sebagai hiburan panggung instan, dengan tempo dipercepat agar sesuai algoritma—lalu melupakan nilai sakral yang diperjuangkan oleh leluhur.
Budaya kini tidak lagi menjadi napas kehidupan bermasyarakat, melainkan konten siap unggah. Kita lebih sibuk mencari spot foto di kampung wisata ketimbang mendengarkan cerita warga yang menjaga tradisi itu tetap hidup. Kita menghafal nama kuliner khas dari berbagai daerah, tapi lupa bagaimana sejarah atau ritual yang melahirkannya.
Jika dulu budaya berkembang dari kesadaran kolektif dan pengalaman hidup, kini budaya direduksi menjadi label identitas—yang dipakai saat butuh pengakuan, lalu dilepas ketika panggung sudah gelap.
Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Media sosial membuka ruang bagi budaya untuk ditemukan kembali oleh generasi muda. Tapi kita perlu ingat: memamerkan bukan hal yang buruk, selama dibarengi pemahaman. Budaya harus dirayakan, bukan dikomodifikasi; dijaga, bukan hanya dipajang.
Kita perlu kembali bertanya pada diri sendiri: budaya ini milik siapa? Untuk apa ia diciptakan? Dan sudah sejauh apa kita menjaganya tetap bernyawa?
Jangan sampai suatu hari nanti, kita hanya menjadi bangsa yang bangga pada budaya yang tak lagi kita mengerti—bangsa yang kehilangan jati diri karena terlalu sibuk membungkusnya dalam likes dan komentar.
Budaya bukan sekadar simbol. Ia adalah ruang belajar, rasa memiliki, dan akar yang memperkuat kita dalam menghadapi dunia yang terus berubah. Mari tidak lagi sekadar memamerkan budaya. Mari kembali memahaminya.
penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas,Medan
Trending Now