Iran-Turki sepakati perjanjian nuklir

Ahmadinejad usai pembicaraan dengan Turki dan Brasil di Teheran
Keterangan gambar, Ahmadinejad usai pembicaraan dengan Turki dan Brasil di Teheran

Iran sepakat mengirimkan uranium ke luar negeri untuk diperkaya setelah melakukan pembicaraan dengan pemimpin Turki dan Brasil di Teheran.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan negeri itu siap mengirim 1.200 kg uranium dengan pengayaan rendah ke Turki untuk kemudian ditukar dengan bahan bakar reaktor.

Sejauh ini belum disampaikan rincian kesepakatan ini yang bisa membatalkan proposal sanksi baru yang didukung PBB.

"Turki bisa menjadi tempat untuk menyimpan uranium 3,5% milik Iran," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast dalam sebuah konferensi pers setelah menlu Iran menandatangani kesepakatan itu.

Ramin mengatakan sebanyak 1.200 kg uranium akan ditukar dan Iran akan melaporkan perkembangan ini kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam sepekan.

Pengumuman Iran ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat internasional.

PBB dan pemerintah Rusia menyebut keputusan Iran sebagai perkembangan yang menggembirakan. Namun Amerika Serikat mengatakan khawatir.

Gedung Putih mengatakan Iran harus membeberkan semua rencana ini kepada Badan Energi Atom Internasional.

Wartawan BBC di Istanbul Jonathan Head sementara itu mengatakan para pejabat kementerian luar negeri Turki masih bersikap skeptis terhadap perjanjian ini dan tetap mewaspadai permainan politik Iran.

Meski skeptis, di saat yang bersamaan Turki berkeyakinan bahwa sanksi baru terhadap Iran adalah cara yang keliru untuk memperoleh hasil yang bagus.

Kesempatan terakhir

Negara Barat khawatir Iran mengembangkan senjata nuklir
Keterangan gambar, Negara Barat khawatir Iran mengembangkan senjata nuklir

Tahun lalu negara-negara barat mengusulkan Iran mengirimkan persediaan uranium mereka ke Rusia dan Prancis. Kedua negara ini kemudian mengolah uranium itu menjadi bahan bakar yang dapat digunakan di reaktor penelitian sebelum dikembalikan.

Kesepakatan itu adalah upaya untuk memberikan manfaat energi nuklir pada Iran tanpa kekhawatiran negeri itu mengembangkan sistem persenjataan nuklirnya. Namun, saat itu Teheran menolak usulan tersebut.

Pembicaraan dengan Barsil dan Turki, dua negara non nuklir yang bersahabat dengan Iran ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali usulan negara-negara barat itu.

Baik Rusia maupun Amerika Serikat mengatakan pembicaraan itu adalah kesempatan terakhir Iran menghindari sanksi internasional yang lebih berat.

Di masa lalu Iran pernah terlihat menerima usulan kesepakatan pertukaran bahan bakar, tapi kemudian memberikan berbagai persyaratan yang tidak bisa diterima barat.

Saat ini, para diplomat Iran tengah memiliki tugas berat untuk mencegah jatuhnya sanksi baru PBB. Untuk melakukan lobi, menlu Iran sudah mengunjungi ke-15 negara anggota Dewan Keamanan PBB.