Obama desak Israel-Palestina bertemu

Presiden AS Barack Obama desak Israel dan Palestina untuk melanjutkan perundingan damai sebelum berakhirnya masa penghentian sementara pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi barat, September nanti.
Obama memberi pernyataan usai bertemu dengan Perdana Menteri Israel PM Benjamin Netanyahu, yang mengatakan "waktu yang tepat" untuk berunding.
Pertemuan antara dua pemimpin negara ini menepis anggapan keretakan hubungan antara AS dan Israel, setelah Obama mengatakan ikatan antar keduanya "tidak tergoyahkan".
Obama memuji Israel yang mengumumkan akan mengurangi blokade di perbatasan Gaza.
Presiden AS mengatakan dia berharap perundingan damai mendapatkan hasil baik sebelum berakhirnya masa 10 bulan penghentian sementara pembangunan pemukiman di Tepi barat, pada September nanti.
Perdana Menteri Israel ditekan oleh anggota koalisi sayap kiri agar tidak mengikuti kemauan AS untuk memperpanjang masa penghentian pembangunan pemukiman.
"Saya percaya Perdana Menteri Israel Netanyahu menginginkan perdamaian. Saya pikir dia juga berkeinginan untuk mengambil risiko demi perdamaian," kata Obama.
Netanyahu mengatakan sejumlah langkah akan diambil pada beberapa hari dan pekan mendatang, sebagai bagian dari proses perdamaian, tetapi dia tidak menjelaskan secara rinci.
Dalam perjalanan di AS ini Netanyahu akan berkunjung ke New York, bertemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon dan pemimpin Yahudi AS.
Tanggapan Palestina
Palestina mundur dari negosiasi langsung setelah Israel malancarkan serangan di Gaza pada akhir 2008.
Sedianya mereka akan bertemu pada Maret tahun ini, ketika pemerintah Israel menyetujui rencana pembangunan 1.600 rumah di Yerusalem Timur.
Juru runding Palestina Saeb Erekat mengatakan Netanyahu harus memilih antara pemukiman dan perdamaian.
"Kami ingin melanjutkan negosiasi langsung, tetapi masalahnya adalah lahan yang digunakan untuk pemukiman itu merupakan bagian dari negara Palestina," kata dia kepada Kantor Berita Associated Press.
Sementara itu, dalam laporan organisasi HAM Israel, B'tselem menyebutkan pemukiman Yahudi kini telah menempati areal seluas 40% lebih dari semua tanah di Tepi Barat. Organisasi itu juga menuduh Israel melanggar kewajiban internasional.





























