Konten dari Pengguna

Siapa Aku di Dunia yang Bisa Meniru Semua Orang?

Zeheskiel Nainggolan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer,Universitas Katolik Santo Thomas Medan
25 November 2025 21:00 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Siapa Aku di Dunia yang Bisa Meniru Semua Orang?
Di era media sosial, kita makin mirip satu sama lain. Algoritma dan tren menyeragamkan diri kita. Lalu, siapa sebenarnya kita ketika berhenti meniru?
Zeheskiel Nainggolan
Tulisan dari Zeheskiel Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada masa ketika menjadi diri sendiri terasa cukup. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap orang unik, memiliki warna berbeda, suara yang khas, dan jalan hidup yang tak perlu disamakan dengan siapa pun. Namun kini, kita hidup di era yang justru merayakan kesamaan. Menjadi ā€œmiripā€ sering kali lebih dihargai ketimbang menjadi ā€œbedaā€. Dunia digital menjadikan imitasi sebagai bahasa pergaulan yang paling populer.
Ketika membuka media sosial, kita menemukan pola yang sama berulang-ulang: gaya bicara seleb TikTok, busana yang wajib hype, opini yang ikut arus, hingga hobi yang diikuti bukan karena suka—melainkan karena banyak yang melakukannya. Jika tren berkata A, kita merasa aneh bila masih menyukai B. Apakah ini yang disebut kebebasan?
sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar dari AI
Saya sering bertanya-tanya: apakah saya masih punya preferensi pribadi? Ataukah semuanya hanya hasil dari pengaruh yang tak saya sadari? Dari musik yang saya dengarkan, kata-kata yang saya pilih, hingga cara saya tersenyum—berapa persen yang benar-benar milik saya?
Di internet, identitas diperlakukan seperti produk: bisa dibentuk, dipoles, dikurasi sesuai ekspektasi pasar. Kita menghilangkan sisi-sisi yang dianggap kurang laku, menyembunyikan bagian yang terlalu jujur, lalu menjual versi diri yang paling aman dikonsumsi. Ironisnya, semua produk identitas itu justru terlihat sama.
Kita ingin tampak menarik, tapi akhirnya menarik dengan cara yang sama.
Banyak dari kita tidak sadar bahwa ā€œkesamaanā€ telah menjadi norma sosial baru. Kita takut berbeda, karena berbeda berarti ganjil. Kita takut tidak relevan, karena relevansi kini menjadi ukuran harga diri. Kita takut salah melangkah, karena kesalahan di internet bukan hanya memalukan—kadang bisa berujung pembantaian massal dalam kolom komentar.
Akhirnya, mengikuti menjadi strategi bertahan hidup. Kalau orang lain diterima dengan cara tertentu, mengapa tidak meniru saja rumus keberhasilannya?
Logikanya sederhana: aman = sama.
Platform digital seolah tidak menyukai sesuatu yang terlalu unik. Konten yang serupa lebih mudah dipromosikan: remix, remake, ā€œversi gueā€, dan seterusnya. Algoritma bekerja layaknya penjaga gerbang relevansi—menentukan siapa yang layak dilihat dan siapa yang layak dilupakan.
Pada titik ini, kreativitas kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menantang kebiasaan, melainkan tunduk pada apa yang sedang ramai.
Mereka yang berbeda mungkin benar, namun bisa saja tak dianggap penting—setidaknya di mata algoritma.
Begitu sering kita menyesuaikan diri dengan selera umum, sampai lupa seperti apa bentuk asli kita. Kita menjadi aktor yang lupa naskah aslinya, karena terlalu lama memerankan karakter lain.
Saat layar dimatikan, komentar berhenti, dan notifikasi sepi—kita mendadak kehilangan arah.
Siapa aku ketika tidak ada yang menonton?
Pertanyaan itu menakutkan. Lebih menakutkan daripada tidak dapat likes cukup.
Mungkin jawabannya bukan dengan menolak semua tren. Kita hidup di dunia yang saling memengaruhi, dan itu bukan hal buruk. Kita hanya perlu menyadari bahwa pengaruh tidak harus menghapus keunikan.
Menjadi diri sendiri bukan berarti anti-viral. Bukan berarti menutup diri dari dunia digital. Tapi kita perlu memiliki pijakan—sesuatu yang membuat kita tahu mana yang lahir dari keinginan sendiri dan mana yang hanya untuk terlihat cocok.
Saya ingin percaya masih ada ruang bagi ketidaksamaan. Bagi suara yang serak, gaya yang aneh, pikiran yang tidak semua orang setujui.
Karena apa gunanya dunia yang bisa meniru segala hal, jika akhirnya kehilangan semua yang membuat kita manusia?
Pada akhirnya, saya hanya ingin bisa menjawab pertanyaan sederhana ini tanpa ragu:
Siapa aku, ketika aku berhenti meniru?
penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer,Universitas Katolik Santo Thomas Medan
Trending Now