Kamboja nantikan vonis Duch

Foto-foto sebagian dari sekitar 15.000 tahanan di Penjara Tuol Seng Kamboja yang diduga dibunuh atas perintah Kaing Guek Eav alias Duch
Keterangan gambar, Foto-foto sebagian dari sekitar 15.000 tahanan di Penjara Tuol Seng Kamboja yang diduga dibunuh atas perintah Kaing Guek Eav alias Duch

Pengadilan Kejahatan Perang Kamboja dijadwalkan segera menjatuhkan vonis untuk mantan kepala penjara Khmer Merah Kaing Guek Eav alias Duch. Ini adalah vonis pertama yang akan dijatuhkan pengadilan yang disponsori PBB itu.

Semasa rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot berkuasa di Kamboja, Duch adalah kepala penjara tuol Sleng tempat para 'musuh' pemerintah dikirim.

Dalam proses pemeriksaan dan pengadilan Duch mengatakan dia mengaku menjadi saksi kematian 15.000 orang di penjara itu.

Meski demikian dalam proses persidangan Duch meminta pengampunan atas apa yang sudah dilakukannya. Sementara jaksa penuntut meminta pengadilan manjatuhkan hukuman penjara 40 tahun.

15.000 orang itu yang tewas di penjara Tuol Seng adalah bagian dari 2 juta warga Kamboja yang tewas selama Khmer Merah berkuasa antara tahun 1975-1979.

Penyebab kematian itu antara lain disebabkan evakuasi paksa, kerja paksa dan hukuman mati bagi mereka yang dianggap musuh revolusi.

Sayangnya, pemimpin Khmer Merah yang kerap disebut Saudara Nomor Satu Pol Pot meninggal dunia tahun 1998 sebelum sempat diadili.

Mengikuti perintah

Duch (tengah) menunggu keputusan pengadilan perang Kamboja
Keterangan gambar, Duch (tengah) menunggu keputusan pengadilan perang Kamboja

Dari lima petinggi senior Khmer Merah yang masih hidup, Duch adalah yang pertama kali diajukan ke pengadilan. Banyak kalangan yang berharap pengadilan menjatuhkan vonis bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan untuk laki-laki berusia 67 tahun itu.

Selain diketahui berperan besar mengurus penjara Tuol Seng atau dikenal dengan nama S-21, Duch bersikeras dirinya hanya menjalankan perintah atasan. Dan dalam sidang terakhir November lalu, dia mengagetkan publik dengan memohon pengampunan.

"Saya hanya berusaha menyelamatkan diri setiap hari, dan itu yang terjadi. Anda bisa mengatakan saya seorang pengecut," kata Duch dalam salah satu kesaksiannya.

Namun, jaksa mengatakan mantan guru matematika itu memerintahkan interogasi tawanan dengan metode penyiksaan yang sangat brutal, antara lain mencabut kuku jari kaki dan sengatan listrik. Selain itu, Duch juga menyetujui eksekusi hukuman mati.

Sebagai seorang yang sangat teliti menyimpan catatan, Duch menyusun arsip foto yang sangat besar selain mendokumentasikan berbagai pengakuan dan bukti-bukti lain dari para tahanan di Tuol Sleng.

Dalam sebuah catatan yang disimpannya, seorang penjaga sempat bertanya kepada Duch soal nasib enam orang anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang dituduh sebagai pengkhianat.

Kepada penjaga itu Duch hanya berkata singkat: "Bunuh mereka semua."

Setelah, rezim Khmer Merah terguling, Duch menghilang selama hampir dua dekade. Dia menyamar dengan berbagai nama dan identitas di bagian barat laut Kamboja dan memeluk agama Kristen.

Duch tertangkap tahun 1999, setelah seorang wartawan Inggris berhasil menemukan dia di tempat persembunyiannya.

Wartawan BBC di Phnom Pehn Guy Delaunet mengatakan hukuman 40 tahun penjara sama dengan seumur hidup bagi Duch. Namun, bagi para korban Duch hukuman itu sama sekali belum cukup untuk menghapus luka mereka.

Dari sekitar 15.000 orang yang ditahan di Tuol Seng, hanya 14 orang yang berhasil selamat. Dan tiga di antara mereka masih hidup.

Salah satu dari mereka Chum Mey mengatakan ingin menaburkan garam dan merica di atas luka Duch sebagai balasan apa yang dia lakukan kepada rakyat Kamboja.

Selain Duch, para pimpinan senior Kamboja lainnyayaitu Nuon Chea atau Saudara Nomor Dua, manta kepala negara Khieu Samphan, mantan menteri luar negeri Ieng Sary dan istrinya Ieng Thirith yang adalah mantan menteri sosial juga tengah menunggu proses pengadilan.