Nato sangkal tolak migran

Sumber gambar, afp
Nato menyangkal bahwa pihaknya membiarkan puluhan migran tewas di Laut Tengah.
Organisasi tersebut menyatakan pihaknya tidak menyadari keberadaan kapal yang dilaporkan terapung-apung selama lebih dua minggu.
Koran The Guardian melaporkan 61 dari 72 orang di dalam perahu tewas karena kelaparan atau kehausan meskipun sudah diketahui keberadaannya oleh helikopter militer dan kapal Nato.
Sementara itu para pejabat mengatakan sebuah kapal yang membawa 600 orang karam di lepas pantai Libia minggu lalu.
Laura Boldrini dari badan pengungsi UNHCR mengatakan para saksi mata menyaksikan kapal pecah karena menabrak karang di pantai Libia, tidak lama setelah berlabuh. Tubuh manusia terlihat terlempar ke laut. Dia mengatakan tidak mengetahui jumlah orang tewas di dalam kapal.
Kehabisan air
Kapal yang lebih kecil meninggalkan Tripoli di Libia tanggal 25 Maret, dengan tujuan Italia.
Tetapi kemudian kehabisan bahan bakar dan mulai terapung-apung. Pada akhirnya mereka juga kehabisan makanan dan air.
The Guardian mengutip seorang pria Abu Kurke yang mengatakan berada di dalam kapal.
"Setiap bangun pagi kami menemukan orang kembali meninggal, kami baru membuang jenazah ke laut setelah 24 jam," katanya.
Korban meninggal termasuk ibu dan anak-anak, tambahnya.





























