Tokoh oposisi Kamboja diganjar 10 tahun

Pemimpin oposisi Kamboja, Sam Rainsy, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah dalam dakwaan mengubah dokumen publik dan melakukan penyesatan informasi.
Pemerintah menuduh Rainsy memanipulasi peta yang memperlihatkan Vietnam melewati perbatasan dengan Kamboja.
Partai pimpinan Rainsy menuding pemerintah Kamboja telah menyerahkan sebagian wilayahnya kepada negara tetangga yang lebih besar dan lebih kuat.
Hukuman ini dijatuhkan secara in-absentia karena Rainsy tinggal di Prancis sejak setahun lalu.
Wartawan BBC di Phnom Penh, Guy Delauney, mengatakan keputusan itu sudah bisa ditebak dan satu-satunya kejutan dalam pengadilan adalah hukuman penjara itu tidak lebih lama karena ancaman maksimal adalah 18 tahun.
Perbatasan baru

Dalam beberapa pekan ini, Rainsy berupaya untuk mengatur kepulangannya ke Kamboja namun dengan vonis ini tampaknya rencana itu semakin jauh.
Dugaan penyerahan wilayah ke Vietnam merupakan isu sensitif di Kamboja dan banyak warga Kamboja yang memperlihatkan ketidaksukaan secara terbuka terhadap Vietnam.
Vietnam dan Kamboja memiliki garis perbatasan sepanjang 1.270 km dan pada September 2006 melakukan demarkasi untuk menyelesaikan sengketa perbatasan.
Sejak jaman kolonial Prancis, perbatasan keduanya memang tidak jelas karena bebatuan, bendera, maupun pohon yang menjadi batasnya sudah tidak ada lagi.
Dengan perbatasan baru, banyak warga Kamboja yang kehilangan lahan dan Rainsy mengangkat isu tersebut.
Bulan Januari 2010 dia diganjar dua tahun penjara karena mendorong warga di sekitar perbatasan untuk mencabut tanda-tanda perbatasan.
Sebulan kemudian dia didakwa dengan memanipulasi peta walau Rainsy membela diri bahwa peta itu diambil dari Google.
Kubu Rainsy mengatakan dakwaan itu bermotif politik sementara pemerintah menegaskan mereka semata-mata menegakkan hukum.





























