Rusia jadi ''negara mafia''

Rusia bisa dikatakan telah menjadi ''negara mafia'' akibat praktik korupsi, suap dan uang perlindungan, kata dokumen yang dibocorkan di Wikileaks.
Tidak ada beda antara pemerintah dan kejahatan terorganisasi, kata seorang jaksa Spanyol yang menyelidiki jaringan kejahatan.
Perdana Menteri Vladimir Putin mengatakan kepada CNN mungkin ada ''maksud-maksud politik'' di belakang pembocoran, namun informasi yang dibocorkan ''bukan bencana''.
Dokumen-dokumen tentang Rusia itu termasuk ratusan berkas kawat diplomatik yang dirilis oleh situs bocoran informasi Wikileaks.
Kawat diplomatik, yang diterbitkan koran Inggris the Guardian, memperlihatkan gambaran Rusia yang korup dengan pusat di sekitar kepemimpinan Putin.
Nilai suap dalam sistem politik di negara Eropa tersebut berkisar 300 miliar dolar per tahun, kata the Guardian.
Dalam salah satu kawat diplomatik yang dikirim Januari 2010, jaksa Spanyol Jose "Pepe" Grinda Gonzales menyatakan di Rusia, Belarus, dan Chechnya ''orang tidak bisa membedakan antara kegiatan pemerintah dan kelompok OC [organized crime, kejahatan terorganisasi''.
Hakim Grinda memimpin investigasi intensif terhadap kegiatan kejahatan terorganisasi Rusia dan penyelidikan kemudian menyebabkan 60 orang ditahan.
Kawat yang dikirim dari kedutaan besar AS di Madrid menyinggung ''pertanyaan tidak terjawab'' soal tingkat keterlibatan Putin dalam mafia dan apakah dia mengendalikan kegiatan mafia.
Isi kawat yang dibocorkan juga memperlihatkan Washington yakin Putin mungkin tahu menahu operasi untuk membunuh mantan agen intelijen Rusia Alexander Litvinenko di London pada tahun 2006. Kremlin membantah terlibat dalam peristiwa tersebut.





























