Suu Kyi ingin dengar aspirasi rakyat Birma

Pemimpin pro-demokrasi Birma Aung San Suu Kyi mengatakan kepada BBC bahwa dia bersedia bertemu para pemimpin militer di negaranya untuk mendukung rekonsiliasi nasional.
Satu hari setelah dibebaskan dari tahanan rumah, Suu Kyi menyatakan tiba saatnya untuk ''menyelesaikan perbedaaan pendapat kami di meja perundingan''.
Pemenang Nobel Perdamaian tersebut menghabiskan 15 tahun dari masa 21 tahun terakhir sebagai tahanan.
Dalam wawancara pertamanya setelah dibebaskan dari tahanan rumah, Suu Kyi juga mengatakan dia berencana untuk mendengar kehendak bangsa Birma sebelum mengambil langkah berikutnya.
Suu Kyi mengatakan dia tidak takut ditahan lagi, meski mengakui ada kemungkinan dia dijebloskan ke penahanan lagi.
Peraih Nobel Perdamaian tersebut menekankan, kondisinya selama menjalani tahanan rumah lebih baikd daripada keadaan para tahan politik lain yang dijebloskan ke sel penjara.
Dia mengatakan dia selama ini tidak pernah merasa sendiri berkat dukungan orang dari seluruh dunia.
Melanjutkan perjuangan
Suu Kyi, 65 tahun, dibebaskan hari Sabtu setelah menjalani status tahanan rumah selama 18 bulan.
Minggu siang, tokoh yang menjadi simbol upaya demokratisasi di Birma meminta massa pendukungnya agar tidak putus asa atau berkecil hati.
"Tidak ada alasan untuk berkecil hati," kata Suu Kyi di luar kantor partainya (LND) di Rangoon.
Dia juga menyatakan akan melanjutkan perjuangan untuk menegakkan demokrasi dan supremasi hukum
Suu Kyi yang dibebaskan dari tahanan rumah kemarin juga mengatakan kebebasan berpendapat adalah inti demokrasi.
Namun, dia juga memperingatkan, jika para pendukungnya menginginkan perubahan, mereka harus mewujudkan perubahan itu secara benar.





























