Mahasiswa dan dosen akan kembali kritik Rektor UI

Sejumlah kalangan di lingkungan Universitas Indonesia akan menyuarakan kembali kritik terhadap Rektor Universitas Indonesia terkait kebijakan pemberian gelar doktor kehormatan untuk Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz al-Saud dan sejumlah kebijakan lainnya.
Sejumlah akademisi di lingkungan Universitas Indonesia rencanannya akan berkumpul pada Senin (5/9) di Fakultas Ekonomi UI untuk menyampaikan pandangan mereka terkait sejumlah kebijakan termasuk pemberian gelar kehormatan itu.
"Acara akan dilangsungkan sekitar pukul 10.00 seusai acara halal bi halal dan dilakukan di dalam ruangan," kata pengagas acara itu Thamrin Amal Tamagola kepada wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.
Menurut Thamrin acara tersebut akan diawali dengan penyampian orasi oleh Emil Salim.
"Kritik terhadap pemberian gelar itu tidak dilakukan secara khusus tapi dijadikan sebagai ilustrasi yang menunjukan parahnya tata kelola UI sehingga mengakibatkan terjadinya penganugrahan yang dilihat dari substansi akademik, dari substansi kelembagaan dan substanis politik itu salah semua," kata Thamrin.
Thamrin mengatakan acara ini akan diikuti sebagian besar dekan, perwakilan karyawan, alumni dan BEM Universitas Indonesia.
"Hanya kurang dari lima dekan yang tidak ikut acara di fakultas ekonomi."
Menurut Thamrin aksi kritik terhadap Rektor UI juga akan diwarnai dengan aksi penumpukan batu di depan kantor rektorat UI yang masing-masing batu bertuliskan nama tenaga kerja Indonesia yang telah menjalani hukuman pancung di Arab Saudi.
Sikap BEM UI
Badan Ekseskutif Mahasiswa UI membenarkan mereka juga akan terlibat dalam acara ini namun tampaknya tidak akan ada aksi pengerahan mahasiswa dan demonstrasi secara khusus menentang pemberian gelar kehormatan Raja Arab Saudi.
"BEM akan ikut dengarkan dan menyimak orasi Prof Emil Salim dan mungkin kita akan sampaikan sikap dari mahasiswa, karena ibaratnya pemberian DHC (Doctor Honoris Causa) ini pemicu yang mungkin berasal dari sejumlah masalah pengelolaan UI," kata Ketua BEM UI, Maman Abdurakhman.
Dia juga menekankan perlunya perbaikan sistem pengelolaan UI supaya kedepannya semua pihak bisa terlibat dalam pengawasan di univesritas tersebut.
"Ini bukan masalah figur tapi juga sistem yang perlu dirombak."
Pihak Universitas Indonesia sendiri sejauh ini belum mempermasalahkan aksi yang akan digelar di Fakultas Ekonomi UI.
"Diskusi di lingkungan kampus sudah biasa. Kami belum menerima laporan diluar itu jadi tidak mengerahkan petugas keamanan secara khusus," kata Juru Bicara Universitas Indonesia, Devi Rahmawati.
Sebelumnya sejumlah kalangan termasuk civitas akademika UI mengkritik pemberian gelar yang dilakukan Rektor UI, Gumilar Rusliwa Somantri yang mendatangi Istana Al Safa pada Agustus lalu.
Mereka yang menolak beralasan Arab Saudi tidak pernah menunjukan niat serius dalam melindungi buruh migran yang bekerja di negara tersebut.
Sementara dalam penjelasannya, Gumilar mengatakan gelar Doktor Honoris Causa itu diberikan karena Raja Abdullah karena dia dinilai memberikan perhatian lebih pada perkembangan kemanusiaan dan iptek.
Namun belakangan kepada sejumlah media, Gumilar menyampaikan permintaan maaf atas pemberian gelar itu karena waktunya yang kurang tepat dan hanya berselang tak lama setelah TKI asal Indonesia, Ruyati menjalani hukuman pancung di Arab Saudi.





























