PBB menyatakan Ouattara menang di Pantai Gading

Pantai Gading
Keterangan gambar, Kedua politisi yang bertikai membentuk kabinet masing-masing

Dewan Keamanan PBB sudah mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan calon oposisi di Pantai Gading, Alassane Ouattara, menang dalam pemilihan presiden yang dipersengketakan.

Dalam pernyataannya, 15 anggota DK PBB mengecam dengan kalimat yang paling keras setiap usaha untuk menekan keinginan rakyat banyak di Pantai Gading.

"Sejalan dengan pandangan Ecowas (organisasi negara-negara Afrika Barat) yang mengakui Alassane Ouattara sebagai presiden terpilih, para anggota Dewan Keamanan meminta semua pemangku kepentingan untuk menghormati hasil pemilihan di Pantai Gading," demikian bunyi pernyataan tertulis PBB.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah debat selama tiga hari di PBB. Rusia sempat mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan PBB sudah melewati kewewenangan.

Wartawan BBC di kantor pusat PBB di New York, Barbara Plett, melaporkan bahwa rujukan kepada Ecowas merupakan sebuah konsesi bagi kekhawatiran Rusia tersebut.

Duta besar AS untuk PBB, Susan Rice, mengatakan misi PBB di Pantai Gading telah mendapat mandat untuk mengesahkan pemilihan umum berdasarkan traktat kesepakatan damai setelah perang saudara 2002.

Sementara itu Duta Besar PBB untuk Pantai Gading, Choi Young-jin, mengatakan bahwa kemenangan Ouattara tidak bisa dibantah.

Menurut para diplomat beberapa anggota DK sudah mendesak Rusia untuk mencabut penentangannya.

Dua kabinet

Presiden yang sudah habis masa jabatannya, Laurent Gbagbo, melawan tekanan internasional dan tetap menyatakan diri sebagai presiden yang sah.

Posisi itu membuat Ecowas mencabut untuk sementara keanggotaan Pantai Gading.

Dengan dukungan PBB atas Ouattara, maka Gbagbo hampir tidak punya dukungan sama sekali dari dunia internasional.

Di ibukota Abidjan, kedua pemimpin sudah membentuk kabinet masing-masing, yang meningkatkan ketegangan di negara itu.

Ouattara menjalankan pemerintahannya di sebuah hotel mewah yang dikawal pasukan penjaga perdamaian PBB.

Sebelumnya, Presiden Liberia, Ellen Johnson-Sirleaf, memperingatkan para pemberontak untuk tidak terlibat dalam krisis politik di Pantai Gading.

Dalam perang saudara 2002, para pemberontak dari Liberia ikut terlibat sehingga membuat Pantai Gading terpisah.

Saat itu Charles Taylor melancarkan perlawanannya atas pemerintah Liberia dari Pandai Gading, yang mengawali masa 14 tahun yang penuh darah.