Konten dari Pengguna
Lulus Cepat, Tapi Bingung Mau Jadi Apa
30 Desember 2025 23:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Lulus Cepat, Tapi Bingung Mau Jadi Apa
Lulus tepat waktu sering dianggap sukses. Tapi banyak lulusan justru bingung menentukan arah hidup.Zeheskiel Nainggolan
Tulisan dari Zeheskiel Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku lulus tepat waktu. Tidak terlambat, tidak tertinggal. Di atas kertas, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Wisuda berlangsung meriah, ucapan selamat datang dari berbagai arah, dan foto toga sempat memenuhi linimasa. Untuk sesaat, aku merasa sudah sampai di satu titik penting.
Tapi beberapa hari setelah itu, muncul pertanyaan yang tidak ikut diabadikan dalam foto: setelah ini, aku mau jadi apa?
Pertanyaan itu tidak datang dengan dramatis. Ia muncul pelan, di sela membuka lowongan kerja, saat mendengar pertanyaan keluarga tentang rencana ke depan, atau ketika melihat teman-teman yang tampak sudah melangkah lebih pasti. Di titik itu, aku mulai sadar bahwa lulus—bahkan lulus cepat—tidak otomatis membuat segalanya jelas.
Sejak awal, kami diajari untuk mengejar target. Ambil SKS sesuai jalur, kejar IPK, jangan mengulang, dan pastikan lulus tepat waktu. Sistem pendidikan kita sangat rapi dalam mengatur jadwal dan angka, tapi sering lupa memberi ruang untuk satu hal penting: mengenal diri sendiri.
Aku bisa menyelesaikan kuliah, tapi tidak pernah benar-benar diajak bertanya apa yang ingin aku lakukan setelahnya. Minat sering dianggap gangguan. Mencoba hal di luar rencana akademik kerap dicurigai sebagai ketidaksungguhan. Akhirnya, banyak dari kami lulus dengan gelar di tangan, tapi tanpa arah yang benar-benar kami pahami.
Tekanan sosial membuat semuanya terasa lebih sempit. Cepat lulus dianggap sukses. Belum bekerja dianggap tertinggal. Media sosial memperlihatkan potongan hidup orang lain yang tampak rapi dan meyakinkan. Di tengah itu semua, kebingungan terasa seperti kesalahan pribadi, padahal hampir semua orang pernah mengalaminya.
Masalahnya bukan hanya pada individu. Dunia kerja pun sering terasa asing. Banyak tuntutan yang tidak sepenuhnya disiapkan kampus. Pengalaman diminta, keterampilan praktis diharapkan, sementara kami baru saja belajar bertahan di ruang kelas. Tidak heran jika banyak lulusan merasa canggung memasuki dunia nyata.
Di titik ini, aku mulai percaya bahwa kebingungan setelah lulus bukan tanda kegagalan. Ia justru tanda bahwa seseorang sedang berusaha jujur pada dirinya sendiri. Sayangnya, kejujuran semacam ini jarang diberi ruang dalam sistem yang terlalu memuja kecepatan dan kepastian.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap lulus cepat sebagai tujuan akhir. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak orang yang efisien, tapi juga manusia yang sadar akan pilihannya, siap belajar ulang, dan tidak panik ketika hidup tidak langsung rapi.
Bagi aku—dan mungkin banyak lulusan lain—kebingungan ini bukan akhir cerita. Ia adalah jeda. Ruang untuk bertanya ulang, menyusun ulang, dan perlahan memahami arah. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling cepat selesai, tapi siapa yang paling sadar ke mana ia melangkah.
Penulis adalah Mahasiswa Fakuktas Ilmu Komputer,Universitas Katolik Santo Thomas,Medan

