Konten dari Pengguna
Memaknai Hari Santri yang Melampaui Seremoni dan Esensi Bakti untuk Negeri
22 Oktober 2025 12:29 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Memaknai Hari Santri yang Melampaui Seremoni dan Esensi Bakti untuk Negeri
Refleksi Hari Santri 2025: Bukan sekadar seremoni, tapi momentum introspeksi. Meneruskan spirit Resolusi Jihad, santri membuktikan kontribusinya untuk kemajuan negeri.Zidny Taqiyya
Tulisan dari Zidny Taqiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, 22 Oktober 2025, kita kembali merayakan perjalanan Hari Santri Nasional yang telah menginjak usianya yang ke sebelas tahun. Sebelas tahun adalah sebuah rentang waktu yang cukup untuk mengajak kita berhenti sejenak, bukan sekadar untuk menggelar perayaan, namun untuk merenung lebih dalam.
Apakah peringatan ini telah menjadi sebuah tradisi yang mengakar, atau baru sebatas rutinitas seremonial yang terus berulang? Jauh di lubuk hati, kita semua memahami bahwa Hari Santri sejatinya adalah sebuah pengingat, sebuah simpul pengikat yang membawa kita kembali pada esensi perjuangan dan kecintaan pada negeri.
Sejenak mari kita resapi bahwa peringatan Hari Santri ini terinspirasi dari api perjuangan yang tak kunjung padam, dari gema Resolusi Jihad yang membuktikan bahwa cinta tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari iman.
Seperti yang sering ditekankan oleh mendiang sejarawan Prof. Dr. Azyumardi Azra (2012), "Santri dan pesantren adalah soko guru kemerdekaan. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 bukanlah sekadar fatwa, tapi mobilisasi teologis-politis yang membuktikan bahwa patriotisme dan religiusitas adalah dua sisi mata uang yang sama bagi kaum santri."
Semangat para kiai dan santri di masa lalu bukanlah sekadar catatan sejarah yang heroik untuk diceritakan dan dikenang, melainkan warisan energi yang harus terus kita alirkan. Maka, momentum ini menjadi sarana berharga bagi kita, santri masa kini, untuk menerjemahkan spirit perjuangan itu ke dalam bahasa karya.
Kami sebagai santri menyadari bahwasanya dalam perjalanannya, kita dihadapkan pada berbagai dinamika. Apa yang terjadi dan sempat menjadi sorotan publik, seperti insiden yang melibatkan Trans7 dan Pondok Pesantren beberapa waktu lalu, sejatinya harus kita maknai sebagai cermin untuk introspeksi.
Kejadian itu, alih-alih dilihat oleh masyarakat sebagai sebuah konfrontasi, justru sebenarnya dapat menjadi titik awal kesadaran baru. Ia menunjukkan betapa besarnya ghirah atau rasa kecintaan yang tersimpan di dalam dada kaum santri. Tetapi, disinilah letak tantangan untuk ke depannya.
Ulama karismatik KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam channel Youtube beliau (2025), pernah mengingatkan bahwa "Ghirah (semangat) dalam beragama itu penting, namun harus dibimbing oleh ilmu dan akhlak. Kecintaan yang besar harus diwujudkan dengan cara yang paling santun dan bijak, agar tidak merusak esensi dakwah itu sendiri."
Bentuk Kecintaan yang terarah inilah yang harus bermanifestasi dalam tindakan-tindakan positif untuk merawat Indonesia. Hal ini sejalan dengan pandangan Pengamat Pendidikan Islam, Dr. Arifin Djauhari (2025) yang dalam sebuah seminar menegaskan bahwasanya di era disrupsi informasi, tantangan terbesar pesantren bukanlah modernitas, melainkan menjaga otentisitas dan kepercayaan publik.
Pesantren harus menjadi lembaga yang adaptif secara metodologi namun kokoh secara nilai. Introspeksi adalah kunci utamanya. Kepercayaan itu diraih dengan terus membuktikan bahwa pesantren adalah oase, tempat di mana masyarakat menemukan jawaban atas kegelisahan zaman yang tak lekang oleh zaman.
Inilah saatnya kita membuktikan bahwa santri tidak hanya unggul dalam khazanah ilmu keagamaan, tetapi juga cemerlang dalam sains, teknologi, dan berbagai bidang profesional lainnya. Menjadi santri yang berprestasi, yang kehadirannya senantiasa memberikan kesejukan bagi masyarakat atau AA Gym (2022) menyebutnya dengan konsep "3 A" yaitu "Aku aman bagimu, Aku menyenangkan bagimu, dan Aku bermanfaat bagimu".
Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama, Dr. Ainun Najib (2024) sering menggaungkan bahwasanya santri hari ini harus menjadi problem solver. Kita tidak boleh gagap teknologi. Penguasaan coding atau data science sama pentingnya dengan penguasaan kitab kuning, karena keduanya adalah alat untuk memberi manfaat bagi umat di zamannya.
Lebih dari itu, cinta negeri berarti berani berkiprah tanpa batas. Negeri ini memanggil putra-putri terbaiknya untuk mengisi semua sektor. Pemerintah pun melihat ini sebagai aset strategis. Menteri Agama RI Tahun 2019-2024, Yaqut Cholil Qoumas, dalam pidato resminya menyatakan, "Kita ingin santri tidak hanya menjadi penjaga moral bangsa, tetapi juga motor penggerak ekonomi dan inovasi.
Santri harus berani mengisi pos-pos strategis, dari birokrasi hingga korporasi, membawa nilai kejujuran dan etos kerja pesantren ke panggung nasional." Nilai-nilai inilah yang menjadi harus selalu diingat dan menjadi bekal tak ternilai untuk mewarnai setiap lini pengabdian di negeri ini.
Pada akhirnya, Kita menginginkan Hari Santri 2025 ini kita resapi sebagai sebuah momentum persatuan, melampaui belantara kecil demi tujuan yang lebih besar nan lebih mulia. Ia adalah momentum perjuangan baru, di mana Santri pada hari ini tetap berjuang, berjuang melawan kebodohan, memberantas kemiskinan, dan merawat kebhinekaan yang ada di setiap sendi-sendi kehidupan.
Dan di atas segalanya sejatinya ini adalah momentum pembuktian. Pembuktian bahwa santri adalah pelita yang tak pernah redup, yang selalu siap menerangi dan berkontribusi sepenuh hati untuk kemaslahatan umat, kemajuan masyarakat, mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cinta di masa yang akan datang. Selamat Hari Santri.

