Konten dari Pengguna

Makanan, Kekuasaan, dan Satu Suapan Karma

Ryo Zen Favian Inzaghi
Lulusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
25 Juli 2025 11:44 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makanan, Kekuasaan, dan Satu Suapan Karma
Saat Gaza kelaparan, Netanyahu justru tersungkur di meja makan. Sebuah ironi kekuasaan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Ryo Zen Favian Inzaghi
Tulisan dari Ryo Zen Favian Inzaghi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika bumi Gaza dilanda kelaparan, dunia justru dikejutkan oleh kabar dari sisi lain meja makan. Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang selama ini dengan tenang mengatur blokade masuknya bantuan kemanusiaan, dikabarkan mengalami keracunan makanan. Menurut laporan, ia menderita radang usus dan dehidrasi. Sebuah ironi yang terlalu indah untuk tidak dicatat sejarah.
Tentu kita tidak boleh mendoakan sakit siapa pun. Iya 'kan? Tapi jika semesta punya cara tersendiri untuk memberi peringatan, mungkin seperti inilah bentuknya: seorang pemimpin yang membuat satu bangsa kelaparan, kini mendadak tumbang oleh makanan yang ia telan.
Makanan—sebuah kemewahan yang bahkan tak sempat dirasakan oleh Mohammad Swafiri, penyandang disabilitas yang meregang nyawa dengan lambung kosong dan tulang menonjol. Atau Razan Abu Zaher, bocah empat tahun yang meninggal dalam diam karena otaknya perlahan menyusut akibat gizi yang tak pernah datang.
Netanyahu ambruk bukan karena rudal, bukan karena tekanan internasional, namun oleh makanan yang ia telan sendiri. Cukup ironis, bukan? Sementara rakyat Palestina memakan segenggam nasi yang mereka temukan di tempat sampah, Netanyahu tersungkur setelah suapan makanan yang telah dikutuk sumpah serapah.
Apakah ini balasan ilahi? Tentu kita tidak tahu pasti. Tapi semesta selalu punya cara yang unik untuk mengembalikan sedikit keseimbangan di tengah dunia yang timpang.
Ketika koki lebih berkuasa dari perdana menteri
Ilustrasi seorang koki yang sedang menyiapkan hidangan mewah. Foto: Fabrizio Magoni via Unsplash
Michel Foucault, seorang filsuf Prancis yang suka menguliti cara kerja kekuasaan, pernah berkata bahwa kekuasaan di zaman modern tidak selalu terlihat lewat kekerasan atau teriakan otoritas. Justru, kekuasaan yang paling kuat adalah yang bekerja diam-diam lewat tubuh manusia, bagaimana tubuh diatur, dilatih, dan dikontrol sampai jadi tunduk tanpa sadar.
Dalam bukunya Discipline and Punish (1977), ia menyebut konsep ini sebagai “docile bodies”, tubuh-tubuh yang patuh. Lentur, mudah dibentuk, dan bisa dikendalikan untuk tujuan kekuasaan (ibid, h. 135). Dalam hal ini tubuh bukanlah sekedar segumpal daging dan tulang, tapi menjadi alat politik untuk mempertahankan kontrol. Tubuh-tubuh tersebut dikendalikan baik lewat aturan, wacana, sampai urusan paling mendasar sekalipun: makanan.
Tentunya, yang biasanya menjadi korban dari sistem ini adalah mereka yang lemah: tahanan, rakyat, pekerja, atau dalam konteks ini, rakyat Palestina yang sengaja dilaparkan karena semua akses pangan dibatasi.
Namun ada satu kalimat Foucault yang terasa nyaring jika dikaitkan dengan peristiwa ini. Ia menuliskan, “Power is exercised rather than possessed; it is not the ‘privilege,’ acquired or preserved, of the dominant class, but the overall effect of its strategic positions” (ibid, h.26).
Dengan kata lain, kekuasaan itu bukanlah hal yang dapat dimiliki selamanya. Ia bisa bergeser dan bisa berubah arah, berputar balik menyerang tubuh yang semula mengendalikannya. Ketika Netanyahu tumbang karena makanan yang ia telan sendiri, itu bisa diartikan sebagai tubuh yang kehilangan kekuasaan atas dirinya sendiri.
Jika tubuh rakyat Palestina dikendalikan lewat kelaparan, maka tubuh Netanyahu, secara ironis justru tumbang karena makanan yang ia telan. Dua sisi dari satu meja makan yang timpang. Inilah bentuk ironi yang sesungguhnya: seorang penguasa yang begitu berkuasa atas tubuh orang lain, ternyata tidak berdaya atas tubuhnya sendiri.
Lucunya, di tengah kegaduhan peristiwa ini, sebuah media satire bernama Waterford Whispers News menulis headline yang menohok, “Chef Who Gave Netanyahu Food Poisoning Favourite for Nobel Peace Prize”. Tentu saja ini bukan berita sungguhan. Tapi seperti satire politik pada umumnya, ada kritik yang terselip dibungkus dengan humor. Judul tersebut menertawakan kesintingan yang terjadi saat ini, ketika sang pemimpin tak bisa diseret ke pengadilan atas genosida, justru seorang kokilah yang bisa “menghukum” dia.
Di sinilah kita bisa melihat bagaimana kekuasaan bekerja secara tak terduga. Foucault pernah bilang, kekuasaan itu bukanlah suatu hal yang bisa dimiliki seperti harta, melainkan sesuatu yang muncul dan bekerja melalui relasi dan posisi yang strategis (Discipline and Punish, h.26). Ia tak selalu datang dari pangkat ataupun senjata, tapi dari posisi strategis yang memungkinkan seseorang membuat perubahan.
Dan dalam kasus ini, posisi itu justru ada di tangan si koki. Ia bukan pembuat kebijakan, bukan pula komandan militer, tapi justru ia yang punya celah paling nyata untuk mempengaruhi tubuh sang penguasa. Dari sudut pandang Foucault, ini adalah contoh kecil tapi gamblang bahwa kekuasaan bisa berpindah arah dan muncul dari mana saja.
Tentu saja, satu kasus keracunan makanan tak bisa, dan tak akan pernah bisa disejajarkan dengan penderitaan rakyat Palestina. Tak ada yang bisa menandingi nyeri seseorang yang meninggal perlahan karena kelaparan, atau seorang ibu yang harus kehilangan anaknya karena bantuan tak kunjung sampai.
Tapi, tetap saja, di tengah ketimpangan yang memuakkan ini, kisah seorang penguasa yang tumbang oleh isi piringnya sendiri terasa layak dicatat. Sebuah pertanda bahwa semesta pun kadang ikut bersuara, dengan cara yang tak terduga.
Trending Now