Putin perintahkan segera tangkap pelaku

PM Valdimir Putin memerintahkan aparat untuk tangkap dalang serangan bom
Keterangan gambar, PM Valdimir Putin memerintahkan aparat untuk tangkap dalang serangan bom

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menegaskan aparat keamanan harus menjadikan penangkapan pelaku pemboman kereta bawah tanah Moskow sebuah masalah kehormatan dan harga diri.

Putin menegaskan dinas rahasia yang selama ini dikritik media harus menangkap otak pemboman ini meski, menurut istilah Putin, dia bersembunyi di lubang paling dalam sekalipun.

Selasa kemarin, Rusia menetapkan hari berkabung akibat tragedi pemboman terhadap dua kereta bawah tanah Moskow yang menewaskan setidaknya 39 orang dan mencederai 70 orang lainnya.

Pemerintah Rusia menuding kelompok militan Kaukasus Utara berada di balik aksi berdarah itu.

Media massa Rusia mengaitkan tragedi ini dengan kematian pemimpin pemberontak Ingushetia, Alexander Tikhomirov alias Said Buryatsky.

Dia tewas dibunuh pasukan keamanan Rusia awal bulan ini setelah dituding bertanggung jawab atas serangan terhadap kereta api yang menewaskan 26 orang.

Surat kabar Kommersant mengutip sumber di kalangan penyidik mengatakan aparat keamanan yakin Tikhomirov telah merekrut 30 pembom bunuh diri dari Ingushetia dan negeri tetangganya Chechnya.

Polisi khawatir bahwa kedua pelaku bom rekrutan Tikhomirovlah yang meledakkan dua kereta bawah tanah Moskow untuk membalas kematian sang pemimpin.

Suasana tegang

Warga Moskow meletakkan karangan bunga tanda berduka cita
Keterangan gambar, Warga Moskow meletakkan karangan bunga tanda berduka cita

Wartawan BBC di Moskow Richard Galpin mengatakan kekhawatiran yang melanda Rusia adalah serangan bom Senin lalu hanyalah awal dari rangkaian serangan pemberontak.

Pemerintah sudah memperketat keamanan di Moskow, sementara itu polisi saat ini tengah mencari tiga orang yang terlihat bersama para pelaku pemboman.

Meski saat ini layanan kereta bawah tanah atau Metro sudah berjalan kembali namun para pengguna angkutan massal ini mengatakan kondisi kota belum sepenuhnya normal.

"Saya merasakan ketegangan saat menggunakan Metro. Tak ada satu orang pun yang tersenyum dan tertawa," ujar mahasiswi Alina Tsaritova kepada kantor berita Associated Press.

Berbagai surat kabar di Rusia memajang foto dua orang perempuan yang diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri itu.

Pada awal 2000-am, kota-kota Rusia menderita berbagai serangan mematikan yang dilakukan para perempuan Kaukasus yang dikenal dengan sebutan "para janda hitam". Mereka adalah para perempuan yang suami-suami mereka tewas di tangan tentara Rusia.

Selain memajang foto orang-orang yang diduga pelaku bom bunuh diri, media Rusia juga mempublikasikan sosok laki-laki hasil tangkapan CCTV yang diduga polisi ikut membantu aksi berdarah itu.

Tragedi ini membuat geram pemerintah Rusia. Dalam sebuah pertemuan dengan para pejabat senior pemerintahan Perdana Menteri Vladimir Putin memerintakan aparat keamanan untuk menemukan otak serangan itu.

"Kami tahu saat ini mereka tengah bersembunyi, namun iniadalah masalah harga diri aparat keamanan untuk segera menangkap mereka dari lubang persembunyian mereka yang paling dalam," tegas Putin.

Putin, sepanjang karir politiknya terutama saat menjabat presiden, terkenal dengan ketegasan dan kekerasan sikapnya terhadap para pemberontak Chechnya.

Sementara itu Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan pemerintah tengat mempertimbangkan memberlakukan undang-undang anti terorisme untuk mencegah serangan lanjutan.

Pemberontakan belum berakhir

Tragedi berdarah ini, menciptakan duka dan kemarahan besar dari warga yang kehilangan keluarga mereka akibat pemboman itu.

Valentina Yegeazaryan yang kehilangan cucunya Valya yang baru berusia 17 tahun akibat ledakan bom di Stasiun Park Kultury mempertanyakan tindakan pemerintah.

"Saya tak mungkin mendapatkan kembali cucu saya. Sudah berulang kali terjadi serangan teroris dan apa yang telah dilakukan pemerintah? Waktu berlalu dan kejadian seperti ini terus berulang," kata Valentina.

Warga yang berduka menyalakan lilin dan meletakkan karangan bunga di dua lokasi ledakan bom Stasiun Lubyanka dan Park Kultury.

Serangan terkordinasi seperti ini sudah kerap terjadi sejak Februari 2004, saat itu 40 orang tewas akibat bom yang meledakkan sebuah kereta api bawah tanah di Stasiun Paveletskaya.

Enam bulan kemudian, seorang pembom bunuh diri kembali beraksi di stasiun kereta api dan menewaskan 10 orang. Pemerintah menuding pemberontak Chechnya berada di belakang dua pemboman itu.

Tudingan pemerintah Rusia ini tentunya beralasan, apalagi bulan lalu pemimpin pemberontak Chechnya Doku Umarov secara terbuka menyatakan perang terhadap Rusia.

Lebih dari 100.000 orang tewas dalam konflik bersenjata selama 15 tahun di Chechnya dan di republik-republik sekitarnya seperti Ingushetia dan Dagestan.

Jalur kereta api bawah tanah Moskow merupakan salah satu yang paling sibuk di dunia dengan jumlah penumpang mencapai 5,5 juta orang setiap hari.