Aksi ledakan guncang Tripoli

Sumber gambar, Reuters
Serangkaian ledakan hebat mengguncang ibukota Libia, Tripoli hari Sabtu ini ( 26/03).
Seorang penduduk mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ledakan terjadi di sebelah timur Tripoli di daerah Tajoura yang sebelumnya pernah digempur pasukan koalisi.
Daerah Tajoura memiliki beberapa pangkalan militer Libia.
Amerika Serikat, Inggris dan Perancis memimpin penerapan zona larangan terbang yang didukung PBB.
Seorang penduduk Tripoli juga mengatakan kepada AFP bahwa pangkalan radar militer di Tajoura terbakar.
" Daerah itu berguncang akibat tiga ledakan hebat secara berturut-turut," ujar penduduk itu.
Pemimpin Libia Muammar Gaddafi dilaporkan telah mempersenjatai sukarelawan sipil untuk melawan gerakan anti-pemerintah, menurut seorang pejabat militer Amerika Serikat.
"Kemampuan menurun"
Laksamana Muda William Gortney juga mengatakan Gaddafi sudah "tidak punya pertahanan udara" dan "kemampuan yang menurun untuk memimpin dan menggerakkan pasukannya di lapangan"
Sementara itu pasukan Koalisi telah meluncurkan serangan terhadap tank-tank Libia di kota Ajdabiya.
Saksi mata mengatakan pasukan pemberontak dan pemerintah bentrok di dekat kota itu.
Qatar juga telah menjadi negara Arab pertama yang ikut berpatisipasi dalam serangan udara di Libia.
Kepada para wartawan, Gortney mengatakan pasukan internasional telah melemahkan pasukan Gaddafi.
"Pasukan udaranya tidak bisa terbang, kapal perangnya mangkal di pelabuhan, bahan peledak di gudang sudah dihancurkan dan menara komunikasi sudah rubuh, dan tembok pertahanannya tidak berguna " ujar Gortney.
"Hari ini kami memperoleh laporan Gaddafi telah mempersenjatai para sukarelawan untuk melawan pemberontak," ia mengatakan.
"Namun saya tidak bisa memastikan apakah mereka betul sukarelawan atau tidak dan saya tidak tahu berapa orang yang akan ia dapatkan," ujar Gortney.
"Amat menarik bagi saya bagaimana Gaddafi harus memperkuat sipil."
Sebelumnya pakta Pertahanan Atlantik Utara, Nato, setuju untuk mengambil alih komando operasi militer di Libia untuk menerapkann larangan terbang bagi pasukan Gaddafi.
Tetapi Sekretaris Jenderal Anders Fogh Rasmussen menyatakan bahwa aspek lain terkait operasi ini tetap berada di tangan koalisi.





























