Suriah putuskan jaringan listrik

Protes di Suriah

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Aktivis menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dan 10.000 orang ditahan di Suriah.

Jaringan listrik, telepon dan pasokan air di sejumlah wilayah di Suriah diputus, menyusul demonstrasi anti Presiden Bashar Assad.

Seperti diberitakan AP, sekitar 15 orang tewas dalam enam hari akibat serangan pemerintah.

Demonstrasi menuntut reformasi terjadi di sejumlah wilayah harus berhadapan dengan tindakan kekerasan oleh pasukan pemerintah, terutama di Suriah bagian selatan dan daerah pertanian di negara itu.

Di Kota Rastan, kamis (2/6), penduduk yang sekarang menjadi pengungsi, mengaku menyaksikan pasukan pemerintah membubarkan demonstran dengan kekerasan dan menangkap beberapa dari mereka.

"Kami menjadi pengungsi di negara kami sendiri," kata penduduk Rastan, yang mengaku terpaksa harus tidur di hutan untuk menghindari penangkapan.

Dia berhasil dihubungi melalui telepon dan menceritakan kondisi yang terjadi. "Keluarga dan saudara perempuan saya masih berada disana, dan saya tidak mengetahui bagaimana kondisi mereka,"

Oposisi di Suriah, selama beberapa tahun terpecah karena perbedaan ideologi, melakukan koordinasi pada Kamis dan menuntut Assad untuk mundur dan meminta pemilu yang bebas, di akhir konferensi yang digelar selama dua hari di Turki.

Murhaf Jouejati, ahli politik Suriah dari Universitas George Washington, mengatakan konferensi itu merupakan upaya untuk menyatukan visi mereka tentang Suriah pasca pemerintahan Assad.

Tetapi tuntutan yang dilontarkan oleh peserta yang sebagian besar merupakan warga Suriah yang berada dalam pengasingan kemungkinan tidak akan bergaung, setelah konferensi usai.

Apalagi, pemerintah Suriah terus melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran yang menewaskan ribuan orang.

Aktivis mengatakan lebih dari 1.000 orang Suriah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditahan.

Pemerintah Assad mendapatkan sinyal dukungan dari Rusia sebagai sekutu dekatnya. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengeluarkan peringatan kepada pemrotes, dengan mengatakan upaya untuk menurunkan rezim Assad dengan kekuatan akan menghadapi konsekuensi yang besar.

Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatak AS telah memberikan sejumlah tekanan terhadap negara tersebut tetapi dia mengeluhkan respon dari PBB dan Liga Arab yang lambat dan perpecahan pendapat yang terjadi di kalangan internasional membatasi respon AS atas kondisi di Suriah.