Pilot Rusia diculik di Darfur

Kantor berita pemerintah Sudan, Suna, melaporkan dua pilot Rusia diculik di wilayah Darfur, Sudan barat.
Kedua pilot ini bekerja untuk maskapai Sudan Badr Airlines dan diculik di kota Nyala pada hari Minggu (29/08) siang.
Gubernur Darfur Selatan mengatakan seluruh anggota kepolisian dan pasukan keamaan dikerahkan untuk mencari penculik kedua pilot itu.
"Saat ini kami tidak punya informasi sama sekali, baik mengenai penculik atau korban penculikan," ujar gubernur Abdel Hamid Kasha seperti dikutip kantor berita AFP.
Badr Airlines adalah perusahaan penerbangan swasta yang berpusat di Khartoum yang mengoperasikan layanan kargo dan pesawat penumpang bagi operasi bantuan kemanusiaan di Darfur.
Warga AS bebas
Sementara itu, departemen luar negeri Sudan mengatakan seorang pekerja bantuan asal Amerika Serika yang diculik selama lebih dari 100 hari di Darfur, telah dibebaskan dan sekarang berada di Nyala.
Dalam satu tahun belakangan terjadi serangkaian penculikan dengan sasaran warga asing.

Para wartawan mengatakan sebagian besar penculikan itu berlatarbelakang uang.
Namun para penculik mengatakan mereka membebaskan wanita asal Amerika, yang bekerja untuk organisasi Samaritan's Purse, tanpa mendapat uang tebusan.
"Kami memiliki tuntutan pada pemerintah: kami ingin rumah sakit dan pendidikan. Jika tuntutan itu dipenuhi, tidak akan terjadi lagi penculikan," ujar salah satu tersangka penculik pekerja sosial asal Amerika itu, Abu Mohamed al-Semeh, kepada kantor berita Reuters.
Awal bulan ini, dua warga Yordania yang bekerja untuk pasukan perdamaian internasional di Darfur diculik sejumlah pria bersenjata, namun tiga hagi kemudian mereka dibebaskan.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB dan Uni Afrika membangun parit di sekliling kota Nyala, kota terbesar di wilayah Darfur, untuk mencegah para penculik memasuki kota itu.
Kerusuhan dan pertempuran di Darfur meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah pemberontak Gerakan Keadilan dan Persamaan mundur dari perundingan damai dengan pemerintah setelah menuduh pemerintah berniat buruk.
PBB memperkirakan konflik selama enam tahun di Darfur telah memakan korban 300.000 orang dan menyebabkan 2,7 warga mengungsi dari rumah mereka.
Pemerintah Sudan menyebut warga yang tewas mencapai 10.000 dan mengatakan masalah di Darfur di besar-besarkan untuk kepentingan politik.
Presiden Sudan Omar al-Bashir dituduh oleh Pengadilan Kejahatan Internasional, ICC, melakukan kejahatan perang di Darfur -tuduhan yang dibantah keras olehnya.





























