Obama desak Mubarak ambil keputusan tepat

Sumber gambar, AP
Presiden AS Barack Obama mendesak Presiden Mesir Hosni Mubarak untuk "membuat keputusan yang tepat" sampai akhir pekan ini untuk menghentikan kerusuhan, dan meminta agar masa transisi segera dimulai.
Obama menyampaikan desakannya, setelah 11 hari demonstasi besar di Mesir untuk menuntut Mubarak mundur.
Di Washington, Obama menyampaikan kepada para wartawan "Seluruh dunia menyaksikan."
Dia mengatakan telah mendorong agar pemerintah Mesir dan pemrotes mengendalikan diri, setelah terjadi bentrok selama dua hari yang menyebabkan delapan orang tewas dan lebih dari 800 orang luka-luka.
PBB memperkirakan lebih dari 300 orang tewas dan 4.000 orang terluka di seluruh Mesir sejak protes terhadap kepemimpinan Mubarak dimulai 25 Januari lalu.
Obama tidak meminta agar Mubarak mundur secepatnya, tetapi mengulangi permintaan agar masa transisi segera dimulai sekarang juga.
"Dia (Mubarak) harus mendengarkan suara masyarakat dan harus membuat keputusan mengenai langkah ke depan, yang berarti dan serius," kata Obama.
"Pertanyaan utama adalah dia harus menanyakan kepada dirinya sendiri: bagaimana saya harus meninggalkan 'warisan' bagi masyarakat Mesir agar mereka dapat melewati masa transisi? Harapan saya adalah dia (Mubarak) dapat mengambil keputusan yang tepat."
Tetapi, Perdana Menteri Ahmed Shafiq mengatakan tidak mudah bagi Mubarak untuk mengundurkan diri.
Kepada BBC, dia mengatakan pernyataan Mubarak pada Selasa lalu yang menyebutkan tidak akan maju dalam pemilihan umum September mendatang, artinya Presiden Mesir itu akan mundur.
"Dampak pernyataan itu, presiden telah mundur," kata Shafiq, " Kami membutuhkan dia dalam sembilan bulan mendatang."
Secara terpisah dia mengatakan kepada TV al-Arabiya TV pernyataan Mubarak itu bukan berarti dia akan menyerahkan kekuasaannya kepada Wapres Omar Suleiman, karena presiden dibutuhkan. sebagai alasan legislatif.
"Hari Keberangkatan"

Sumber gambar, AFP
Sementara itu, Jumat (4/2) waktu setempat ratusan ribu orang- termasuk perempuan dan anak-anak- kembali berkumpul di Lapangan Tahrir di pusat ibukota Kairo.
Mereka menggelar demonstrasi yang disebut "hari keberangkatan".
Mereka menggelar sholat Jumat secara berjamaah dan mendengarkan khotbah dari tokoh agama yang menyerukan agar pemimpin rezim segera mundur.
Setelah sholat Jumat, para demonstran berteriak "pergi! pergi! pergi!", dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan sambil mengibarkan bendera.
Ketika malam tiba, sejumlah orang meninggalkan lokasi. Tetapi ribuan orang kembali datang ke lapangan Tahrir.
Selain di Kairo, demonstrasi juga digelar di sejumlah kota di Mesir, yaitu Alexandria, Kota Suez, Port Said, Rafah, Ismailiya, Zagazig, al-Mahalla al-Kubra, Aswan dan Asyut.
Sementara itu, kelompok oposisi menolak untuk menghadiri pertemuan dengan pemerintah, kecuali jika Presiden Mubarak mundur, sedangkan pemerintah mengatakan demonstrasi harus dihentikan karena pertemuan (dengan oposisi) akan digelar.
Pejabat AS mengatakan kepada BBC, pertemuan akan dilakukan dalam beberapa hari, dan AS mendesak agar pemerintah Mesir mengambil langkah yang lebih maju dalam dialog nanti.





























