Konten dari Pengguna
Negeri yang Sengaja Dilaparkan
24 Juli 2025 12:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Negeri yang Sengaja Dilaparkan
Di balik berita “krisis pangan” yang dialami rakyat Palestina, tersembunyi kekerasan yang terencana. Ryo Zen Favian Inzaghi
Tulisan dari Ryo Zen Favian Inzaghi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dunia yang dulu ramai berisik soal hak asasi manusia, kini memilih diam sambil menunduk pura-pura sibuk. Video demi video memperlihatkan warga Palestina—kakek renta, anak kecil, hingga penyandang difabel—terkulai kelaparan. Tapi semua itu hanya menjadi tayangan, berlalu sekilas, lalu hilang ditelan scroll. Kita hidup di masa di mana simpati punya durasi. Terdengar, tapi tak didengar. Terlihat, tapi tak benar-benar dilihat.
Dan seperti biasa, dari kejauhan, kita hanya bisa menatap, menyimak, dan mungkin yang paling menyakitkan, melanjutkan hidup sambil menipu diri sendiri bahwa semua ini bukan urusan kita. Yang menakutkan bukan hanya bahwa mereka dibunuh, tapi bahwa kita sudah terbiasa menyaksikannya. Hari demi hari, dengan ekspresi yang sama datarnya seperti saat membaca ramalan cuaca. Apakah ini tragedi yang sesungguhnya?

Kelaparan yang dirancang
Kekerasan biasanya kita bayangkan sebagai sesuatu yang konkret, nyata, tidak teratur, namun berdampak instan. Tapi bagaimana dengan kekerasan yang berlangsung dengan pelan dan sistematis?
Itulah yang disebut slow violence oleh Rob Nixon. Dalam karyanya “Slow Violence and the Environmentalism of the Poor”, ia mendeskripsikan slow violence sebagai bentuk kekerasan yang terjadi secara perlahan dan di luar jangkauan mata, memiliki efek kehancuran yang tertunda, menyebar secara perlahan dan sering kali tak dikenali sebagai kekerasan sama sekali (ibid, h.2). Slow violence bekerja seperti racun, perlahan membuat tubuh tumbang bukan dalam hitungan detik, tapi dalam hari, minggu, bahkan berbulan-bulan.
Inilah yang sedang dialami oleh rakyat Palestina saat ini. Di tengah reruntuhan yang tak lagi mengejutkan siapa pun, kelaparan kini menjadi senjata sunyi yang mematikan. Bukan karena bumi Palestina tak mampu menumbuhkan makanan, tapi karena langit dan daratannya dikunci rapat dan dibiarkan membusuk dalam diam.
Diantara puing dan debu, muncul sebuah video dari akun Instagram @wissamgaza, menampilkan seorang kakek tua yang meninggal dunia saat mengantre jatah makanan. Tak ada peluru. Tak ada ledakan. Hanya tubuh renta yang ambruk menyerah sebelum roti sempat digenggam tangan.
Sementara itu, akun lain dengan nama @eye.on.palestine mengangkat kisah Mohammad Swafiri, seseorang berkebutuhan khusus yang terbaring dalam keadaan menyedihkan, tinggal tulang dan kulit. Ia tak gugur oleh peluru, tapi oleh perut kosong yang tak sempat diisi, dikepung oleh blokade yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke tanah Palestina.
Bernasib serupa, Razan Abu Zaher, balita berumur empat tahun yang harus menutup usia karena menderita atrofi otak, sebuah istilah klinis yang menjelaskan terjadinya penyusutan jaringan otak akibat kekurangan gizi ekstrem.
Sementara itu, salah satu media internasional dengan eufemisme yang rapi menulis judul, “Four-year-old Gazan girl dies of hunger, the latest victim of a deepening food crisis”. Iya, “food crisis” kata mereka, sebuah frasa yang terasa sedikit terlalu manis untuk menggambarkan realita yang pahit, karena ini bukan sekedar masalah distribusi pangan. Ini adalah kelaparan yang dirancang dan diciptakan secara sistematis. Lihat bagaimana frasa food crisis dipilih dengan hati hati. Netral. Tidak menyalahkan siapa pun. Seolah ini terjadi secara alami, bukan suatu hal yang dirancang.
Media internasional, dan mungkin kita semua, memang lebih mudah tergugah oleh berita penembakan atau dentuman bom, daripada tubuh yang perlahan menyusut karena lapar. Darah lebih “layak diberitakan” sehingga perut kosong seringkali terlewatkan. Begitulah cara slow violence bekerja, secara perlahan dan tanpa sorotan langsung, sehingga narasi ini sulit untuk dijual ke publik (Nixon, 2011:6). Itulah mengapa kisah-kisah diatas menjadi tidak menarik bagi dunia yang sudah terlalu terbiasa dengan tayangan kematian.
Fenomena ini tak jauh berbeda dengan apa yang dijelaskan Giorgio Agamben tentang kekuasaan yang memutuskan siapa yang layak dipedulikan, dan siapa yang tidak. Dalam tulisannya “Sovereign Power and Bare Life” (1988: 8), ia menjelaskan bagaimana manusia bisa direduksi menjadi tubuh biologis semata, bare life, tanpa hak dan wewenang, bisa dipelihara atau dibiarkan mati, tergantung pada keputusan politik yang menguasainya.
Seperti itulah kondisi Palestina saat ini, sebuah kamp besar di mana penduduknya tak lagi punya perlindungan, tak punya suara, dan tak punya tempat mengadu. Ketika hukum internasional sudah tidak lagi berlaku, di sanalah tempat bare life dipertontonkan setiap harinya.
Dan di sinilah kita, menonton semuanya dari jauh, merasa sesak sesaat, lalu kembali sibuk dengan rutinitas. Sebenarnya, kita bukan tidak tahu, hanya terlalu nyaman untuk benar-benar peduli. Dunia terus berputar, waktu terus berjalan, dan hidup menuntut untuk dijalani. Namun, terkadang di tengah guliran scroll, masih ada wajah yang muncul dan ada kisah yang menuntut untuk tidak dilupakan.
Catatan Redaksi
• Referensi Literatur:
Nixon, R. (2011). Slow Violence and the Environmentalism of the Poor. Harvard University Press.
Agamben, G. (1998). Sovereign power and bare life. Stanford University Press
• Referensi Video:
https://www.instagram.com/reel/DMU4n7tuU1l/?igsh=MXg0bDc2dzlmZHI3eQ==
https://www.instagram.com/reel/DMVqEu2qc7X/?igsh=N3E1OTR3cWd1Ymo0
https://www.instagram.com/reel/DMWudbCMqZB/?igsh=bHRubnVrNDg0anY0

