Warga AS dibebaskan di Korut

Aijalon Mahli Gomes
Keterangan gambar, Aijalon Mahli Gomes pernah mengajar bahasa Inggris di Korea Selatan

Mantan Presiden AS Jimmy Carter berhasil membebaskan warga Amerika, Aijalon Mahli Gomes, yang ditahan Korea Utara.

Aijalon Mahli Gomes, 31 tahun, dihukum kerja paksa delapan tahun bulan April, setelah dinyatakan bersalah memasuki negara komunis tersebut dari Cina.

Carter, yang menghabiskan dua hari di Pyongyang, kini pulang dengan Gomes.

Media resmi Korea Utara mengatakan para pejabat menyatakan kepada Carter kesediaan Pyongyang untuk kembali ke meja perundingan mengenai program nuklir negara tersebut.

Wakil Perdana Menteri Korut Kim Yong-nam "menyatakan komitmen Republik untuk membebaskan Semenanjung Korea dari nuklir dan melanjutkan perundingan enam pihak," lapor kantor berita Korut, (KCNA).

Carter terbang ke Boston, AS bersama Gomes, tempat dia akan berkumpul lagi dengan keluarganya hari Jumat (27/8).

Gomes dikabarkan menyeberangi masuk ke Korea Utara bulan Januari. Dia diduga meunju dengan itu untuk menjalankan misi perdamaian seorang diri.

Warga AS yang digambarkan pemeluk Kristen yang taat ini sebelumnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Korea Selatan.

Perundingan macet

Jimmy Carter disambut pejabat senior Korea Utara di Pyongyang
Keterangan gambar, Jimmy Carter disambut pejabat senior Korea Utara di Pyongyang

Carter bertemu tim pejabat senior Korut setelah tiba di Pyongyang hari Rabu dalam kunjungan yang digambarkan sebagai ''perjalanan kemanusiaan pribadi''.

Carter disambut oleh juru runding nuklir Korea Utara, Kim Kye-gwan, kata KCNA.

Sang mantan presiden AS kemudian mengadakan pembicaraan ''persahabatan'' dengan wakil pemimpin Korut, Kim Yong-nam, kata KCNA.

Perundingan enam negara yang bertujuan untuk mengakhiri ambisi nuklir Korea Utara sudah beberapa bulan macet.

Kunjungan Carter berlangsung pada ketika hubungan antara Korea Utara dan dunia luar semakin tegang pasca tenggelamnya kapal perang Korea Selatan, Cheonan.

Tim penyelidik internasional menyatakan torpedo Korea Utara menenggelamkan Cheonan, yang kandas di perbatasan kedua Korea pada 26 Maret dengan 46 korban jiwa.

Sejak saat itu, Amerika Serikat dan Korea Selatan mengadakan beberapa latihan militer bersama dan ini memicu kemarahan Pyong.

Korea Selatan menolak mengadakan pembicaraan baru jika belum mendapat permintaan maaf dari Utara atas penenggelaman Cheonan. Korea Utara menolak untuk meminta maaf, sebab negara itu membantah terlibat dalam insiden tersebut.

Namun, Korea Utara mendapat tekanan dari Beijing untuk kembali ke meja perundingan.

Carter mengikuti jejak mantan presiden AS, Bill Clinton, yang tahun lalu berhasil membebaskan dua wartawan AS yang ditahan di Kore Utara karena menyeberangi perbatasan.