Ribuan orang tinggalkan Pantai Gading

Pasukan PBB
Keterangan gambar, Pasukan perdamaian PBB menolak tinggalkan Pantai Gading

Sekitar 14.000 warga Pantai Gading mengungsi ke negara tetangga Liberia akibat kerusuhan yang terjadi pasca pemilihan presiden bulan lalu.

Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB kepada BBC mengatakan telah menyiapkan kebutuhan bagi 30.000 orang pengungsi di negara itu.

Sebagian besar dari para pengungsi adalah pendukung Alassane Ouattara, presiden baru yang diakui dunia Internasional.

Presiden Laurent Gbagbo didesak untuk meletakan jabatan, karena melakukan kecurangan dalam pemilihan di bagian utara negara itu.

Juru bicara Badan PBB untuk pengungsi UNHCR Fatoumata Lejeune-Kaba, mengatakan sebagian besar warga yang mengungsi sejak 28 November lalu merupakan masyarakat pedesaan yang tinggal di bagian barat negara itu.

Dia mengatakan UNHCR telah melakukan upaya untuk mencari jalan keluar agar kekerasan tidak berlanjut.

Jumat lalu, pemimpin negara Afrika Barat mengatakan kepada Gragbo untuk mengundurkan diri atau akan menghadapi "pemaksaan yang sah" dari blok regional Ecowas atau blok ekonomi negara-negara Afrika Barat.

Bank Sentral Afrika Barat juga memberikan mandat kepada Quattara untuk mengontrol rekening di Pantai Gading.

Pemerintah Gbagbo mengatakan dirinya mendapatkan perlakukan yang tidak adil.

Sebelumnya, Quattara mendesak pasukan tentara untuk melindungi warga sipil dari serangan milisi dan tentara asing bayaran.

Dia mengatakan akan mengundang penyelidik dari Pengadilan Kriminal Internasional ke negara itu untuk menginvestigasi peristiwa kekerasan yang terjadi.

Gbagbo meminta kepada pasukan PBB dan Prancis untuk meninggalkan negara itu.

Dia juga mengatakan akan memperlakukan pasukan perdamaian itu seperti pemberontak jika tidak mematuhi perintah untuk meninggalkan Pantai Gading.

PBB yang menempatkan 10.000 orang pasukan perdamaian menolak permintaan itu.

PBB menyebutkan setidaknya 170 orang tewas dalam sejumlah serangan yang terjadi di Pantai Gading.