Konten dari Pengguna
Sastra yang Sunyi,TikTok yang Ramai: Ke Mana Perginya Rasa?
22 November 2025 1:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sastra yang Sunyi,TikTok yang Ramai: Ke Mana Perginya Rasa?
Dari buku yang terselip sampai layar yang terus menyala dimana rasa kita sekarang? Artikel ini mengajak kita kembali pada keheningan sastra, sebelum konten viral menenggelamkannya.Zeheskiel Nainggolan
Tulisan dari Zeheskiel Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya sering mengingat aroma buku yang dulu begitu akrab. Kertas yang menguning, tanda halaman yang terselip tergesa, dan keheningan yang menghantarkan saya pada dunia-dunia lain. Dulu, membaca adalah perjalanan panjang yang penuh kejutan. Sekarang? Kebanyakan dari kita memilih perjalanan dalam hitungan detik—geser ke atas, tawa sebentar, lalu lupa.
TikTok menjadi panggung paling ramai hari ini. Setiap detik ada yang menari, beropini, atau sekadar menertawakan diri sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu—dunia memang berubah. Namun di tengah keramaian itu, sastra semakin kehilangan kursinya. Ia duduk paling belakang, terbatuk pelan meminta perhatian, tetapi suara musik dan efek visual membuat bisiknya tenggelam begitu saja.
Kita hidup dalam budaya yang mendorong semua hal menjadi serba cepat. Kita ingin tahu inti cerita tanpa membaca ceritanya. Kita ingin emosi yang langsung meledak tanpa harus memahami latarnya. Bahkan cinta pun kini diukur dengan durasi konten: kalau tidak menarik dalam tiga detik pertama, geser—lanjut—hapus.
Sastra tidak pernah didesain untuk dunia semacam itu. Ia menuntut kesabaran; ia mengajak kita berhenti sejenak dan merasai tiap detail. Dalam membaca, kita belajar menatap luka orang lain dan menyadari bahwa luka kita bukan satu-satunya. Buku mengajarkan empati, bukan sensasi. Namun kini, sensasi jauh lebih murah harganya—cukup satu filter dan caption lucu, kita langsung merasa terhibur.
Masalahnya, hiburan yang lewat begitu cepat jarang menyisakan jejak. Kita tertawa sebentar, lalu mencari tawa lainnya. Tidak ada ruang untuk jeda. Tidak ada waktu untuk bertanya pada diri sendiri: “Kenapa aku merasa begini?”
Tanpa kita sadari, algoritma telah menjadi kurator emosi kita. Ia yang menentukan apa yang harus kita sukai, tertawakan, bahkan benci. Sementara sastra mengajak kita memilih dan menemukan sendiri. Yang tak populer pun bisa menghantam paling dalam—jika kita mau membuka halaman pertama.
Saya tidak anti-TikTok. Saya sendiri menjelajahinya—kadang terjebak lebih lama dari yang saya rencanakan. Tetapi saya merindukan momen ketika rasa tumbuh pelan-pelan. Ketika sebuah paragraf membuat saya berhenti, mengulang membacanya, lalu menatap kosong ke langit-langit karena hati saya belum siap menerima apa yang baru saja saya pahami.
Keramaian selalu menggoda. Namun sesekali, kita butuh pulang ke kesunyian. Tempat di mana kata-kata tidak berlomba untuk viral, melainkan untuk menyentuh.
Jika sastra menghilang — jika kita berhenti membaca cerita yang sunyi—apakah kita masih akan mampu merasakan kedalaman itu? Atau jangan-jangan, kita sedang perlahan kehilangan bagian dari diri kita sendiri, tetapi terlalu sibuk menggulir layar untuk menyadarinya?
Pada akhirnya, saya hanya ingin mengajak kita mengingat: rasa tidak tumbuh dalam kecepatan. Ia membutuhkan jeda. Dan kadang, dalam sebuah halaman yang sederhana, rasa itu menunggu untuk kembali kita temukan.
penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

