Ketegangan meningkat di Bangkok

Ketegangan meningkat di ibukota Thailand, Bangkok setelah satu malam yang diwarnai bentrokan kecil.

Jurubicara militer memperingatkan soal ''tindakan tegas'' dan ''kekacauan'', seraya menyeru demonstran agar meninggal kamp mereka yang dibentengi berlapis-lapis di Bangkok.

Gelombang protes melonjak di bagian utara Thailand, tempat kereta yang mengangkut kendaraan militer dihadang.

Pemerintah Thailand menghadapi tekanan untuk menindak massa demonstran Baju Merah, yang menyatakan mereka menghendaki pemilihan baru digelar.

Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva dan panglima tinggi angkatan bersenjata Anupong Paojinda sama-sama menyatakan mereka menghendaki penghentian protes yang menggangu stabilitas negara melalui negosiasi dan cara tanpa kekerasan.

Unjukrasa massa Baju Merah kini telah memasuki pekan keenam.

Namun, sebagian pengamat yakin cara non-kekerasan bisa ditemukan untuk mengakhiri demonstrasi, sementara konfrontasi tampak semakin meningkat.

'Kekacauan'

Juru bicara AD Thailand Kolonel Sunsern Kaewkumnerd memperingatkan waktu bagi demonstran untuk keluar ''semakin tipis''.

"Jika pembasmian terjadi, orang tak bersalah mungkin terluka,'' katanya Sunsern. "Jika kami masuk, kami akan coba menahan para pemimpinnya.''

"Pemerintah akan sangat tegas, tapi pada awal operasi mungkin terjadi kekacauan,'' tambahnya.

Peringatan ini menggemakan seruan lain dalam beberapa hari terakhir kepada demonstran agar meninggalkan pusat kota Bangkok.

Para pejabat mengatakan jumlah demonstran Baju Merah menyusut, tapi ribuan masih mendirikan kamp di belakang lapisan barikade kokoh dari ban dan batang bambu runcing.

Ketegangan merebak Rabu malam ketika demonstran yang menolak kehadiran Baju merah berkumpul di persimpangan Silom, tempat pasukan militer menghadang pintu masuk ke distrik keuangan Bangkok.